One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Bersiteru Adrian Aida.



Malam telah tiba, Adrian mengerjap-rejapkan matanya. Tersadar Siska sudah tidak ada di dalam hotel, ia segera mengambil ponselnya dan terlihat ada pesan.


"*Aku mencintaimu sayang, besok kita makan siang bareng di kantin"


Siska*.


Adrian mendengus kesal setelah tahu pesan teks yang sangat menyebalkan baginya. Ia pun segera membersihkan dirinya untuk pulang ke rumah. Adrian hampir lupa, malam ini dia harus pindah ke rumah Aida untuk tinggal di sana.


Sementara di rumah Aida merasa senang mendengar Amira sudah mengandung dua Minggu. Sungguh ini kabar bahagia baginya juga Darren, sebentar lagi Aida akan mendapatkan seorang Adik.


"Sayang, kamu tunggulah dulu di sini, Adrian sebentar lagi akan datang. Oh, iya. Maaf banget Mamah tidak bisa menemuinya malam ini, keadaan Mamah sangat buruk saat ini. Titip salam buat Adrian," seru Amira mengecup kepala Putrinya.


"Tidak apa-apa Mah, lebih baik istirahat yang cukup jaga kesehatan biar bayi yang ada di kandungan Mamah sehat," sahut Aida tersenyum.


Dirinya pun duduk manis di sofa sambil memainkan ponsel saling melempar pesan bersama Anis. Sudah jam sebelas malam, ia pun beranjak untuk tidur. Tapi, suara mobil di depan menandakan bahwa Adrian sudah tiba di rumahnya. Aida mendengus kesal, karena harus menunjukan kamar yang akan di tempati Adrian.


Tiga menit kemudian, Adrian di bantu satpam membawa kopernya. Senyuman licik ada di raut wajahnya, Adrian pun menghampiri Aida yang tengah menatap tajam.


"Malam yang sangat indah. Namun, di rusak oleh wajah jelekmu," ejek Adrian membuat Aida marah. Ia pun menghampiri Adrian sambil mengepalkan tangannya.


"Pak, biarkan koper ini Adrian yang bawa ke kamarnya. Jangan memanjakan orang lain di rumah ini," seru Aida. Pak Satpam pun hanya bisa diam karena bingung untuk menolaknya.


"Tidak, kau harus mengantarkan koperku ke dalam kamar," sahut Adrian kepada Pak Satpam.


"Nggak, kau yang harus membawa koper sialan ini ke kamarmu sendiri," dengus Aida.


"Kau ini! Tidak, bawa koperku atau uang yang sudah aku kasih balikin lagi hah!" Kesal Adrian membuat Pak Satpam menurutinya sambil membawa ke atas.


"Malam ini kau kalah, dengar tidak ada yang menolak perintahku," seru Adrian meninggalkan Aida yang masih berdiri. Tidak lama, Aida menghalangi kakinya agar Adrian terjatuh.


Bugh.


Adrian terjatuh ke lantai, Aida hanya bisa terkekeh dan segera meninggalkannya. Adrian hanya bisa berdecak kesal akibat ulah calon tunangannya malam ini dia dikerjai olehnya.


Di dalam kamar Aida tidak berhenti tertawa sambil duduk. Pintunya di ketuk oleh seseorang membuat Aida berhenti dan segera membukanya.


"Kamu," pekik Aida yang ternyata Adrian'lah yang mengetuk pintu kamarnya. Adrian segera menerobos masuk ke dalam kamar, merasa puas ia pun tiduran di tempat tidur Aida dengan angkuh.


"Pergi dari kamarku, dari mana kau tahu ini adalah kamarku?" Tanya Aida memincingkan matanya sambil menujuk kesal.


"Aku punya mata-mata di rumah ini, sehingga aku tahu di mana kamarmu," sahut Adrian memejamkan matanya.


Aida kesal ia pun segera membuka pintu dan mengunci kamarnya dari luar. Adrian kalah cepat dan berdecak kesal, lagi-lagi dia kalah lagi sama Aida.


"Sialan, awas saja besok apa yang akan aku lakukan wanita sialan!" Dengus Adrian kembali merebahkan tubuhnya. Tidak sengaja Adrian melihat photo yang terpajang di meja belajar. Photo itu terlihat cantik dan anggun, membuat Adrian mengambilnya sambil tersenyum.


Di luar kamar, Aida merasa kesal, ia pun membuka pintu kamarnya kembali dan terlihat Adrian sedang memegang photo dirinya. Aida segera berlari kecil dan mengambil photo itu dari tangan Adrian.


"Kau tidak berhak melihat isi kamarku, sekarang kamu pergi," pekik Aida. Adrian pun sudah merasa ngantuk dan segera pergi dari kamar Aida.


"Besok lihat apa yang akan aku lakukan padamu," bisik Adrian membuat Aida kesal.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.