One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Perasaan



"Lepasin Adrian," pekik Aida menghempaskan tangan Adrian. Aida berlenggang pergi meninggalkannya di tempat parkir.


"Kenapa dia susah sekali untuk aku dapatkan," kesal Adrian.


Sementara itu Adrian terus membuntuti Aida dari arah belakang. Ia tidak ingin tunangannya itu diganggu Pria lain yang ada di dalam mall. Tanpa Adrian sadari dirinya sudah mulai perhatian dan tidak mau kehilangan Aida dalam hidupnya. Mungkin dirinya sudah mulai lupa sama dendam yang dia rancang sendiri.


"Adrian, aku bilang kau pergilah, cari kesibukan sendiri. Aku mau sendiri dan tidak mau di ganggu orang lain," kesal Aida menatap tajam. Tapi ancamannya tidak Adrian hiraukan, ia terus membuntuti ke mana Aida melangkah pergi.


Akhirnya Aida tiba di tempat makanan Jepang yang ada di mall. Ia duduk di kursi dan segera memesan minuman juga makanan, padahal baru saja dia makan di restoran, karena tidak nafsu makan mengingat Tama sudah mau menikah dengan Anis. Ia tidak nafsu untuk makan hanya minum saja, dan sekarang dirinya kelaparan, Aida memutuskan untuk memesan makanan Jepang yaitu sukiyaki.


Aida duduk termenung, mengingat bagaimana Anis sangat menyayangi Tama lebih dari dirinya. Aida sadar cinta sahabatnya itu sangatlah berarti untuk Tama, sehingga ia memutuskan untuk menjauhi Tama, mulai hari ini Aida akan membeli kartu ponsel baru.


"Aida, mohon maafkan aku? Tapi tolong lihatlah aku yang selalu menunggumu. Aku tahu kamu mencintai Tama benarkan?" Selidik Adrian duduk di depannya. Aida hanya memutar bola matanya malas, setelah itu ia fokus kembali memainkan ponselnya.


Pesanan yang Aida pesan sudah datang, ia segera menyantap tanpa menghiraukan ucapan Adrian. Aida terlihat asyik sendiri, Adrian hanya bisa duduk diam melihat betapa rakusnya Aida melahap habis makanan yang ada di depannya.


"Kalau makan itu hati-hati jangan sampai blepotan begini," ujar Adrian memberi perhatian sambil mengusap noda makanan di pinggir bibir Aida. Jempol tangannya segera mengusap lembut, sambil terus menatap wajah cantik calon Istrinya. Baru kali ini Aida merasa sangat di perhatikan oleh Pria, melihat wajah tampan yang ada di depannya Aida segera memalingkan wajahnya.


"Sadarlah Aida, Pria ini hanya memanfaatkan'mu saja," batin Aida.


"Aku tidak butuh perhatianmu, kau sudah tahu aku menyukai Pria lain. Tinggalkan aku Adrian please," ujar Aida ia segera meminum air mineral yang ada di hadapannya. Setelah itu ia segera membayarnya dan langsung beranjak pergi. Adrian terus mengikuti Aida ke mana pun Aida berjalan Adrian akan terus membuntutinya dari belakang.


"Aku tahu kau mencintai Tama, tapi buka hatimu untuk Pria lain sepertiku," pekik Adrian. Aida berhenti berjalan, setelah itu ia membalikan tubuhnya, ia menatap Pria yang saat ini ada di hadapannya.


"Kau tidak mencintaiku Adrian, cintamu palsu kau hanya menipu keluargaku. Setelah dendammu terbayar kau akan mencampakkan'ku, setelah itu kau akan pergi benarkan Adrian yang aku bilang itu," seru Aida. Tanpa menunggu jawaban dari Adrian, Aida segera masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkannya.


Di dalam mobil ia menangis, sudah delapan tahun Aida berusaha untuk melupakan cinta monyetnya. Tapi apa yang dia dapat, hanya batin yang tersiksa, tidak bisa menghapus rasa cintanya kepada Tama. Dirinya segera pergi ke arah Bar, di mana semua orang menghabiskan waktunya untuk menghibur dirinya yang sedang stres seperti Aida.


Aida duduk terdiam sebelum dia masuk ke dalam. Setelah itu, ia menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Aida langsung membuka pintu mobil dan berjalan menuju ke dalam membawa rasa sakit di hatinya. Dirinya pun langsung duduk di kursi dan segera memesan minuman. Mungkin hidup di luar negeri membuat pergaulan Aida bebas, tapi ia masih bisa menahan dan menjaga kehormatannya untuk tidak bisa di sentuh oleh Pria luar. Aida menghabiskan dua gelas minuman, matanya sudah berkunang-kunang. Sepertinya Aida sudah kehilangan kendali, ia merasa pusing dan memijit kepala dengan kedua tangannya. Berusaha untuk berjalan, tapi Aida terjatuh ke lantai. Ia bangkit lagi untuk duduk kembali tidak lama Aida pun menidurkan kepalanya di atas meja mini bar.


"Kak Tama," gumam Aida.


"Aida, kenapa kau mabuk begini," ucap Tama merangkul untuk membawa Aida ke luar Bar. Aida terbangun setelah itu ia melihat Tama untuk membantunya bediri.


"Kau, sudahlah kau pergi saja aku tidak mencintaimu lagi Kak Tama," ujar Aida masih dalam suasana mabuknya. Tubuhnya lemah sehingga Tama hanya bisa membawa Aida ke sofa untuk memberikan air putih.


"Aida kau mabuk berat," seru Tama membaringkan tubuh Aida di atas sofa. Aida segera memeluk erat tubuh Tama.


Orang lain hanya melihat mereka sekilas, Tama benar-benar tidak mengerti kenapa Aida menjadi seperti ini. Tadi siang ia terlihat baik-baik saja, tapi setelah bertemu di bar Aida terlihat sangat kacau.


"Aku mencintaimu, tapi cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Delapan tahun aku memendam perasaan ini padamu Kak, tapi Kak Tama tidak mencintaiku, sekarang kalian akan menikah, aku baru tahu Kak Tama di jodohkan dengan sahabatku sendiri hahahha. Aku hanya orang yang akan merusak hubunganmu saja pergilah," ucap Aida dalam mabuk beratnya.


Tatapan mereka bertemu, Aida tertawa kecil, ia membelai wajah tampan Tama setelah itu ia menci*m pipinya sekilas. Tama merasa sakit hati setelah mengetahui bahwa Aida juga mencintainya sejak dulu. Tama masih memeluk Aida dalam dekapannya, ia terus menatap wajah cantik wanita itu, setelah itu dirinya memberikan minum agar Aida segera sadar.


Tiba-tiba saja seseorang segera memisahkan mereka berdua.


"Kau, dasar wanita jala*ng! Tidak jauh berbeda dari orangtuamu," pekik Mamih Sonya memisahkan mereka berdua.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING.