
Ternyata hanya pelayan hotel mengantarkan makanan untuk mereka makan malam. Adrian bernafas lega, ia segera mengambil makanan yang sudah tertata rapih di meja dorong. Ia segera menutup kembali pintu yang terbuka sedikit supaya pelayan itu tidak melihat ke dalam.
"Sayang, itu makan malam untuk kita, aku sengaja tadi memesan makanan untuk jam segini," seru Aida segera memakai kembali handuknya dan di lilitkan ke tubuhnya sambil tersenyum.
"Ayo kita makan malam, kau pasti sudah sangat lapar," ujar Adrian berjalan sambil mendorong meja makanannya.
"Maaf, tadi aku pesan. Soalnya mengingat tadi kita belum makan di bawah," lirih Aida duduk terdiam. Adrian duduk di sebelahnya setelah itu ia mengusap kepalanya dan mencium keningnya.
"Tidak masalah, biar aku lebih kuat bekerja malam ini," seru Adrian menyeringai.
"Dasar mesum," timpal Aida sambil mencubit perut suaminya. Mereka pun makan malam berdua, sebelumnya Aida menyiapkan piring juga isiannya untuk suami terlebih dahulu. Ia sering melihat Amira menyajikan makanan untuk Darren sebelum ia menyantap makanannya terlebih dahulu.
Adrian tercengang melihat tingkah laku istrinya yang begitu hormat kepadanya. Mendahulukan suaminya sebelum dirinya, Aida juga mengambilkan minuman untuk Adrian, ia tersenyum sambil menyodorkan air putih sebelum makan di mulai. Adrian menegug-nya setelah itu ia menyimpannya kembali.
"Makanlah aku akan menyuapimu," ucap Aida menyodorkan satu sendok nasi ke mulut suaminya.
"Terima kasih sayang," ucap Adrian.
****
Di kantor polisi.
"Ayu, kapan kau akan membebaskan aku dari penjara ini," gerutu Mamih Sonya. Ia menunggu hari esok tiba di mana dirinya akan bertemu sahabatnya yaitu Ayu. Perjanjian keduanya mereka mempunyai rencana licik yang sama, sehingga Mamih Sonya akan di tebus oleh Ayu istri pejabat yang akan segera membebaskannya.
Mamih Sonya pun tertidur beralasan tikar dan bantal satu. Badannya terasa kaku, karena tidak terbiasa tidur di alas tikar yang dingin juga banyak nyamuk yang mengigitnya saat ia tertidur.
***
Di hotel.
Setelah makan malam berlangsung, Adrian melanjutkan aksinya yang sempat ia tunda. Helaian rambut Aida ia rapihkan ke belakang, ia mengecup kening turun ke hidung dan hinggap di bibir ranum milik istrinya. Suara indah menggema menyaksikan indahnya surga dunia untuk kedua pengantin ini. Tubuh keduanya di selimuti keringat yang bercucuran, Aida merasa ingin meledak, dan terjadilah ia mengeluarkan pelepasannya. Adrian tumbang bersama Aida bersama, ia mengec*p punggung istrinya yang kini membelakangi dirinya.
"Aku belum puas," bisik Adrian. Mau tidak mau, Aida menyerahkan semua tubuhnya untuk suaminya yang kini memulai lagi aksi panasnya.
Jam empat, mereka baru selesai setelah 4 kali mereka melakukan pelepasan. Tidak ada kata lelah atau bosan, mereka baru tidur'. Kini keduanya sudah tidak berdaya dan segera tertidur lelap.
***
Jam setengah enam pagi, Amira sudah mulai sibuk membuat sarapan untuk suaminya. Susu putih juga roti bakar, ia segera menaiki anak tangga untuk memanggil suaminya yang kini masih memakai baju. Amira membuka pintu secara perlahan, Darren sedang memakai baju di depan cermin. Wajah tampannya itu membuat Amira jatuh cinta setiap hari, ia segera berjalan menuju suaminya.
"Sayang, sarapanmu sudah siap," ujar Amira memeluk hangat tubuh suaminya.
"Kau terlihat sangat cantik, aku tidak mau istriku ini kecapean. Lihatlah wajahmu masih pucat," ucap Darren memegang kedua pipinya dan menci*m keninganya.
"Selagi aku masih bisa melakukannya kenapa tidak, aku ingin melayanimu dengan baik. Lagian aku tidak mengidam seperti tahun lalu, aku baik-baik saja," ucap Amira.
"Istriku ini memang sangat baik, kau masih memikirkan untuk melayaniku walaupun masih sakit begini. Dokter Wiliam nanti akan ke sini untuk memeriksamu," ujar Darren.
"Iya bawel, sini aku pasangkan dasi untuk'mu, jangan banyak pikiran minggu depan aku akan berobat ke luar negri seperti tahun lalu. Aku berharap penyakitku tidak menjalar ke mana-mana," ucap lirih Amira sambil memasangkan dasinya. Darren menatap lekat wajah istrinya yang sangat cantik.
"Kau sangat tampan, ayo kita sarapan," ajak Amira bergandengan menuju lantai bawah. Darren terharu betapa perhatiannya istrinya itu, sungguh ini tidak mau terjadi kepada istrinya.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.