One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Delapan tahun kemudian



Delapan tahun kemudian.


Masa lalu.


Amira telah merelakan buah hatinya untuk pergi selama-lamanya. Saat ini, dia tengah menanti buah hati kembali, setelah masa pengobatan di luar negeri untuknya agar kembali sembuh. Saat ini kondisi Amira sudah membaik tapi sudah enam tahun ini belum di berikan keturunan juga oleh yang maha kuasa. Segala cara sudah di lakukan Amira agar dirinya bisa hamil kembali.


Di saat Darren frustasi memilih bayi atau anaknya yang masih di dalam perut saat usia kandungan Amira masih 3 bulan. Ia memilih mengangkat bayi itu demi keselamatan Sang Istri.


"Tolong selamatkan Istri saya Dok," pekik Darren melihat Istrinya sudah terkurai lemas di brangkar pasien. Darah segar mengalir di bilik bawah bajunya, tidak ada pilihan lain, Darren memilih sang Istri. Hal ini sudah dia pikirkan baik-baik, kalau pun Amira masih mempertahankan kandungannya. Kondisi kehamilannya tidak akan membaik malah semakin memburuk.


Satu jam telah berlalu.


"Bagaimana kondisimu sayang?" Tanya Darren mengecup kening Istrinya juga tangannya.


"Bagaimana kondisi kandunganku apa bayi kita selamat?" Tanya balik Amira panik.


"Maafkan aku, bayi kita sudah tidak ada," ucap lirih Darren menunduk lesu. Ia merasa jadi orangtua yang jahat telah menyingkirkan bayi yang tidak berdosa.


"Ta-pi, dia bayi kita! Bagaimana mungkin bayiku tidak ada. Tolong jangan membohongiku, aku sangat menyayanginya," isak tangis Amira.


"Dengarkan aku, nyawamu dalam bahaya, aku tidak tahu apa yang haru di lakukan saat itu aku hanya mengingatmu untuk selamat. Mungkin bukan Rizky kita suatu saat kita akan mendapatkan keturunan kembali. Sekarang kita fokus pada kesehatanmu," terang Darren menjelaskan sambil memeluk istrinya yang sedang menangis.


"Tidak, anakku sudah tidak ada," isak tangis Amira.


Darren hanya bisa memeluk sambil mengusap air matanya yang jatuh mengalir. Impiannya untuk menjadi orangtua belum tercapai, bayi yang selalu di nanti-nantikan kini sudah tida ada lagi di dalam perutnya. Andai Amira tidak mengalami penyakit kista yang tiba-tiba saja muncul di dalam rahimnya sehingga nyawanya dan bayinya dalam bahaya, sekarang Amira masih tahap pemulihan, operasinya berjalan dengan lancar juga Amira akan di kirim ke luar negri agar pengobatan di sana lebih efektif.


Masa lalu Off.


"Sayang," pekik Amira melambaikan tangannya. Aida berjalan sambil menyeret kopernya yang dia bawa.


"Kebiasaan suka mengerjai Aida, aku pikir Mamah sibuk dan tidak akan menjemput Aida di bandara," ucap Aida manja. Amira hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Putrinya yang kini sudah dewasa berusia 21 tahun.


Mereka pun berjalan setelah lama berpelukan satu sama lain. Sang Supir segera membawa koper besar itu ke dalam bagasi mobil. Tidak henti-hentinya Aida menceritakan kisahnya di luar negri. Cin-cin itu masih tersemat di jari manisnya, Aida akan melanjutkan kuliahnya di Indonesia mengingat ia sudah tidak mau jauh lagi dengan kedua orangtuanya. Pergaulannya pun sekarang membuat Aida pangling, terlihat sangat cantik semakin mempesona.


"Adrian belum tahu kamu sudah pulang, kita bikin dia kejutan malam ini," seru Amira.


"Baiklah, apakah dia masih nakal seperti dulu atau dia sudah melupakan tunangan masa remajanya," sahut Aida sambil terkekeh.


Mereka pun tiba di depan rumah, masih seperti dulu tidak ada perubahan. Wanita cantik itu menuruni mobil sambil terus menggandeng tangan Mamahnya.


"Aida."


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5