
Pulang sekolah, seperti biasa, Aida berpisah di luar gerbang bersama sahabatnya Anis. Aida masih menunggu Kang Supir untuk menjemputnya, walaupun kadang telat tapi, Aida tidak pernah marah akan hal itu. Tama datang menghampiri Aida, sesaat dia melihat dua bodyguardnya terus memperhatikan gerak-geriknya, sehingga Tama hanya menyapa setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Aida, Kakak duluan yah," ucap Tama sambil tersenyum. Aida hanya mengangguk dan melambaikan tangannya. Adrian datang bersama Siksa, mereka akan pergi menuju hotel yang telah Adrian boking. Aida hanya memutar bola matanya malas melihat kemesraan mereka di dalam mobil mewahnya. Sudah biasa bagi mereka bermesaraan di tempat umum karena banyak siswi yang mengagum-ngagumkan ketampanan Adrian.
"Dasar si cunguk tidak tau diri," gesar Aida merasa muak melihat mereka. Setelah mobil Adrian berlalu dari hadapannya, kini mobil putih berhenti di hadapan dirinya yang kini masih menunggu Kang Supir. Pintu mobil itu terbuka dan terlihat wanita paruh baya berparas cantik. Namun, terkesan elegant dan rapih.
"Apa kau yang bernama Aida?" Tanya Mamih Sonya. Aida hanya tersenyum ramah padanya.
"Iya Tante, salam kenal," ujar Aida mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.
"Tidak perlu kau bersikap ramah padaku, mulai besok dan seterusnya berhenti untuk mendekati anakku Tama. Kalau kau masih mendekatinya lihat saja apa yang saya lakukan padamu. Oh iya, satu lagi aku tidak sudi bersalaman sama anak wanita malam," seru Mamih Sonya menghina dan berlalu pergi.
Aida hanya diam, air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Sehina itukah dirinya di hadapan semua orang dan menyalahkannya juga menuduhnya sebagai wanita malam.
"Apakah aku sehina ini," senyum getir Aida mengusap air matanya yang mulai tumpah.
Kang Supir pun datang dan segera meminta maaf kepada Aida.
"Non, maaf, tadi ban mobilnya bocor jadi Saya pergi ke bengkel dulu," ucap Kang Supir meminta maaf kepada Aida.
"Tidak masalah, ayo kita pulang," ujar Aida menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak mau Kang Supir tahu karena akan mengadu pada Darren Papahnya. Aida tidak mau membuat hati Papahnya khawatir tentangnya.
Di Hotel.
Adrian duduk di tepi ranjang, ia masih menatap lekat tubuh seksi yang di miliki Siska. Adrian segera mengambil minuman di atas meja kecil dan segera menghampiri Siksa.
"Apa kau sudah meminum obatnya?" Tanya Adrian sambil menci*m pundak Siska sehingga Siska merasakan bulu kuduknya mulai merinding.
Mereka pun melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum mereka melakukan lebih jauh. Adrian sangat puas karena Siska begitu lihai dalam berhubungan badan.
"Adrian, bolehkah aku mencintaimu," bisik Siska. Namun, tidak di hiraukan olehnya karena Adrian tidak mau mengikat perasaan kepada orang yang pernah tidur dengannya.
"Lebih baik kita fokus dengan permainan kita saja," sahut Adrian segera menghujam Siska. Tangannya meremas kepala Adrian sehingga mereka terengah. Erangan di kamar hotel itu terdengar indah, dua remaja itu saling memadu kasih. Sudah hal biasa Adrian sering meniduri adik kelas atau Kakak kelasnya karena dari SMP Adrian sudah menjadi Casanova.
"Kau sangat gagah, aku suka ini, berbeda dengan yang lain," ujar Siska masih terengah dalam permainannya. Sudah satu kali pelepasan akan tetapi mereka tidak puas sehingga dua ronde mereka melakukannya lagi.
Hari mulai gelap, Siska segera bergegas membereskan baju yang sudah berantakan. Sedangkan Adrian masih tidur lelap akibat kecapean.
"Aku cinta kamu Adrian," ucap Siska mencium bib*r Adrian dan berlalu pergi dari kamar hotel.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5