One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Melabrak Tama



Tama berlenggang pergi menuju mobilnya yang sudah terparkir di hadapan rumahnya. Tiba-tiba saja suara manis terdengar oleh telinganya, Anis datang membawa senyuman untuknya.


"Kak Tama," ucap Anis berdiri di belakang Tama.


"An-is kapan kau ada di sini?" Tanya Tama terbata. Ia takut Anis mendengar pertengkarannya dengan Mamih Sonya.


"Baru saja sampai, bolehkah aku ikut ke kantor Kak Tama?" Pinta Anis tersenyum kikuk.


"Hmm, boleh. Tapi maaf kalau kamu bosan menungguku, mengerjakan tugas kantor seharian di sana," sahut Tama.


"Tidak masalah Kak. Tapi aku bawa mobil, bagaimana yah," Anis sengaja mencari alasan agar ia bisa satu mobil dengan Tama.


"Kau ikut denganku, nanti aku akan menyuruh Supri untuk mengantarkan mobil ini kerumahmu," timpal Tama.


"Terima kasih, Kak." Ucap Anis. Akhirnya ia bisa satu mobil kembali dengan Tama rencana Anis berhsil.


Mereka pun segera pergi, dekat dengan Tama membuat Anis senang. Walaupun Tama masih dingin dan cuek kepadanya, tapi ia akan terus mengejar cinta untuk masa depannya.


***


Rahang Darren mengeras melihat Aida sudah tiba di depan rumahnya. Hari ini Darren sengaja menunggu Aida pulang dulu setelah semalaman Aida tidak pulang.


"Dari mana saja kau Aida," pekik Darren dengan nada dingin sambil duduk diam membuat Amira khawatir.


"Sayang, pokoknya jangan membentak Putri kita," pinta Amira menggenggam tangan suaminya.


Sayang sekali, Adrian tidak bisa mengantar Aida pulang. Dia mendadak di hubungi orangtunya bahwa Papihnya terkena serangan jantung.


Kedua orangtua Adrian berhasil rujuk kembali berkat Adrian terus meminta mereka balikan. Demi anak satu-satunya setelah Aldo meninggal mereka tidak mau menyakiti Putranya lagi. Akhirnya mereka rujuk kembali dan menetap tinggal di Indonesia.


"Pah, Aida bisa jelaskan itu hanya kesalahpahaman saja," sahut Aida menunduk dan segera duduk di sofa menghadap orangtuanya.


"Bereskan barang-barangmu, Papah ingatkan jangan pernah ke rumah ini lagi. Kau boleh tinggal di apartemenmu tapi jangan menemui kita berdua sebelum Papah memaafkan semua kesalahanmu," ujar Darren sambil rahangnya mengeras menahan emosi. Ia menghembuskan nafasnya kasar sambil mengusap wajahnya gesar.


"Ba-iklah," sahut Aida berdiri dan segera meninggalkan orangtunya. Ia segera mengemas semua baju ke dalam koper, Aida akan pulang setelah namanya sudah bersih kembali dan membuktikan bahwa semua itu hanya fitnah.


Amira hanya bisa menangis di kamarnya, Darren benar-benar marah pada Aida. Ini demi masa depannya juga demi keselamatan Putrinya. Ia harus merelakan jauh dari sang anak untuk sementara waktu.


Isak tangis dari dalam kamar membuat suasana menjadi senda gurau. Amira di beri kesempatan untuk menengok Putrinya yang akan pergi dari rumahnya. Walaupun Darren mengusirnya tapi dia menyuruh dua bodyguradnya untuk tetap mengawasi Aida


dari kejauhan.


"Sayang, maafkan Mamah tidak bisa menolongmu," seru Amira memeluk hangat Putrinya yang kini sudah berdiri membawa kopernya.


"Suatu saat Mamah akan menjemputmu lagi untuk kembali ke rumah ini," isak tangis mereka berdua. Tidak lama Aida pun pamit dengan berat hati ia harus meninggalkan kenangan indah di rumahnya bersama Amira.


Aida keluar gerbang rumah melangkah gontay, rasanya dia berat meninggalkan Mamah Amira. Amira sangat baik menerima segala kekurangannya sampai saat ini Amira selalu lembut dan percaya padanya.


"Suatu hari nanti aku akan kembali ke rumah ini membawa nama baikku lagi. Pah, maafkan Aida telah mengecewakan kepercayaanmu," ucap lirih Aida.


Amira menangis melihat kepergian Putrinya, ia tidak kuasa harus berjauhan dengannya. Baru beberapa hari Aida kembali ke rumahnya setelah sekian lama dia di negara orang. Kini Amira harus merelakannya untuk jauh darinya lagi.


***


Brakkk.


Tama terkejut Adrian tiba-tiba saja datang ke kantornya untuk menyelesaikan perkara Mamih Sonya yang telah menjebak Aida di hotel.


"Ada apa ini," pekik Tama tidak mengerti. Adrian segera mencengkram kameja bagian leher Tama dengan rahangnya mengerang ia menonjok wajah Tama tanpa henti. Wajah Adrian sangat emosi matanya merah memandang tajam kepada Tama.


"Tama, jauhi Aida dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depan Aida," geram Adrian mencengkram erat. Darah dari sudut bibir Tama keluar membuat Tama kesakitan.


"Apa urusan Aida denganmu Adrian, apa kau menyukai Aida?" Tanya Tama mendelik.


"Iya, aku mencintainya, dan kau jangan pernah bertemu Aida lagi mulai hari ini," timpal Adrian mengehempaskan tubuh Tama kasar. Tama tidak terima, ia berdiri segera menyerang balik Adrian.


"Sialan, aku tidak akan biarkan Aida jatuh ke dalam pelukanmu. Kau Pria tidak tahu malu, sudah berapa wanita yang kau tiduri dan sekarang kau memintaku untuk menjauhi Aida. Aku mencintainya lebih dari kamu," pekiknya.


Adrian meradang, ia segera meninju kembali wajah tampan Tama. Suana dalam kantor itu semakin panas karena tidak ada yang mau mengalah.


"Stop," seseorang berteriak ke arah mereka berdua.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.