
Darren kini sudah ada di halaman rumah, mengingat Dokter Wiliam memberitahu kepadanya soal keberangkatan Amira ke luar negri. Ia segera pulang setelah selesai meeting. Darren segera bergegas masuk ke dalam rumah, tapi pandangannya tertuju ke arah dapur. Ia melihat istrinya sedang menata makanan di meja makan di bantu oleh kedua asistennya.
Darren tersenyum simpul, ia segera melepaskan tasnya dan segera di ambil oleh asisten rumahnya. Asistennya pun pergi menaiki anak tangga untuk menyimpan tas kerja Tuannya.
Amira bergelut kembali menyelesaikan masakan yang belum dia sajikan ke wadah. Tangan kekar seperti biasa melingkar di perut rata Istrinya. Ia menyelusup ke leher istrinya, lalu mencium pipinya. Amira tersenyum, ia segera membalikan tubuhnya, senyuman tulus dari Darren membuat Amira senang.
"Kau sudah masak siang ini, untuk siapa?" Tanya Darren belum melepaskan rangkulannya.
"Lepaskan aku, malu banyak orang," ucap Amira. Darren pun terkekeh dan melepaskan pelukannya. Amira berjalan menyimpan kuah di mangkuk yang ada di tangannya untuk segera menaruhnya di atas meja makan.
"Aku punya firasat suamiku pasti pulang, Dokter Wiliam bilang dia akan segera menghubungimu tentang ke pergianku. Jadi aku segera masak karena kamu pasti pulang siang ini, ternyata benar," seru Amira tersenyum lebar.
"Kau istriku yang sangat pengertian, terima kasih banyak. Ini semua masakan yang sangat lezat terutama kesukaanku SOP buntut," timpal Darren mencium tangan istrinya.
"Jangan berlebihan, ini sudah kewajibanku, sebaiknya cuci tangan terlebih dahulu dan segera makan siang. Kau pasti sangat lapar," ujarnya. Darren memeluk kembali istrinya, ia sangat sayang banget, istrinya sangat pengertian. Darren masih berat melepaskan istrinya untuk menjalani pengobatan di luar negri sendirian. Bukan waktu sebentar untuk Amira berada di sana tapi membutuhkan berbulan-bulan mengingat Amira sedang mengandung. Darren berjanji dia pasti mengunjungi istrinya setiap minggu ke sana untuk melepaskan rindu juga untuk menemaninya.
"Ini terlalu cepat bagiku untuk kita berjauhan," lirih Darren duduk di kursi meja makan. Ia menatap raut wajah istrinya, Amira sibuk menyiapkan isian makanan ke dalam piring untuk di berikan kepada suaminya.
"Aku suapin kamu, makan yang banyak, selagi aku masih ada di rumah ini kau akan aku suapi setiap kali makan," ujar Amira.
Deg.
Ada rasa tidak rela istrinya berbicara seperti itu, Darren memegang tangannya yang kini sedang menyodorkan sendok. Ia menatap sendu wajahnya yang cantik berbalut pucat membuat hatinya teriris. Darren akan berusaha memberikan terbaik untuk Amira, walaupun biaya pengobatan sangat mahal tapi baginya Amira'lah yang sangat mahal.
"Berikan sendoknya padaku, seharusnya kau yang makan banyak. Kau sedang sakit, aku tidak mau menyusahkan'mu," ucapnya sambil menyuapi sang istri.
Air mata keluar dari pelupuk mata Amira, Darren mengusapnya dengan lembut oleh tangannya. Setelah itu ia mengecup tangan Amira dengan sangat lembut.
"Seminggu sekali kita bertemu, setiap saat bertemu lewat ponsel. Aku pasti merindukanmu ada di sisiku, suami tampan sepertimu membuatku takut akan kehilanganmu," sahut Amira terkekeh.
"Namamu akan selalu ada di hatiku, tidak ada wanita lain di hatiku sayang. Yang aku cemaskan kau di sana takut di goda oleh bule, wanita tercantikku, aku sangat menyayangimu," seru Darren memeluk hangat. Amira merasa sedih, ia menangis di pelukan suaminya.
"Aku pasti sembuh untuk anak kita, kamu juga Aida," Isak lirih Amira.
Amira.
Darren sangat kacau tidak mau di tinggal Amira ke luar negri.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.