One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Sakit



Di rumah sakit.


Amira terbaring lemah di tempat tidur, Darren terus memegangi tangannya seolah tidak mau kehilangan Sang Istri. Wajah pucat-nya menandakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Dokter mengatakan bahwa Amira mengalami penyakit mematikan, di barengi dia sedang hamil dua Minggu membuat Darren syok atas apa yang dia dengar.


Kabar bahagianya Darren akan mempunyai anak dari sang istri. Selama kurang lebih delapan tahun lamanya mereka menantikan buah hati. Sekarang buah hati itu sudah tumbuh bersarang di rahim Amira. Berita buruk dia harus menerima cobaan yang telah Allah beri kepada mereka. Amira mengalami penyakit kanker, mungkin mereka harus lebih bersabar atas cobaan yang mereka hadapi.


"Sayang, buka matamu! Lihatlah aku selalu ada untukmu. Kenapa cobaan ini begitu berat, aku tidak mau kau sakit begini, kau harus kuat dan kembali sehat," isak tangis Darren di keheningan malam.


Amira membuka matanya secara perlahan, terdengar isak tangis Sang Suami. Ia segera menggerakkan jarinya dan segera memanggilnya.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Amira dengan suara beratnya.


"Kau sudah bangun, aku akan panggilkan Dokter. Seharian ini kamu pingsan dan tidak sadarkan diri," sahut Darren tersenyum.


"Keu menangis? Aku baik-baik saja lihatlah aku sudah sadar kembali," ucap Amira menghapus air mata yang menetes dari mata suaminya.


Hatinya terasa sakit melihat perhatian Amira kepadanya. Cinta mereka begitu kuat, tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua kecuali maut.


"Kau harus segera sembuh, apakah kau tahu, di dalam perutmu ada buah hati kita. Kau harus segera sehat, aku yakin kau sehat kembali," ucapan Darren membuat Amira tidak mengerti. Dirinya merasa tidak apa-apa selain pusing dan mual. Amira senang bahwa dirinya sedang mengandung. Tapi Darren tidak menceritakan penyakitnya, dia belum siap mungkin lain waktu dia akan membahasnya.


"Pantesan, bulan kemarin aku tidak datang bulan. Sebentar lagi aku akan mengandung dan merasakan tendangan si kecil," seru Amira membuat Darren semakin sakit perasaanya.


Dokter Wiliam datang untuk memeriksa Amira kembali.


****


"Adrian aku sudah kenyang, kalau begini bagaimana nanti aku memakai baju pengantin wajahku tembem gara-gara makan banyak tengah malam," seru Aida.


Adrian terus memaksa Aida makan sebelum minum obat. Terpaksa Aida juga harus memakannya, mereka berdua semakin akrab dan tanpa dan ocehan dari keduanya. Cinta mampu membunuh rasa dendam di antara mereka berdua.


Aida mengangguk dan segera minum obat karena jam juga sudah menunjukan pukul sebelas malam. Adrian menatap penuh cinta wanita yang selama dia benci dan melampiaskan semua dendamnya ternyata hanya kesalahpahaman. Ia bingung bagaimana kalau nanti Tama tahu tentang semua ini, bahwa orangtua Tama dan Aida ada dendam di masa lalu. Dia tidak bisa membayangkan Tama pasti tidak terima dengan semua ini, ia mengusap wajahnya gesar dan segera keluar kamar. Sebelum keluar Adrian mengecup kening Aida, tapi tangannya segera Aida mencegah Adrian untuk pergi keluar.


"Aku belum tidur, rasanya cemas yang ada di pikiranku. Mamah Amira apakah dia baik-baik saja, besok kita segera menemuinya?" Pinta Aida membuka mata membuat Adrian cengengesan.


"Aku kira kau sudah tidur, tidurlah tidak ada yang perlu di pikirkan semua baik-baik saja," seru Adrian dia mendekatkan wajahnya, hembusan nafasnya sudah tercium oleh Aida. Adrian pun segera melahap habis bibir Aida, mereka pun berci*man di malam yang sangat sunyi.


***


Anis baru pulang dari restoran, dia menghabiskan waktu sendiri untuk menghibur hatinya yang terluka. Dokter Wiliam yang baru saja pulang dari rumah sakit melihat Anis yang sedang berdiam diri di bawah lampu jalan.


Ia segera menghampirinya, karena melihat wajah Anis tidak asing baginya.


"Itukan, wanita yang tadi pagi di taman," seru Dokter Wiliam langsung mendekati Anis.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.