One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Kecemasan Amira



Jam 9 telah berlalu, Aida sudah menyiapkan makanan lezat buat mereka berdua yang baru saja bangun. Pelayan hotel sudah mengantarkan pesanan kepada ke kamarnya. Walaupun sudah bangun jam setengah enam pagi efek kesiangan tapi, Adrian dan Aida segera membersihkan diri dan menunaikan ibadah bersama. Tapi Adrian tumbang kembali, tidur sambil mengajak istrinya, karena tidak ada aktivitas juga kepalanya masih puyeng efek tidur sebentar mereka kembali memejamkan mata lelap dan saling berpelukan.


Flashback.


"Aku sangat bahagia bisa bersamamu, aku mau berkata jujur, cuma bukan waktu yang tepat untuk hari ini," ucap Adrian memeluk hangat di bawah selimbut bersama istrinya.


"Jujur tentang apa, aku tidak mau ada rahasia-rahasia di antara kita berdua oke," gerutu Aida memanyunkan bibirnya.


"Tapi bukan sekarang, ini juga bukan masalah besar. Aku janji tidak ada rahasia apapun dariku, apa kau percaya?" Tanya Adrian sambil menutup mulutnya akibat menguap, matanya sudah lima wat ia pun langsung tertidur.


"Dasar! kau sangat tampan saat tertidur," ucap Aida ia segera mencium pipi suaminya. Mata Adrian terbuka dan segera menci*m habis bibir ranum istrinya.


"Kau licik, aku kira kau sudah tidur," seru Aida menahan malu pipinya merah merona setelah melempaskan cium*nnya.


"Aku juga tadi dengar kau bilang aku tampan hahha," timpal Adrian. Mereka pun becanda ria di atas tempat tidur.


"Main lagi ayo?" Ajak Adrian.


"Kau ini hah," Aida merasa malu. Aksi Adrian lun di mulai kembali melakukan tugasnya sebagai suami.


Sarapan pagi mereka di banjiri keringat di atas tempat tidur. Bagi pengantin baru kek mereka sama sekali tidak ada kata cape atau bosan.


***


Amira kedatangan Dokter Wiliam pagi ini. Ia menaiki anak tangga untuk memeriksa Amira yang kini ada di kamarnya di jaga oleh kedua asisten rumahnya. Darren masih sibuk menyiapkan diri untuk meeting penting bersama clien barunya.


Sebelum beranjak menaiki anak tangga, matanya tertuju pada photo yang terpang-pang di atas meja dekat lemari hias. Ia tertuju kepada gadis yang masih memakai baju seragam SMP bersama Aida.


"Wanita ini, cantik sekali, wajahnya sangat mirip Soraya. Hmm ... jadi dia satu sekolah sama Aida, semakin penasaran sama wanita itu," ucap Dokter Wiliam. Tidak lupa ia segera memotret photo Anis rambutnya di kucir kuda sambil memperlihatkan jarinya lagi pose Vist.


Setelah tiba di depan kamar Amira, ia segera mengetuk pintu kamar dan terbukalah pintu itu langsung di sambut oleh asistennya.


"Silahkan masuk Dok," ucapnya.


"Kau terlihat pucat, apa sudah meminum obat yang saya anjurkan?" Tanya Dokter Wiliam sambil mengeluarkan alat tensi.


"Anda tidak perlu khawatir Dok, saya baik-baik saja. Aku tidak tahu penyakitku apakah akan sembuh atau tidak! Aku hanya takut tidak bisa menyelamatkan kandunganku. Aku harus memperjuangkan bayiku Dok," ucap Amira meneteskan air mata.


Walaupun hatinya sangat rapuh, Amira tidak mau terlihat lemah oleh suaminya. Sebisa mungkin ia harus terlihat tegar, demi suami juga keluarganya agar tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Yakinlah, penyakitmu ini akan segera sembuh kembali, oh iya, jadwal untuk pergi keluar negri di percepat. Kalau tidak keberatan dan lebih cepat lebih baik, tiga hari lagi kau harus pergi ke luar negri," sahut Wiliam.


"Tidak masalah, asal pengobatannya tidak membuat bayiku kenapa-napa. Aku sangat ingin dia lahir kedunia ini," seru Amira. Dokter Wiliam salut pada Amira walaupun lagi sakit keras tapi ia sangat ingin melahirkan anaknya.


"Percayalah, suamimu sangat mencintaimu. Dia akan melakukan hal apapun untukmu juga anakmu," ucap Wiliam. Amira tersenyum, walaupun Wiliam duda tapi dia sangat bijak menangapi pasangan hidup orang lain.


"Aku sendiri masih memikirkan masa depanku dengan siapa. Semenjak kepergian Soraya, aku masih trauma melihat orang yang mau melahirkan," ujarnya.


"Inn Syaa Allah Dok, istrimu masuk surga, dia meninggal lagi berjuang melahirkan anakmu. Aku tahu kau sangat terpukul sama kepergian istrimu, tapi untuk menata hidup baru kau harus sudah siap," nasehat Amira. Dokter Wiliam terdiam, ia memikirkan Anis wajah wanita itu sangat mirip dengan Alm. Istrinya Soraya.


"Dok, kenapa kok melamun?" Tanya Amira.


"Ahh, tidak lupakan. Aku akan segera memeriksamu segera," ucap Dokter Wiliam.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.