
Darren sangat takut istrinya jatuh ke bawah lantai atas apartemen. Mereka segera ke lokasi kejadian, Amira masih menggantung bertahan dengan dua tangannya supaya tidak terjatuh ke bawah.
Ayu memegang kuat kaki Amira sehingga mereka menggantung di atas. Darren menarik tangan Amira, tapi tangan ayu sudah tidak kuat mencengkram kaki Amira untuk menyelamatkan dirinya.
"Amira, tolong maafkanTante. Hendra maafkan aku telah merusak rumah tanggamu, mungkin ajalku sudah tiba waktunya sehingga aku tidak bisa lagi untuk menyelamatkan diri. Aku hanya bisa meminta maaf kepada kalian, akibat keserakahanku hidup kalian jadi begini," ujarnya. Amira mengulurkan tangan satunya untuk menggapai tangan Ayu supaya dia selamat dan tidak terjatuh ke bawah.
"Tolong jangan bicara seperti itu, Tante Amira sudah memaafkan Tante. Bertahanlah dan genggam tanganku," ucap Amira mengulurkan tangan yang satu ke bawah supaya bisa menarik tangannya ke atas.
Darren menahan tangan Amira yang masih bergelalut. Hendra menangis melihat Ayu sudah tidak berdaya, walaupun dia sangat jahat tapi melihatnya sekarang dia merasa tidak tega dan takut kehilangannya.
"Percayalah, kamu pasti selamat," ujar Hendra menyemangati'nya.
"Aku minta maaf, niat'ku untuk membunuh Amira bersamaku, tapi Tuhan berkata lain. Amira masih bisa kalian selamatkan aku ....."
Brughh
Tangan ayu terlepas dari kaki Amira, ia terjatuh begitu keras ke dasar bawah. Semua orang menjerit melihat Ayu terjatuh ke bawah termasuk Amira, Clara dan yang lainnya.
Amira berhasil di angkat ke atas, tapi ayu dia terjatuh karena sudah tidak berdaya mencengkram kaki Amira dari bawah tubuh Amira. Amira menangis histerius dia menyaksikan betapa ngerinya Ayu terhempas ke bawah dari lantai sepuluh.
"Tidak, Ayu." Hendra segera berlari ke bawah untuk melihat jasad ayu yang sudah berlumuran darah di bawah jalan. Semua orang berkumpul melihat jasad yang sudah remuk.
Amira menangis histeris, tubuhnya lemah tidak berdaya melihat ke bawah darah merah terlihat jelas dari pelupuk matanya.
"Padahal aku sudah berusaha untuk menolongnya. Tante, maafkan Amira tidak bisa menggapai tanganmu," isak tangis Amira di pelukan Darren.
"Sayang, ini sudah takdir, walaupun Tante ayu mencoba meloncat dari atas sini membawamu ke bawah. Tapi, lihatlah Tuhan berkata lain, kau masih bisa menjangkau balkon ini juga kau masih bisa kita selamatkan, Tante Ayu sudah takdirnya meninggal dunia dengan kondisi begini," terang Darren mengusap air mata istrinya untuk menenangkannya.
"Ayu, sungguh ini di luar dugaanku, padahal kau bisa saja selamat. Aku memaafkanmu dengan semua kesalahanmu di masalalu juga sekarang," ucap Hendra duduk diam lemas di hadapan jasadnya.
Petugas ambulance datang untuk segera membawa jasad Ayu yang sudah tidak utuh. Amira sudah berada di lantai bawah membawa luka paling dalam. Walaupun Ayu sudah melukainya dengan kata-kata juga perilakunya tapi Amira tidak punya rasa dendam kepadanya. Amira menyesal tidak bisa menggapai tangan Ayu, dia masih melihat wajah bersalah Ayu kepadanya di saat-saat terakhir dia mengatakan permintaan maaf.
"Tante, yang tenang di alam sana, kita semua sudah memaafkanmu di sini," ucap Amira sembari menangis melihat petugas mengambil jasadnya masuk ke dalam mobil.
Rencana Hendra dia ingin memakamkan Ayu di Indonesia dan meminta ijin kepada Amira untuk berendanga dengan makam Ibunya.
"Ayah, maafkan Amira," isak tangis Amira kembali yang tidak bisa di tahan. Mereka berpelukan, kedua insan yang sempat berpisah puluhan tahun itu kini sudah kembali bersama. Tanpa sosok mantan istrinya yaitu ibu Amira sendiri.
"Tidak sayang, Ayah yang seharusnya meminta maaf padamu," ucap Hendra memeluk hangat Amira. Clara ikut menangis menyaksikan mereka berdua, betapa harus biru melihat anak juga orangnya yang sudah lama tidak bertemu.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.