
Satu minggu telah berlalu, semua masalah sudah di tangani dengan baik. Hari ini Aida dan Adrian sudah berada di Indonesia, melihat perkembangan Amira cukup baik dari kesehatannya membuat semua orang senang dengan kondisi Amira. Seminggu sekali dia harus cek up rutin ke rumah sakit Dokter Wiliam.
Malam ini Darren mengundang Dokter Wiliam untuk turut hadir di acara perayaan pernikahan Darren juga Amira yang ke 9 tahun. Aida hanya bisa duduk diam karena dia masih mabuk, akibat hamil muda.
"Sayang, undangan ini tolong anterin pada Anis aku ingin mengundang dia di acara perayaan pernikahan Mamah," titah Aida pada Adrian.
"Oke, sayang. Apa kau perlu sesuatu?" Tanya Adrian sambil mengelus perut yang masih rata itu.
"Aku ingin di peluk terus sama kamu," manja Aida mengalungkan tangannya di leher jenjang Adrian. Pandangan keduanya beradu pandang membuat jantung keduanya berdegup kencang, perasaan itu masih sama saat mereka mulai jatuh cinta. Adrian mengecup bib*r ranum istrinya mereka pun mulai berci*man menikmati setiap sentuhan yang di lakukan keduanya. Untung saja Aida duduk di sofa kamar jadi mereka tidak di ganggu atau di lihat orang lain.
"Aku akan pergi ke rumah Anis, kau di rumah saja," ujar Adrian setelah selesai melepaskan pungutannya.
"Baiklah, hati-hati di jalan sayang, aku tidak mau kau jauh dariku," manja Aida cemberut membuat Adrian terkekeh dan segera mencubit kedua pipi istrinya.
"Iya, lagian siapa yang mau lama-lama di luar rumah," sahut Adrian menci*m kening istrinya dan pergi meninggalkan Aida.
"Aku ingin seperti ini terus bersamamu, semoga tidak ada pengganggu di antara kita berdua," batin Aida mengusap perut sambil melihat nanar kepergian suaminya.
****
Amira sangat senang, sekarang dia sudah mulai kelihatan buncit. Amira juga punya kado spesial buat suaminya Darren. Rasanya sudah tidak sabar ingin memberikan kado itu. Usia kehamilannya tidak beda jauh dengan Aida, sehingga anak mereka bisa seperti adik kakak setelah lahir ke dunia.
"Kau sangat terlihat cantik, aku senang kau sudah baikan dan bisa tersenyum seperti dulu lagi," seru Darren mengelus perut istrinya.
"Tapi kok aneh sekali yah, padahal ini baru menginjak kehamilan empat bulan. Tapi perutmu sudah terlihat besar, apa cuma perasaanku saja," ucapny kembali sambil terus mengelus perut istrinya.
"Semua ibu hamil berbeda sayang, ada yang sudah terlihat besar tapi usia kandungannya belum mencapai enam bulan atau tujuh bulan," terangnya sambil mengusap kepala suaminya.
"Kau benar, sehat selalu sayang, rasanya sudah tidak sabar ingin sekali melihat dia lahir kedunia," serunya.
Amira terkekeh, karena Darren sudah tidak sabar ingin menggendong bayi mungil mereka ketika sudah lahir kedunia.
****
Anis melamun memikirkan momen indah yang masih terngiang di dalam ingatannya satu minggu lalu Dokter Wiliam mengantarnya pulang. Karena hujan lebat sekali, Wiliam pun berinisiatip untuk menunggu hujan reda di rumah Anis. Kebetulan juga orangtua Anis berada di luar kota, menghadiri acara pesta pernikahan sahabatnya.
Flashback.
Dokter Wiliam duduk di sofa di suguhi teh hangat manis oleh Anis. Petir menyambar dan lampu pun mati secara tiba-tiba. Anis yang saat itu ketakutan reflek memeluk Wiliam kedalam dekapannya.
Wiliam hanya bisa diam dan menenangkan Anis yang semakin ketakutan. Wiliam segera menyalakan senter dari ponselnya biar tidak terlalu gelap. Anis merasa canggung juga malu karena dirinya sudah berani memeluk Wiliam.
"Kau takut?" Tanya Wiliam. Anis mengangguk sambil memeluk tubuhnya sendiri, setelah melepaskan pelukan Wiliam.
Wiliam segera mendekati Anis kembali dan memeluknya dengan sangat lembut. Pandangan mereka beradu pandang keduanya hanya bisa diam saling menatap. Secara tiba-tiba Wiliam mengeratkan pelukannya, Anis lagi-lagi hanya bisa diam karena deburan jantungnya semakin membuncah.
Wiliam mendekatkan wajahnya sehingga hidung mancung keduanya beradu. Wiliam perlahan menempelkan bib*rnya dengan lembut ke bib*r Aida, tidak lama mereka berci*man di malam gelap gulita, hanya bersinar'kan lampu senter dari ponsel.
Flashback off.
"Anis sayang, kenapa kau melamun, sejak tadi Adrian ke sini mengajakmu bicara tapi kamu hanya senyum-senyum sendiri," ucap Mamah Anis.
Anis tersadar dirinya baru saja memikirkan momen indah di kala itu bersama Dokter Wiliam.
"Kak, Adriannya mana Mah?" Tanya Anis.
"Hmm .... dia sudah pulang karena kamu hanya diam saja seperti patung sedang jatuh cinta," jawab Mamah Anis dan berlalu pergi.
Anis hanya mengehembuskan nafasnya pelan dan melihat kertas undangan untuknya di meja.
Ia meraih undangan itu dan tersenyum.
Darren.
Adrian.
Dokter Wiliam