
" Kamu masih ngerokok." Ucap lelaki berdiri di samping Lintang, sedang menunggu Abbas menjemputnya di tempat seperti biasanya.
Lintang menoleh ke samping, melihat siapa yang sedang mengajaknya bicara. Dan kembali melihat ke depan.
" Iya." Jawab Lintang, membuat lelaki berdecak.
" Masih belum bisa berhenti."
" Gak bisa." Ketus Lintang, lagi-lagi membuat lelaki itu berdecak. dan Lintang kembali menolehnya.
" Kenapa? Ada masalah? Gak ngerugiin kamu juga kan?" Sinis Lintang.
" Itu masalah? Dan gak nguntungin buat butuh kamu Lintang!" Tegasnya, membuat Lintang menatapnya datar. Dan Lelaki itu membalas tatapan khawatir. Hingga Lintang kembali membuang muka, menatap jalanan.
" Ngerokok gak baik Lin... Berhentilah merokok." Pintanya, menatap lama wajah Lintang dari samping. " Aku enggak ingin kamu kenapa-napa." Imbuhnya, Lintang menatap kembali lelaki itu.
'Gak ingin kenapa-napa' Seakan kata itu seperti menghawatirkannya. Membuat hati wanita siapa saja pasti akan terenyuh. Apa lagi kata itu keluar dari bibir lelaki.
Lelaki yang selalu membuatnya sebal dan marah. Lelaki yang selalu menguntit dan mengganggunya. Siapa lagi bila bukan Satya. Lelaki menyebalkan dan suka ikut campur dalam kegiatan Lintang.
" Terima kasih, atas perhatiannya. Tapi sorry, ini tubuhku. Terserah aku mau apakan ini." Tunjuknya pada tubuhnya sendiri.
" Oh.. Iya dan tolong, jangan pernah mencampuri tentangku dan apa yang aku ingikan." Peringatan Lintang. tak suka hidupnya di atur oleh orang lain, termasuk lelaki itu, Satya.
Lintang yang sudah melihat motor Abbas mendekat dan berhenti tepat di depannya. Membuat Lintang dengan cepat duduk di atas boncengan Abbas, menatap Satya dengan mata sinis.
" Ayo bas, jalan." Perintah Abbas, belum mengucap atau menyapa teman kakaknya. Lintang sudah menyuruhnya untuk menjalankan motor.
" Duluan Mas." Pamit Abbas pada Satya. membuat Satya mengalihkan tatapannya padanya.
" Iya." Mengangguk tersenyum menjawabnya.
Melihat motor Abbas hingga menghilang, Satya hanya bisa menghela nafas sabar menghadapi perkataan Lintang yang ketus. Gadis itu susah sekali di atur, dan di peringatkan pun tidak pernah di hiraukannya.
Seakan ucapannya, seperti angin berlalu.
Satya sudah tau Lintang merokok, menegur pun juga sudah pernah ia katakan. Dan jawabannya juga sama, ' Jangan mencampuri hidupku.'
Menghembuskan nafas kasar, melangkah ke tempat parkir motornya dan pikirannya selalu terbayang akan Lintang yang merokok di belakang sekolah.
Ya, Satya sengaja mengikuti Lintang hingga gadis itu duduk menyendiri di atas kayu di bawah pohon rindang. Memperhatikan semua pergerakan Lintang, dari gadis itu membuka sebungkus rokok, mengambil batang rokok, menyalakan pematik dan juga mulai menghisap nikotin di bibir mungil Lintang.
Semua Satya perhatikan. Tatapan kacau Lintang dan juga wajah terlihat sangat lesu. Sungguh gadis itu seperti tertekan, tapi entah apa yang membuat bisa sampai berani merusak tubuhnya sendiri. Ya, meskipun itu belum terlihat.
Dirinya laki-laki, tapi tak seperti Lintang yang begitu gampangnya menghisap nikotin. Sedangkan dirinya, sekali menghisao terbatuk-batuk dan sedikit menyebabkan sesak.
Lucu kan? Seakan dunia terbalik saja.
" Mbak... Mas itu siapa sih! Kok nungguin mbak kalau aku selalu jemput." Tanya Abbas.
" Teman Bas."
" Teman apa teman. Kliatannya mas itu suka sama mbak Lintang." Kata Abbas. " Ciye... Baru pindah sekolah udah ada yang suka sama kamu mbak." Imbuhnya setengah meledek Lintang.
Lintang menggetok keras helm Abbas, membuat Abbas mengaduh kesakitan.
" Udah nyetir yang bener, jangan banyak omong." Ucap Lintang.
" Cckk.. Awas, aku bilangin Bunda."
" Oke, Jangan harap aku mau ngajari kamu lagi!" Ancam Lintang, dan Abbas hanya bisa berdecak sebal.
Mempunyai kakak tiri yang pintar, membuat dirinya tak sia-sia akur dan meminta tolong untuk bantu mengerjakan pr sekolah. Dan tak ada lagi remidi-remidi mengikuti temannya yang setengah lemot sepertinya.
Sebenarnya Lintang kakak tiri yang baik, Ya walaupun ucapannya selalu ceplas ceplos dan terkadang menyebalkan juga.
Sampai di rumah, Lintang sedikit mengerutkan kening. Melihat mobil ayahnya terparkir di depan rumah dan juga ada satu mobil di belakang mobil ayahnya.
" Ada tamu mbak? Tumben ayah sudah pulang." Tanya Abbas, membuat Lintang mengangkat bahunya. dan berjalan masuk ke halaman rumah.
Terdengar suara samar-samar ayahnya yang marah-marah entah dengan siapa, dan bundanya yang mencoba menenangkannya. Abbas berjalan cepat masuk ke dalam rumah di Ikuti Lintang yang juga penasaran, akan suara ayahnya yang semakin meninggi.
" Sekarang kamu pergi dari rumahku, Pergi!! Usir teguh.
" Tenang mas.. Tenang?" Saskia, memegang lengan suaminya. mencoba menenangkan Teguh yang terlihat emosi
" Aku gak akan pergi sebelum Lintang datang! " Teriak wanita, juga menentang Teguh dan di cegah seorang lelaki di sampingnya untuk tidak berbuat keributan di rumah orang.
Bila di lihat dan di dengar, wanita itu sudah membuat keributan.
" Ayah, Bunda?" Panggil Abbas, berlari cepat menuju orang tuanya.
" Pergi... sebelum aku menyeret mu Ros! Cepat pergi!"
" Mbak.. Tolong, pergi lah. Saya mohon." Pinta Saskia, menahan Suaminya yang sudah ingin melangkah ke hadapan wanita di depannya itu.
" Ada apa ini Bun? Tante ini siapa." Tanya Abbas, juga ikut menahan ayah tirinya.
" Sudah aku bilang?!! Aku gak akan pergi sebelum bertemu dan membawa Lintang!"
" Gak akan aku biarkan kamu membawa Lintang. Gak akan!" Kata Teguh.
Lintang yang ada di ambang pintu dan melihat dua orang berdebat menyebutkan namanya membeku seketika. Dua orang yang sangat di bencinya dan dua orang yang sudah membuatnya menderita seakan ingin memperebutkannya kembali.
" Lintang?" Lirih Saskia, saat matanya tak sengaja melihat putri tirinya di ambang pintu dan melihat dua orang berseteru.
Teguh yang mendengar seketika diam, dan menoleh ke arah Lintang di ikuti wanita yang juga berseteru dengan Teguh menoleh ke arahnya.
" Lintang?" Lirih wanita itu, dengan senyum yang mengembang.
" Cepat masuk ke kamar Lintang." Perintah Teguh, membuat Wanita yang bernama rosa menoleh ke arahnya dengan tajam. Dan Berjalan cepat menuju Lintang.
" Lintang?" Panggil Rosa senang.
Teguh yang melihatnya, segera berjalan menuju Lintang tapi di tahan oleh lelaki yang bersama dengan Rosa. Tatapan ke dua lelaki dewasa itu saling tajam, Hingga Saskia yang melihatnya segera menengahinya dan tidak ingin terjadi perkelahian di antara mereka. apa lagi saat ini ada anak-anak pulang dari sekolah.
" Lintang?" Panggilnya kembali.
Kini tepat di hadapannya dan tangan rosa terangkat, ingin menyentuh pipinya. Tapi Lintang justru melangkah mundur, menangkis jarak di antara dirinya dan wanita itu yang ternyata mamanya.
Orang ke dua yang di bencinya setelah ayahnya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃🍃