
Satu Minggu telah berlalu, Aida juga Adrian sudah selesai menikmati honeymoon mereka di pulau B.
Aida menerima tlp dari Darren bahwa dirinya akan segera bertemu dengan Amira secepatnya bersama Surya juga Clara. Aida sudah tidak sabar ingin segera brangkat ke sana menyusul Papahnya.
"Sayang, hari ini kita pulang, apa kau tahu Mamah sudah bisa kita jenguk. Mamah sangat hebat dia bisa melawan masa kritisnya, aku yakin Mamah akan segera pulih dari sakitnya." Ucap panjang lebar Aida sambil memeluk tubuh suaminya dari arah belakang.
Tapi Adrian hanya bisa diam mematung seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Aida heran.
"Sayang, kau melamun, apa kau tidak senang kita akan segera pulang dari pulau ini? Sebentar lagi kita akan menemui Mamah?" Tanya Aida tampak kesal sambil melepaskan pelukannya. Tapi Adrian berhasil meraih kembali tangan istrinya untuk tetap memeluknya.
"Tidak, sayang aku bahkan sangat senang, sebentar lagi pesawat kita akan segera tiba di sini menjemput kita," seru Adrian menyembunyikan kecemasannya.
"Tapi, raut wajahmu seperti sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Aida cemberut.
"Hmm .... berkemaslah, sebentar lagi pesawat kita tiba," titah Adrian yang segera di angguki oleh istrinya. Sebelum pergi ke dalam Aida mengecup sekilas bib*r suaminya.
Tidak lama, Adrian menerima tlp dari Tama, bahwa Mamih Sonya sedang mengincar Aida. Tama segera pulang dari luar negri membatalkan libur panjangnya setelah mengetahui aksi busuk orangtuanya.
Mamih Sonya ingin membunuh Aida untuk membalas dendam Nancy di masalalu. Dari sana Tama mengerti, tapi ia tetap berpihak kepada Aida yang tidak mengetahui masalalu Nancy kepada Mamih'nya yang sangat mengerikan bagi masa depan mereka.
Adrian sangat berterima kasih pada Tama karena telah membantu Aida. Untuk hal ini Adrian tidak akan memberitahu semuanya mengingat Aida sangat merindukan Amira. Mulai saat ini, Tama juga Adrian akan sama-sama melindungi Aida sampai Mamih Sonya menyerahkan diri ke kepolisian. Atau mereka yang akan menangkapnya.
"Aku tidak tahu apakah Tama akan baik-baik saja setelah Mamih Sonya mengetahui Tama tidak berpihak padanya. Aku tidak akan membiarkan Tama dalam kesulitan mengenai hal ini," ucap Adrian melihat ke arah lautan lepas.
Sementara di tempat lain. Mamih Sonya terus mengincar Aida, dia siap siaga untuk menyambut Aida datang kembali ke Jakarta. Dengan embel-embel untuk meminta maaf, Tama tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Mamih sudah sangat keterlaluan, bisa-bisanya dia nekad seperti ini. Dendamnya sudah membuat dirinya terjerumus ke jalan yang salah, Mamih apa kau tahu, Tama sangat mencintai Mamih tapi tidak dengan sipat Mamih," ujar Tama sambil menyeret koper menuju bandara. Ia segera bergegas menaiki pesawat yang akan mengantarnya kembali ke Indonesia.
Mamih Sonya telah merencanakan Aksinya untuk mengajak Aida bertemu di tempat umum. Ia tidak mau gegabah karena penjagaan Aida juga sangat ketat, dirinya harus bisa berakting supaya Aida percaya.
Di pulau B.
"Sayang, turunkan aku," bisik Aida.
"Diamlah, aku tidak mau kau terlalu cape, mengingat kita sudah sering bikin Dede bayi. Kau pasti kelelahan," seru Adrian. Aida segera mencubit perut suaminya.
"Awww."
"Kau mesum sekali, semoga saja aku segera hamil, apa tidak masalah setelah aku masuk kuliah nanti aku hamil?" Tanya Aida.
"Kau punya suami, mengapa tidak kuliah sedang hamil! Kecuali kalau sudah menginjak 8 bulan aku ingin kau cuti dulu," ucap Adrian. Mereka pun masuk ke dalam dan istirahat di tempat tidur.
Aida pun memejamkan matanya, ia tertidur lelap, pesawat pun lepas lepas landas.
Beberapa jam kemudian.
Mamih Sonya mendengar kabar bahwa Tama mengalami kecelakaan di dalam pesawat yang bertujuan ke negara Indonesia. Dirinya segera pergi ke bandara untuk memastikan apakah Tama menaiki pesawat itu atau tidak.
"Anakku Tama," pekik Mamih Sonya menangis.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.