One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Tatapan.



Di dalam kamar, Aida melihat ke arah cermin, penampilannya begitu sempurna hanya menggunakan make up tipis lipstik tipis pun sudah sangat cantik. Dirinya segera mengambil tas kecil miliknya dan berlalu pergi. Aida menuruni anak tangga ia segera berjalan menuju pintu utama dan memarkiran mobil miliknya hadiah kado dari Darren juga Amira di hari ulang tahunnya.


Sementara Anis sudah tiba di tujuan, dia segera memesan jus jeruk untuk menghilangkan rasa dahaga di tenggorokannya. Tama pun datang menyapa Sang tunangan, sampai saat ini Tama belum bisa mencintai Anis. Ia masih berharap Aida bisa dia miliki walaupun kenyataannya mustahil.


"Maaf mengganggu," ujar Tama. Anis segera melihat ke arah sumber suara, baginya sudah tidak asing mereka pergi tidak pernah satu mobil. Dan sekarang pun Anis lebih dulu di banding Tama.


"Tidak, baru sampai sepuluh menit yang lalu, Kakak mau pesan minuman?" Tanya Anis.


"Tidak, nanti saja," ujar Tama datar. Tidak lama sesudah Tama duduk Aida datang, dia berdiri di depan pintu restoran. Matanya mengedarkan pandangan untuk mencari sosok sahabat sejatinya. Semua orang memandang ke arah pintu yang kini Aida sedang berdiri, mereka melihat kagum bagai bidadari yang turun dari langit Aida begitu cantik. Semua orang menatap tanpa berkedip termasuk semua Pria yang melihatnya berjalan santai ke arah meja yang Anis duduki. Anis sungguh tidak percaya sahabatnya sudah dewasa dengan tampilan yang bisa membuat mata seluruh penghuni restoran tertuju padanya.


"Aida," pekik Anis melambaikan tangannya.


Deg.


Jantung Tama berdegup kencang disaat Anis memanggil nama pujaan hatinya. Tama segera membalikan tubuhnya dan melihat orang yang di panggil oleh tunangannya itu adalah Aida. Cinta pertamanya di masa sekolah dulu.


"Aida," gumamnya sambil mengatur deburan jantung.


Aida tersenyum manis, dirinya segera memeluk Anis dengan sangat erat hingga tidak sadar ada Tama yang sedang memperhatikan dirinya dari ujung rambut sampai kaki.


"Apa kabar kamu?" Tanya Aida sambil terus memeluk. Komunikasi dengan Anis hanya sekedar lewat Whatshap, itu pun sangat jarang karena keduanya sibuk dengan dunianya sendiri.


"Aku baik, kau sangat cantik, rinduku sangat banyak padamu," seru Anis. Tama mengatur nafasnya pelan deburan jantungnya semakin memuncak, setelah itu menetralkan agar tidak di curigai Anis. Ia membuyarkan keseruan dua wanita yang ada di hadapannya.


"Kalian melupakan Pria yang ada di sebelah kalian," ujar Tama tersenyum.


Deg.


Aida tercengang setelah mendengar siapa yang bertanya padanya. Terlihat jelas wajah tampan Tama sedang tersenyum kikuk ke arahnya. Aida masih menatap tidak berkedip membuat Anis heran sama mereka berdua.


Tama mengulurkan tangannya, Aida jadi kikuk juga tidak tahu Anis bakalan membawa Tama ke pertemuan pertama mereka setelah delapan tahun lalu.


"Hai, Kak Tama," ucap Aida mengulurkan tangannya tersenyum manis. Tangan Tama mengeratkan kepalannya, menandakan rindu yang ada di hati Tama saat ini pada Aida. Wanita yang telah membuat dirinya jatuh cinta sampai saat ini, walaupun dia belum pernah mengatakan cintanya akan tetapi Tama masih berharap Aida juga memiliki perasaan yang sama untuknya.


Aida segera melepaskan uluran tangannya, tatapan Tama seakan tidak mau lepas. Namun, dia sadar bahwa ada Anis yang sedang melihat interaksi mereka berdua.


"Aku senang sekali bertemu kalian berdua, ngomong-ngomong selamat untuk kalian, jangan lupa undang aku bila kalian menikah nanti," ucap Aida. Padahal dalam hatinya sangat sakit, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan setelah sekian lama Aida membuang perasaannya untuk Kakak kelasnya. Andai Aida tahu bahwa Tama juga mencintainya sejak awal dia melihatnya.


"Terima kasih, semoga kamu segera mendapatkan pendamping seperti aku," seru Anis. Pertunangannya dengan Adrian berhasil mereka sembunyikan, tidak termasuk Siska dia sudah tahu akan hal itu.


"Aamiin, semoga secepatnya aku mendapatkan calon suami. Tapi, aku mau fokus sama kuliahku dulu Nis, rasanya ingin menikmati masa muda terlebih dahulu," sahut Aida.


"Apakah kamu benar belum punya calon Aida," batin Tama.


"Oh, ia. Besok malam ada reuni sekolah kita, aku bawa undangannya, semua alumni yang sudah pernah sekolah disana di undang termasuk kamu Aida. Ini aku sudah membawa kartu undangan untuk kamu, jangan lupa bawa pasangan hahahah," seru Anis mengejek.


"Kamu ini bisa saja, oke baiklah besok aku akan hadir di acara spesial ini," ujar Aida. Tama masih terus memandang Aida, tanpa dia sadari Anis merasa curiga dengan tatapannya kepada Aida. Memang ia tahu Tama pernah dekat dengan sahabatnya ini tapi, Tama tidak pernah mengatakan cinta atau sayang pada Aida. Maka dari itu Anis menganggap Tama hanya menjadikan Aida sebagai adik kelas semata tanpa ada rasa di antara mereka berdua.


Di kursi lain, Adrian terus memperhatikan gerak-gerik calon Istrinya dengan memakai topi hitam untuk menyembunyikan jati dirinya agar tidak ada yang curiga padanya.


"Sial, si Tama cari kesempatan menatap terus tunanganku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan di acara besok malam bersama Aida," seru Adrian mengepal geram ke arah mereka bertiga.



Anis.



Tama.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.