
Dokter Wiliam berjalan menuju ruangannya, seorang perawat memanggilnya. Ia menengok ke belakang, Dokter Wiliam heran melihat perawatnya membawa rantang pink yang dulu pernah di berikan kepadanya.
"Dok, ini titipan, katanya buat sarapan pagi," ucap perawat itu.
"Dari siapa ini?" Tanya Dokter Wiliam sambil mengambil rantang tersebut.
"Dia wanita cantik, setiap pagi dia datang untuk memberikan makanan untuk Dokter. Siang hari dia ke sini lagi untuk melihat aktivitas Dokter," sahutnya sambil menunduk.
"Oke, kalau dia ke sini siang, kau segera menghubungiku," timpal Dokter Wiliam dan berlalu pergi.
Ia membuka pintu, menghembuskan nafasnya berat. Ia segera menghubungi Dokter Luar negri untuk menanyakan Amira.
Di rumah Darren.
Aida hanya bisa berdiam diri di balkon kamar, ia menatap keluar sambil memeluk dadanya. Aida meneteskan air mata, rasanya sangat sedih di tinggal Amira ibu tiri yang sangat sayang kepadanya.
Adrian segera memeluknya dari belakang, Aida mengusap air matanya. Ia tidak kuasa menahan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Sayang jangan menangis, setelah kita di perbolehkan menengok Mamah di sana. Kita langsung pergi, banyak perawat yang menjaga Mamah di sana. Kita sebaiknya berdoa untuk kesembuhan Mamah, kalau tahu anaknya cengeng begini Mamah pasti sedih," bisik Adrian.
Aida segera membalikan tubuhnya, ia menghembuskan nafasnya sebelum ia berbicara. Aida tersenyum ke arah suaminya dirinya segera memeluk dengan sangat erat.
"Kepergian Mamah ke luar negri sangat berbeda saat dulu aku di tinggal beberapa bulan tahun lalu. Entah mengapa firasat ini sangat kuat, Mamah pasti sembuh aku yakin, tapi ada yang mengganjal entah apa itu," isak tangis Aida kembali.
"Jangan berpikir negatif, kita harus yakin Mamah di sana baik-baik saja. Seminggu lagi kita ke sana bareng Papah, apakah kau mau?" Tanya Adrian. Aida tercengang mendengar penuturan suaminya ia segera menghambur pelukannya air matanya terus mengalir.
"Terima kasih, aku sangat mencintaimu," seru Aida. Ia tidak sadar apa yang telah dia katakan.
"Hmm ... coba katakan kembali?" Tanya Adrian sambil melepaskan pelukannya menatap istrinya.
"Katakan apa! Aku tidak mengatakan hal apapun," sahut Aida.
"Ishh ... kau apa tadi, sampai kita nikah kau belum pernah membalas cintaku. Apa kau sudah mulai mencintaiku dan melupakan masalalumu?" Goda Adrian sambil mencolek dagu istrinya.
"Aku lupa, apa yang aku katakan," ucapnya sambil menunduk menahan malu.
"AKU MENCINTAIMU ADRIAN," pekik Aida menutup wajahnya.
Adrian tertawa ia tidak menyangka perasaan Aida luluh juga setelah mereka menikah. Ia tertawa sambil memeluk istrinya.
"Lupakan masalalu, kita manatap masa depan, aku janji akan membahagiakan'mu selama aku masih ada di dunia ini," seru Adrian mengecup kening Aida.
"Masalalu yang pernah kita lewati, terhapus seiring berjalannya waktu. Kau takdirku walaupun kisah kita berawal dari kebencian tapi semua itu luntur dan kebencian itu berubah kebucinan," sahut Aida terkekeh.
Sementara Darren masih menunggu kabar setelah beberapa jam belum ada yang bisa di hubungi Akhirnya Dokter Wiliam memberi kabar bahwa Amira sudah dalam perawatan tahap pertama. Ia di layani perawat selama 24 jam, hari ini keduanya belum bisa menghubungi satu sama lain. Mengingat Amira masih pingsan di ruang rawat, Darren terus berdoa, ia akan menyerahkan semua pekerjaannya sementara kepada Ken. Walaupun belum bisa di kunjungi Darren akan menetap di apartemen miliknya untuk bisa siaga datang ke rumah sakit.
"Hallo Ken, perusahaan kau yang mengurus tidak masalahkan? Kau pegang dua perusahaan."
"Siap Tuan, tidak masalah Tuan, semoga perawatan Nyonya Amira berjalan lancar."
"Besok pagi saya akan pergi ke luar negri, walaupun saya ke sana belum bisa mengujunginya tapi saya akan memberikan kejutan untuk istriku."
"Siap Tuan, semoga perjalanannya lancar, besok akan saya siapkan Jet pribadi."
Tlp pun segera Darren tutup, ia bernafas lega, seenggaknya setelah Darren di sana dia bisa lega walaupun harus menunggu seminggu untuk bertemu istrinya.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.