
"Dokter kenapa kau di sini?" Tanya Anis segera menghapus air matanya.
"Itu tidak penting, kenapa kau menangis di sini, sangat memalukan bagi wanita secantik dirimu," sahut Dokter Wiliam.
Anis hanya bisa terdiam, kemudian dia menangis kembali membuat Dokter Wiliam mengerutkan keningnya.
"Gadis aneh, terima kasih ini punyamu'kan," ucap Dokter Wiliam segera berdiri sambil merapihkan kamejanya. Dirinya pun berlalu pergi meninggalkan Anis.
"Kenapa aku sangat bodoh sekali, rantang ini punyaku, berarti dia sudah tahu," gerutu Anis sambil melihat ke arah Dokter Wiliam yang sudah pergi meninggalkan dirinya.
****
Surya segera menghubungi Robby dan Izal yang siap mengawal Clara juga Amira selama ada di rumah sakit Bodyguard kepercayaannya itu selalu taat menuruti perintah Surya.
Clara masuk mengenakan baju khusus yang di berikan oleh pihak rumah sakit berwarna biru muda. Ia bersama Darren juga Surya, melihat Amira masih tertidur lelap di atas tempat tidur. Perawat Maria pun memberikan salam kepada mereka dan segera pergi meninggalkan keluarga Amira.
"Sayang, aku sungguh tidak tega banyak selang yang melilit tubuhmu. Kau wanita terhebat, lihatlah wajahmu masih sangat cantik," ucap Darren duduk di samping ranjang pasien sambil meraih pelan tangan istrinya. Clara dan Surya hanya bisa berdiam diri melihat mereka, Surya menggenggam erat tangan Clara.
"Dia sepertimu, wanita tangguh yang pernah aku kenal," bisik Darren mengecup tangan Clara.
"Gombalmu," sahut Clara tersipu malu sambil mencubit perut suaminya.
Amira membuka matanya secara perlahan,ia mengerjapkan matanya untuk melihat siapa yang menangis di sampingnya. Ia melihat sosok pria, Amira tersenyum dan mengusap kepala suaminya dengan lembut.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Lihatlah aku sudah baikan, aku tidak mau kamu cengeng begini," seru Amira sambil terkekeh.
"Syukurlah kau sudah bangun apa aku mengganggu waktu istirahatmu?" Tanya Darren. mengecup seluruh wajah Amira.
Surya mendehem saat Darren mau menci*m bibi ranum istrinya. Clara menyenggol tangan Surya sehingga mereka menahan tawa.
"Rupanya kau melupakan kami, sehingga kau maen sosor saja," ujar Surya mendekati ke arah Amira juga Darren.
"Ya ampun, kenapa aku baru sadar ada kalian di sini," ucap Amira merasa malu. Darren hanya terkekeh sambil duduk ke posisi semula.
"Maafkan aku, selalu saja merepotkan kalian," sahut Amira lembut.
"Kau jangan bilang begitu, kita sodara. Semoga kandunganmu sehat, apa kau tidak merasa mual?" Tanya Clara mengelus perut rata Amira
"Aku baru sadar, kehamilan sekarang rasanya tidak merasakan apa pun, kecuali saat mau sikat gigit terasa mual," seru Amira.
"Aku yakin, anak kita pria gagah seperti Papahnya," ujar Darren bangga.
"Semoga saja pintar, tidak mudah di bodohi seperti Papahnya," celetuk Surya. Mereka pun tertawa bersamaan.
Darren dan Surya memang sudah akrab sejak mereka belum menikah. Kejailan Darren atau Surya menambah keakraban keduanya.
Perawat Maria datang membawakan makanan untuk Amira sebelum dirinya minum obat. Darren berterima kasih kepadanya karena telah merawat Amira dengan sangat baik. Clara dan Surya hanya bisa melihat momen mereka, sehingga Surya pun pergi keluar untuk mencari udara segar.
"Kita keluar dulu, kau nikmati saja momen indah bersama istrimu," ucap Surya. Clara pun pamit keluar bersama Surya.
"Apa kau lapar?" Tanya Surya pada Clara.
"Seperti begitu, sekalian kita liburan di sini, bagaimana kita jalan-jalan dulu sebentar," ajak Clara yang segera di angguki oleh Surya.
Di saat mereka mau masuk ke dalam mobil, Clara melihat Ayu memakai kacamata hitam seperti sebelumnya.
"Sayang, lihatlah kenapa wanita itu selalu datang ke sini memakai kacamata hitamnya," ujar Clara. Surya segera melihat ke arah yang di tunjuk oleh Clara.
"Kau benar, kita ikuti dia!" Seru Surya. Mereka pun berdua mengikuti mobil Ayu yang melaju ke sebelah kanan.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
Apakah kalian rindu sosok Surya yang sangat mencintai Clara dan selalu melindunginya dari hal apa pun?