
Siang ini Aida merasa malas untuk pergi ke luar hotel. Badannya sangat remuk, tidak mampu berjalan walaupun dekat, Adrian enggan meminta jatah kembali, ia sudah mengatur bulan madu mereka nanti besok.
"Sayang, besok kita pergi berbulan madu, pokoknya seminggu ini kita habiskan untuk bikin anak banyak," seru Adrian duduk di sebelah istrinya.
"Terserah kamu, dasar suami mesum, tidak ada kata cape dan bosan untukmu. Tapi aku akan selalu melayanimu dengan sangat baik," timpal Aida tersenyum manis.
"Hari ini kita istirahat saja di kamar hotel," ucap Adrian memeluk tubuh istrinya. Tidak lupa dengan cium*n mautnya.
Aida lupa, dia sudah di beri kabar bahwa Amira akan pergi ke luar negri untuk pengobatan penyakitnya. Mungkin acara bulan madu mereka ia tunda dulu demi melihat Mamahnya yang akan pergi jauh untuk beberapa bulan trakhir.
"Sayang, aku lupa Mamah Amira mau pergi tiga hari lagi ke luar negri. Apa kita undur saja kepergian kita?" Tanya Aida hati-hati.
"Oh, iya. Aku hampir lupa, tidak masalah kita undur tiga hari kedepan," sahut Adrian. Aida sangat senang, Adrian begitu sangat pengertian kepadanya. Walaupun keduanya di masalalu pernah saling benci, tapi sekarang saling bucin satu sama lain. Tuhan maha membolak-balikan hati hambanya kapan saja dan di mana saja.
"Kita bisa mengundur tapi, malam ini kita habiskan kembali kegiatan kita," bisik Adrian menyeringai. Aida pun terkekeh segera ia menghadap kepada wajah suaminya.
"Papahku turunan anak kembar tanteku Clara juga Clery," ucap Aida.
"Terus," sahut Adrian mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.
"Sebagian besar turun ke rahimku, hahahah," seru Aida langsung melakukan aksinya untuk memulai duluan.
Adrian terkekeh melihat tingkah laku istrinya yang mulai agresif. Adrian sangat senang karena ini yang di butuhkan dari istrinya, melayaninya dengan sangat baik.
Cium*n mereka di ganggu dengan suara ketukan pintu hotel.
Tok ... tok ...
Di penjara.
"Untuk kasus nanti kau harus lebih lihai dari sebelumnya. Aku tidak mau rencana kita gagal, sekarang kau memiliki mobil ini, juga apartemen yang aku sebutkan tadi. Untuk urusan suamimu, dia tidak akan meninggalkanmu," terang Ayu sambil menatap Mamih Sonya.
"Terima kasih atas bantuannya, aku tidak mau anakku Tama sampai membenciku. Aku harus menasehatinya agar hatinya kembali padaku, malam nanti aku harus menemui dia di rumahku mengingat Wisnu lagi pergi ke luar kota," ucap Mamih Sonya mantap.
"Bagus kalau begitu, besok kita bertemu di cafe Valerry. Jangan lupa, misi kita harus benar-benar di rancang supaya kita tidak sampai di penjara," ucap Ayu. Mereka pun tertawa dan segera berpisah satu sama lain.
***
Ketukan pintu kamar hotel, hanya kiriman bunga untuk Adrian juga Aida dari teman Adrian. Mereka tertidur kembali, sungguh mereka mengurung diri di kamar hotel menghabiskan kegiatan mereka berdua.
Aida menggeliat, ia segera melihat ponselnya terlihat ada pesan masuk. Ia segera membukanya dan terlihat nama Tama, ia segera membacanya. Sebelumnya ia melirik ke arah Adrian yang masih tidur di sampingnya sambil memeluk.
"Aida, kalau kau tidak datang sore ini di taman garden. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada suamimu. Ingat Aida jangan sampai suamimu tahu hal ini."
TAMA.
Aida mengehembuskan nafasnya kesal, ia tidak tahu harus bagaimana. Tapi ia akan tetap memberitahu hal ini kepada suaminya, mengingat ia sudah berjanji tidak akan ada rahasia lagi di antara mereka berdua. Adrian menggeliat, ia segera membuka mata, melihat wajah istrinya yang kini sedang melamun sambil memegang ponsel.
"Sayang, ada apa?" Tanya Adrian membuat Aida terkejut.
"Aahh, kau mengagetkanku saja, lihatlah pesan teks ini," ujarnya sambil menyodorkan ponsel miliknya.
Adrian segera membaca pesan dari Tama, ia mengepal geram.
"Breng*k, aku tidak akan membiarkanmu menemuinya lagi. Aku tidak tahu jalan pikirannya bagaimana, kau sudah bersamaku kau miliku," seru Adrian.