One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Restoran



Setelah pertemuanya dengan Tama, Aida membawa raut wajah kecewa dari dalam dirinya. Anis pun datang menghampiri Aida yang sudah tiba dan terlihat sudah duduk di kursi. Melihat Anis datang menghampirinya Aida tersenyum menyembunyikan rasa kecewa di hatinya.


"Kenapa aku melow begini, toh Kak Tama saja tidak mengatakan cintanya padaku. Mungkin aku hanya baper saja padanya, syukur Anis mendapatkan Kak Tama yang lebih baik dari segalanya," batin Aida.


"Kamu gak ke kantin?" Tanya Anis duduk di sebelah Aida.


"Aku belum lapar, nanti saja pulang sekolah aku mau keliling cari makanan," ujar Aida tersenyum. Tidak lama, bel masuk sudah tiba menandakan akan segera datang guru mengajar.


Dua jam telah berlalu.


Semua murid sudah di pulangkan dan sekarang Aida seperti biasa menunggu Kang Supir menjemputnya. Langkah kaki gontay itu terus berjalan ke arah gerbang, terdengar suara mobil dari arah belakang Aida segera menggeser ke pinggir jalan. Tatapannya hanya menunjuk sambil memegangi tas yang dia gendong.


"Cepat masuk," pekik Adrian. Aida yang masih belum sadar Adrian menyuruhnya masuk tetap diam tidak bergeming.


Karena kesal, Adrian segera keluar untuk mengajaknya masuk dan langsung menarik lengan Aida agar dirinya masuk ke dalam mobil mewahnya. Tama yang melihat semuanya hanya bisa memukul stir mobilnya dengan nafas penuh emosi.


"Adrian kamu," geram Tama masih menatap mereka berdua yang kini masih ada di hadapan mobilnya.


Aida tersadar mobil yang di belakang Adrian milik Tama. Ia pun hanya melirik sekilas dan segera masuk ke dalam mobil.


"Ada apa?" Tanya Aida. Mobil pun melaju, Adrian sengaja mengajak Aida satu mobil dengannya. Melihat Tama ada di belakang mobilnya dan terus memperhatikan Aida, Adrian pun dengan sengaja mengajak Aida pulang bersama.


"Kamu ikut makan siang denganku! Oh iya, ada hubungan apa kamu sama si Tama?" Ketus Adrian masih menyetir dan fokus ke arah depan.


"Itu bukan urusanmu," sahut Aida memalingkan wajahnya ke luar jendela. Hatinya masih sakit saat tahu Tama yang dia cintai dijodohkan dengan orang lain. Ia sadar cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, mungkin Aida tidak akan memikirkan cinta lagi untuk kedepannya.


"Ternyata begini yah patah hati itu," batin Aida sedih.


"Woi!! Kamu kenapa bengong, kita sudah sampai di restoran," ujar Adrian keluar dari mobil. Aida hanya menghembuskan nafasnya berat ia pun membuka pintu mobil dan berjalan mengikuti Adrian.


"Tumben sekali kamu mengajakku makan ke sini?" Ujar Aida.


"Jangan banyak tanya, sudah masuk saja ada yang mau aku omongin sama kamu," sahut Adrian segera menggandeng tangan Aida. Sebelumnya Adrian sudah memesan tempat VVIP di restoran megah. Ia membawa Aida ke tempat privat mewah juga terlihat sangat nyaman. Aida hanya bisa bengong melihat restoran mewah, ini karena kali pertama Aida menginjakan kaki-nya ke restoran mewah.


Aida duduk dengan kakunya ia hanya bisa senyum kecil. Adrian yang melihatnya hanya tersenyum sampul, setelah itu ia menarik tangan Aida. Sehingga mereka beradu pandang, tubuh Aida jatuh di pangkuan Adrian. Jantung mereka berpacu kencang, mereka tidak sadar pintu itu di ketuk oleh salah seorang waiterss.


"Cepat, apa yang mau kamu katakan padaku?" Tanya ketus Aida.


"Begini, aku tahu kamu menyukai Tama, Aida jadi cewek itu jangan gampang baper mana mungkin si Tama itu menyukaimu. Kamu bukan level dia, hahaha sudahlah lupakan kita nikmati saja makan siang kita berdua," ujar Adrian.


Adrian sengaja mengajak makan siang bersama hanya untuk melihat dan membahas Tama di depannya. Ia tahu Aida juga Tama mempunyai perasaan yang sama, sehingga dirinya bisa membuat senjata kedua buat Aida.


"Dengar Aida, kalau kamu berani menolak pertunangan palsu kita. Aku akan bongkar bahwa kamu mencintai calon suami Anis," seru Adrian tersenyum kecut. Aida yang mendengar hanya tercengang, setelah Adrian mengetahui semuanya.


"Kau!"


Tiba-tiba Siska datang, ia segera memeluk erat Adrian di depannya. Tidak lama pelukan itu menjadi cium*n mereka berdua membuat Aida kesal dan muak. Kini Siska berada di pelukan Adrian, tidak di sangka Aida ke sini hanya untuk menjadi nyamuk mereka berdua saja.


"Kalau kalian mau mes*m jangan ajak aku ke sini," ujar Aida. Ia pun segera berdiri dan pergi meninggalkan restoran mewah itu. Siska melarang Adrian mengejar Aida, mereka pun melanjutkan kegiatan panasnya tanpa memperdulikan Aida yang sudah berlari.


"Kenapa denganku hari ini benar-benar sial, setelah patah hati sekarang aku di jebak oleh kedua manusia yang tidak berakal itu," ucap tangis Aida lari keluar restoran.


Bugh.


Dengan kecepatan juga hujan lebat, Aida tertabrak mobil hingga terhempas. Darah segar bercucuran dari hidung mulut. Membuat semua orang yang melihatnya berteriak dari dalam restoran.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5