
Anis segera melerai antara Adrian juga Tama yang sedang berkelahi. Wajah mereka berdua babak belur akibat baku hantam satu sama lain, tidak ada yang mau mengalah di antara mereka untuk memperebutkan Aida.
"Kalian ini seperti anak kecil, stop!" Pekik Anis. Adrian pun melepaskan cengkramannya dia segera pergi meninggalkan kantor Tama setelah puas memberi pelajaran pada Tama, walaupun dirinya babak belur juga. Sudut bibir Tama terluka, Anis sangat khawatir ia segera menaruh kopi buatannya di atas meja dan segera mencari kotak obat.
"Apa kau mendengar apa yang dikatakan Adrian padaku?" Tanya Tama pada Anis penuh selidik ia takut Anis mengetahui perasaanya pada Aida.
"Aku tidak tahu Kak, baru saja Anis selesai membuat kopi untuk Kakak, dan melihat kalian berdua berkelahi membuatku terkejut. Memangnya apa yang kalian permasalahkan?" Tanya Anis penasaran.
"Ahhh, tidak ini hanya salah paham, malam nanti aku jemput kamu ke rumah'mu," ujar Tama cuek. Anis tidak terlalu curiga padanya sehingga Tama akan mendekatinya dan berusaha untuk tidak secuek dulu pada Anis.
"Adrian, lihat saja apa yang akan aku lakukan di malam ini," batin Tama mengepal geram.
***
Adrian segera menghubungi Aida lewat ponselnya. Terdengar isak tangis juga suara serak dari dalam sambungannya. Adrian segera melajukan kencang mobil yang dia kendarai membelah jalanan. Luka lembab di wajahnya tidak ia hiraukan setelah tahu Aida di usir dari rumah dan sekarang ada di apartemen.
Amira mengirim teks pesan buat Adrian, ia menitipkan Aida padanya supaya Adrian bisa menghibur putrinya. Amira sudah percaya penuh pada Adrian, baginya Adrian adalah sosok Pria baik pilihan tepat untuk masa depan Aida.
Adrian tergesa segera masuk dalam lift menekan tombol lantai 15. Hatinya sangat gelisah mengingat Aida tidak sedang baik-baik saja. Walaupun dia terluka tapi rasa sakitnya tidak ia hiraukan.
Langkah kakinya lebih cepat segera ia keluar lift. Adrian segera mencari nomor apartemen yang di tempati Aida, sekarang dirinya sudah sampai di depan pintu, Adrian pun menghela nafas panjang sebelum mengetuk pintu.
Di dalam apartemen, Aida masih menangis tersedu betapa hancurnya dia sekarang. Terdengar bunyi pintu apartemennya berbunyi ia segera bangkit dari tempat tidur untuk membukanya.
Pintu terbuka lebar setelah Aida membukakan pintunya. Terdapat wajah Adrian penuh luka lebam juga sudut bibirnya terluka. Aida segera menghapus air matanya dan menyeret Adrian masuk ke dalam, lalu ia mengunci pintu.
"Kenapa kau terluka," ucap Aida duduk bersama Adrian di sofa ruang Tamu.
"Kenapa kamu juga menangis?" Tanya balik Adrian. Aida tidak menghiraukan pertanyaannya ia segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka pada wajah Adrian.
"Sini, kau terluka, kenapa bisa seperti ini. Apa kau berkelahi?" Selidik Aida.
"Itu tidak penting, awww," Adrian meringis kesakitan setelah Aida mengoleskan obat pada sudut bibirnya.
"Kau sudah merawatku semalaman penuh, aku juga akan merawatmu. Lebih baik kau istirahat saja di kamar, aku akan membuatkan kamu makanan untuk makan siang," ujar Aida dan beranjak pergi.
"Aida, lihat aku! Apa kamu tidak percaya padaku," ucap Adrian menarik dagu Aida yang kini ada di pelukannya.
"Adrian."
Aida memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia mencoba melepaskan pelukan itu tapi Adrian kalah cepat ia segera menci*m kening Aida, lalu, ci*man itu turun ke hidung dan hinggap di bibir manis Aida. Cumbu*n Adrian membuat Aida melayang, mereka pun menghabiskan waktu bercumb* ria di ruang tamu.
Tiga menit berlalu, Aida segera melepaskan pelukan juga pung*tannya. Ia merasa malu juga tidak sadar telah bermesaraan dengan Adrian.
"Aku akan memasak dulu," ucap Aida menahan malu juga terlihat merah merona di pipinya.
Aida menggrutuki dirinya, hal bodoh yang tidak di sangka mereka melakukannya lagi. Anehnya Aida tidak bisa menolaknya untuk kedua kalinya ia melakukan dengan Adrian dengan penuh gairah.
"Dasar bodoh," gerutu Aida.
Tangan kekar tiba-tiba saja melilit tubuh rampingnya. Siapa lagi kalau bukan Adrian, sudah lama sekali Adrian menahan hasratnya kepada setiap wanita yang selalu menghampirinya. Adrian akan melakukannya lagi tapi hanya dengan Aida. Ia tidak mau Aida hilang kepercayaannya untuknya. Adrian akan melamar dan menikahi Aida sesegera mungkin, ia takut kalah cepat dari Tama.
"Malam ini, kau lupakan saja masalahnya kita hadiri acara alumni kita," bisik Adrian membuat bulu kuduk Aida meremang.
"Kau mesum sekali Adrian, sudah berapa puluh wanita yang kau tiduri?" Tanya Aida santai membuat Adrian tercengang dan segera melepaskan pelukannya.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5