
Setelah kejadian yang menimpa Mamih Sonya. Aida juga Adrian mencari Tama, Papih Wisnu tidak mengatakan Tama ada di mana, dia hanya bisa berminta maaf karena memang Tama belum bisa menerima kenyataan.
Seminggu telah berlalu, Adrian juga Aida mendapat notif pesan dari Tama. Mereka akan ketemuan di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan Adrian.
"Besok kita pergi ke luar negri, untung saja Tama menghubungi kita. Kalau tidak mungkin kita sudah berangkat, semua urusan kantor sudah bisa di atasi oleh Papah jadi kita punya dua minggu berada di sana," seru Adrian tampak senang dan bersemangat.
Aida juga tidak menyangka bahwa semua akan cepat berlalu. Akhirnya Tama bisa menerima semua kenyataan pahitnya.
"Aku sudah siap sayang," seru Aida berdiri di depan meja rias dan segera membalikan tubuhnya. Adrian sudah berada di hadapannya tersenyum mengembang, pandangan mereka beradu pandang.
"Aku ingin kita segera memiliki bayi mungil," seru Adrian mengusap perut rata istrinya.
"Tapi kamu sudah punya dari Siska," jutek Aida membuang muka ke arah lain.
"Kau masih percaya akan kehamilan yang tidak wajar itu," kesal Adrian.
"Tapi tespek itu," sengaja Aida memincingkan matanya.
Tidak lama, Adrian segera memeluk dan menci*m bibir ranum milik istrinya. Mereka pun berci*man cukup lama hingga nafas mereka terengah.
"Kita lihat apa yang akan di lakukan Siska untuk menjebak kita," seru Aida mencubit hidung mancung suaminya.
Adrian tertawa lepas, mengingat Siska mengaku hamil anaknya. Padahal mereka melakukan hanya satu kali jaman dulu pas masih SMA.
Mereka pergi ke sebuah restoran untuk bertemu Tama, beberapa menit telah berlalu, Tama menunggu mereka dan sudah setengah gelas menghabiskan jusnya demi menunggu kedua insan yang sangat lelet.
Aida dan Adrian telah sampai di tempat tujuan, terlihat Tama sedang duduk sambil memutar-mutar sedotan dalam gelas jus.
"Maaf kita telat," ujar Adrian duduk di hadapan Tama. Aida tersenyum kecil, Tama menyapa mereka menandakan bahwa dirinya tidak masalah.
"Tidak, apa-apa kok santai saja, aku mengajak kalian ke sini hanya ingin berpamitan. Kurasa urusanku sudah selesai dan besok pagi aku akan berangkat lagi ke luar negeri," ujarnya melihat ke arah Aida juga Adrian.
"Terima kasih, Kak. Sebelumnya sudah menyelamatkan kita. Tapi apa di sana Kakak akan lama begitu?" Tanya Aida.
"Tidak, karena Papih juga membutuhkan'ku untuk membantu mengurus perusahaanya. Paling dua bulanan," ucapnya tersenyum.
"Siska, lepaskan kau ini apa-apaan sih," kesal Tama.
"Aida, maafkan aku soal tespek itu, itu hanyalah kesalahpahaman saja. Karena yang sebenarnya itu anakku juga Tama," ujar Siska berbohong.
Siska ingin membalas semua perbuatan Mamih Sonya dan Tama'lah yang harus membayar atau tanggung jawab atas semuanya.
"Siska, aku tidak pernah melakukan hal apapun padamu. Lagian kau cuma hamil palsu," ejek Tama.
"Dengar Tama, Mamih'mu tega tidak membayarku dan kau yang haru tanggung jawab atas semua perbuatan orangtuamu. Nikahi aku atau kau akan aku laporkan ke polisi karena sudah menipuku," ancam Siska.
Aida dan Adrian hanya bisa tertawa melihat Tama terjebak oleh permainan Mamih'nya sendiri. Tama hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal, entah bagaimana nantinya, Tama pun berpikir punya rencana untuk mengerjai Siska.
"Oke, aku akan tanggung jawab," ujar Tama cuek.
Siska langsung girang, dia tidak sia-sia mencari keberadaan Tama. Akhirnya Siska tidak akan jomblo lagi karena sudah mendapatkan Tama, ya walau dengan paksaan.
"Jadi, bagaiamana? Kau jadi pergi ke luar negeri, sedangkan wanita ini menguntit'mu," Tanya Adrian.
Tama tampak berpikir, ia melihat ke arah Siska dan hanya bisa diam.
"Entahlah aku akan memikirkannya lagi," sahut Tama.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.