
Pak Wisnu Papah dari Tama pergi ke kantor polisi mengunjungi istrinya yang sedang di penjara. Dua hari sudah dia di kurung akibat ulahnya sendiri, setelah tahu kebenaran mengenai kematian Nancy membuat Wisnu syok berat.
Mamih Sonya duduk berhadapan dengan suaminya. Ia hanya memutar bola matanya malas, tidak ada penyesalan dalam dirinya ia hanya puas sudah menghancurkan keluarga Aida.
"Mih, Papih tidak menyangka bahwa kau sangat jahat seperti iblis. Sepertinya kau harus ngaca dulu sebelum berbuat, aku kecewa padamu, aku kira kau sudah melupakan masa lalu, aku sudah meminta maaf padamu mengenai hal itu," ujar Wisnu menatap intens istrinya.
"Cuuih ... sudah mati saja wanita jal*ng itu masih kau membelanya. Kau yang membuat aku seperti ini, kau sudah bermain gila sama si jal*ng sialan. Aku tahu kau sangat sedih mantan selingkuhan'mu aku bunuh, dan sekarang tinggal anaknya yang akan menerima semua ini," seru Mamih Sonya penuh amarah.
"Stop!! Sonya apa kau tidak sadar aku selingkuh karena memang ulahmu sendiri. Kau duluan yang selingkuh dengan temanku Erik, aku sudah salah membalas selingkuh dengan Nancy. Tapi mengenai hal itu aku sudah minta maaf juga sudah meninggalkan dia. Tapi kau sampai sekarang masih berhubungan Erik. Kau sangat egois, tidak pernah meminta maaf, sebaiknya kita berpisah, Tama yang akan menentukan dia memilih aku atau kamu," sengit Wisnu.
"Tidak! Aku tidak mau di cerai. Kau sudah gila istri di penjara malah kau cerai, aku tegaskan kau tidak akan bisa menceraikan aku Wisnu," seru Mamih Sonya mendelik.
"Kau yang gila, sudah salah nyolot tidak mau mengakui segala kesalahanmu. Kita sudah tua, sebaiknya perbanyaklah beramal bukan mencari celah ladang dosa. Dan Papih peringatkan jangan usil mengenai kehidupan Aida, dia tidak bersalah," timpal Wisnu dan berlalu pergi meninggalkan Mamih Sonya yang mengepal geram atas ucapan suaminya.
"Brengs*k, lihat saja apa yang aku lakukan kepada keluarga Aida termasuk ibu tirinya," seru Mamih Sonya dan berlalu pergi.
****
Lihatlah sayang, dekor pernikahan kita sangat bagus, apakah kau suka?" Tanya Adrian.
"Ini sangat indah, lebih indah dari pikiranku saat ini. Adrian aku sangat berterima kasih padamu, besok pagi kita sudah sah menjadi suami istri," seru Aida tersenyum lebar.
Adrian tidak menyangka mereka sudah sampai di titik ini. Menikah itu bukan hal yang mudah bagi mereka, Adrian akan siap siaga untuk istrinya kelak. Dia benar-benar sudah jatuh cinta kepada Aida.
"Malam ini aku akan pergi bersama Om Ken, Mamah juga sudah ada di rumah. Mungkin malam ini aku tidak pulang ke apartemen, mengingat besok kita menikah. Hati-hati di jalan sayang," seru Amira tiba-tiba mencium pipi Adrian dan segera pergi meninggalkan Adrian yang tercengang atas apa yang di lakukan oleh Aida. Ken yang melihat mereka dari dalam mobil hanya bisa terkekeh melihat keponakannya sangat lucu.
"Kau mesum sekali, mencium kekasihmu lebih dulu," ejek Ken.
"Diamlah, kau cemburu padaku hahahah," canda Aida.
"Untuk apa Om cemburu pada gadis sepertimu," timpal Ken memijit hidung Aida.
"Om Ken Jail banget sih, aku ini calon pengantin," seru Aida memanyunkan bibirnya membuat Ken semakin gemas sama tingkah laku Aida.
Adrian tersenyum puas, ia meraba pipinya yang tadi di cium oleh kekasihnya Aida.
"Kenapa dia sangat mengemaskan," seru Adrian terkekeh sambil berjalan menuju parkiran.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.