One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Di sekolah



Seperti biasa, Aida turun di depan gerbang, tapi ada seseorang yang sedang menunggunya tidak lain adalah Tama. Ia sedang menunggu Aida untuk meminta maaf atas perkara orangtuanya. Aida merasa canggung karena sudah di peringati untuk tidak pernah berdekatan lagi dengan Tama.


"Aida!" Pekik Tama berjalan menghampiri.


Aida hanya tersenyum setelah itu, dia menundukan wajahnya. Tama segera membawa Aida masuk ke lingkungan sekolah takut dirinya di pergoki kedua bodyguard'nya.


"Aida, sebelumnya aku minta maaf padamu," ucap Tama.


"Untuk apa Kak?" Tanya Aida.


"Aku tahu, kemarin Mamih melabrakmu, untung saja aku belum pulang saat itu aku tahu bahwa Mamih'ku datang menghampiri'mu Aida," ucap Tama memegang tangan Aida. Namun, pegangan itu dia lepaskan karena takut orang lain salah paham.


"Sebelum Kakak meminta maaf, Aida sudah memaafkannya kok," sahut Aida.


"Aida, istirahat nanti temuin Kakak di kantin sekolah," ujar Tama. Sebelum menjawab, Tama sudah berlalu pergi meninggalkannya.


Aida hanya berdiam diri, perasaannya pada Tama tidak salah. Aida menyadari bahwa dirinya memiliki perasaan lebih pada Tama. Namun, ia takut untuk mengungkap-kannya, ia menyangkal karena tahu dirinya di cap anak wanita malam.


Adrian datang menyenggol bahu Aida, ia sengaja karena kesal melihat Tama memegang tangannya. Adrian hanya melihat sinis dan berlalu pergi.


"Dasar cunguk menyebalkan," pekik Aida melempar krikil dan terkena kepala Adrian.


"Sorry, tidak sengaja," ucap Aida berlalu pergi sebelum kena getah Adrian.


"Kau yang menyebalkan, Aida aku mau bicara sama kamu," ujar Adrian berlari mengejar Aida dan berhasil dirinya menangkap pergelangan tangan Aida.


"Mau kamu apa hah?" Tanya Aida dingin.


"Kamu tidak boleh berdekatan sama si Tama sialan itu. Kau ingat, kita mau tun..." Ucapan Adrian di tutup oleh tangan Aida.


"Kenapa kamu menyebalkan sekali, ingat yah. Aku terpaksa Adrian telah menerimamu. Dan aku ingatkan lagi, stop bicara hal aneh itu lagi, ini sekolah dan aku tidak mau orang lain tahu," timpal Aida dan segera pergi.


Siska yang melihat mereka berdua berbicara merasa geram. Ia melihat sinis ke arah Aida karena telah berani merebut Adrian darinya.


"Wanita itu telah berani menggoda Adrianku, lihat saja apa yang aku lakukan padamu gadis penggoda," ujar Siska dan berlalu pergi.


Adrian mungkin belum banyak bertindak mengenai Aida. Ia harus sabar karena sekarang Aida berani melawannya. Setelah tunangan nanti Aida ada di bawah dirinya, rencana selanjutnya akan Adrian rancang.


****


Tama berharap Aida datang ke kantin makan siang bersamanya. Untuk kali ini dia akan menjelaskan semua perasaannya pada Aida, walaupun tidak tahu nanti jawaban Aida apa untuknya.


"Aida, aku berharap kamu bisa menempatkan hatimu untukku, aku berjanji akan selalu melindungi'mu sampai kapan'pun," ucap Tama duduk termangu memikirkan Aida.


Adrian yang melihat Tama senyum-senyum sendiri membuatnya kesal. Ia tahu bahwa Tama sedang memikirkan Aida, Adrian pun segera duduk di sebelahnya sambil menepuk pundaknya.


"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih," sindir Adrian membuat Tama kaget dan segera melirik ke arah Adrian yang kini ada di sebelahnya.


"Bukan urusan kamu," ucap Tama dingin. Adrian dan Tama memang satu kelas dan berteman baik, tapi setelah kejadian tempo hari melihat Adrian kasar pada Aida membuatnya kesal.


"Dan yang pasti ini bukan urusan perasaan kamu Adrian," sahut Tama dan kembali fokus membaca buku.


Adrian tersenyum kecut setelah itu dia pergi meninggalkannya. Siska pun datang mencari keberadaan Adrian di kelasnya, membuat dirinya malas melihat kedatangan Siska.


"Sayang," pekik Siska membuat Adrian memutar bola matanya malas.


"Kenapa kamu ke sini, aku tidak mau orang lain salah paham tentang ini," ujar Adrian dingin.


"Kenapa! Aku sudah pajang pemberitahuan di mading bahwa kita sudah resmi jadian," seru Siska membuat Adrian tercengang begitu juga Tama dan kedua teman Adrian Leo dan Jerry.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.