One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Kebusukan Mamih Sonya



"Kau istirahatlah Adrian, setelah makan dan minum obat kau tidurlah itu bisa membuat tubuhmu lebih segar. Aku akan kembali setelah memberikan resep obat kepada Aida," ujar Dokter Wiliam.


"Terima kasih Dokter," ucap Adrian berbaring di tempat tidur pasien.


Wiliam tersenyum dan segera keluar untuk memberikan resep obat pada Aida. Dia melihat Aida duduk di dekat pintu ruangan, Wiliam pun tersenyum untuk segera menghampirinya.


"Aida, resep obat ini kau tebus untuk mengeringkan bekas luka juga supaya menghilangkan rasa nyeri di bagian lukanya," saran Dokter segera di angguki oleh Aida. Tanpa bicara sedikit pun Aida berjalan menuju apotik.


Dirinya masih memikirkan siapa pria yang menolongnya. Apakah Adrian tahu pria misterius itu atau itu hanya kebetulan saja tamu yang datang. Aida pun segera menepis rasa penasarannya, tidak pernah di bayangkan kejadian yang membuat Aida merasa ngeri di buatnya di tambah mengingat darah mengalir dari tangan suaminya.


"Siapa pria itu, aku akan menanyakan kepada Adrian," ujarnya sambil berjalan menuju apotik.


Di kantor polisi.


Mamih Sonya duduk manis karena merasa dirinya tidak bersalah sedikit pun. Ia hanya menjawab Ya dan tidak kepada polisi yang memberinya pertanyaan.


"Bebaskan aku, sudah jelas aku tidak bersalah, lagian itu rumahku juga Pak," bela Sonya duduk tumpang kaki.


"Maaf, Nyonya. Saya rasa anda seperti orang sakit jiwa," celetuk salah satu polisi yang duduk di sebelahnya.


"Kau ini sudah menuduhku yang bukan-bukan. dan sekarang kalian menuduhku sakit jiwa, maaf saya tidak ada waktu untuk berbicara pada kalian. Membuang-buang waktu'ku saja," ketus Mamih Sonya. Para polisi hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya. Setelah intrograsi selesai, Mamih Sonya segera membayar denda untuk menyogok para polisi.


Dirinya segera keluar dan melajukan mobil yang telah dia sediakan untuk menjemputnya. Mamih Sonya akan segera menyelidiki pria misterius yang sigap menyelamatkan Aida juga Adrian.


"Sekarang bukan Aida lagi yang aku incar, tapi Adrian. Dia pria yang selalu membela anakku selain Tama, dia juga menjadi penghalang rencana pembunuhan'ku pada Aida," gesar Mamih Sonya segera melajukan mobilnya ke tempat yang tidak pernah orang lain tahu.


Dia ke rumah yang berukuran minimalis, seorang pria telah menunggunya setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Ia menuruni mobil untuk bergegas masuk ke dalam rumah tersebut. Pintu-nya ia ketuk dan segeralah pria cukup tampan segera membukanya.


Mamih Sonya tampak senang karena mereka akhirnya bertemu kembali, setelah dua Minggu pria itu pergi keluar negri.


"Aku sangat merindukanmu sayang," ucap Mamih Sonya segera memeluk pria itu yang bernama Erik yang tidak lain teman suaminya sendiri.


"Aku ingin segera memuaskanmu malam ini," bisik Erik dengan suara beratnya.


Mamih Sonya pun duduk di pangkuan Erik dan mengambil gelas kecil yang dia pegang. Dia menaruhnya di atas meja dan segera menatap penuh hasrat pada Erik. Selingkuhan-nya yang selalu memuaskannya. Tidak lama, Mamih Sonya membelai wajah Erik dengan seksama, dia meraba dad* gagahnya dengan sangat lembut.


****


Aida datang membuka pintu ruangan, terdapat Adrian sedang makan-makanan yang di sediakan oleh pihak rumah sakit. Aida tersenyum manis dan segera meletakkan obat itu di meja kecil. Ia segera menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan suaminya.


"Sini, biar aku yang akan menyuapimu," ucap Aida merebut mangkuk yang ada di tangan Adrian.


"Maafkan aku," ucapnya lirih.


"Untuk apa?" tanya Aida sambil menyuapi suaminya.


"Gara-gara aku tertembak aku tidak bisa melindungimu," sahutnya dengan nada kecil.


"Kau terluka sayang, itu tandanya suamiku ini sangat hebat telah melindungi'ku dari orang jahat. Ini semua salahku, gara-gara aku semuanya terjadi dan kau pun terluka karena'ku," ucap lirih Aida memandang wajah suaminya.


"Apa pun akan aku lakukan untukmu," seru Adrian mencium sekilas bibir istrinya membuat Aida tercengang.


"Sayang, apa kau ingat, siapa pria yang telah membawa kita keluar! Apa kau ingat siapa dia?" Tanya Aida sedikit menyelidik.


Adrian tampak gugup untuk menjawab pertanyaan istrinya.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.