
Mamih Sonya menghubungi suaminya tapi tidak aktif. Ia segera menghubungi Tama tapi sama tidak aktif, ia bergetar hebat mendengar info pesawat yang di tumpangi anaknya kecelakaan.
Mobil yang di tumpangi Mamih Sonya terkena macet, ia sangat gesar karena ingin tahu persoalan anaknya.
"Kenapa mobilnya berhenti!" Pekik Mamih Sonya marah besar kepada supir.
"Ma-af Nyonya, kita terkena macet parah," sahutnya takut.
"Alasan, gas terus aku tidak mau anakku kenapa-napa. Kalau sampai dia meninggalkan'ku di sini, kau yang harus aku salahkan," ancam Mamih Sonya.
"Kenapa harus saya Nyonya, itu sudah takdir dari yang maha kuasa," sahut kembali kang Supir. Tapi malah kena semprot lagi dari Mamih Sonya.
"Kenapa wanita ini sangat menyebalkan sekali," gerutu kang Supir.
Satu jam mereka menunggu kemacetan, ia baru saja tiba di bandara. Info itu valid, pesawat yang di tumpangi Tama mendadak meledak di atas udara tidak ada yang selamat satu orang pun. Mamih Sonya pingsan saat ada nama anaknya yang tertera di layar monitor. Nama anaknya sangat jelas di matanya, membuat ia tidak sadarkan diri.
"Tama."
Semua orang berkumpul untuk membantu Mamih Sonya. Salah satu satpam menggendongnya ke ruangan khusus untuk menenangkan Mamih Sonya.
"Kenapa wanita ini sangat berat sekali, menyusahkan saja. Baru saja pesawat kecelakaan semua orang panik, dia baru tiba langsung pingsan. Nyonya kau ini makan apa sih membuatku keram saja saat membawamu kemari," gerutu Pak Satpam.
Mamih Sonya pun di tangani sama petugas lain untuk menyadarkan dirinya. Ia bergumam menyebut nama anaknya, ia menangis, setelah sadar pingsan lagi.
"TIDAK."
Semua orang yang ada di ruangan sempat kaget mendengar jeritan Mamih Sonya. Tidak lama pingsan kembali.
"Wanita aneh, dia tidak waras," ucap salah satu wanita yang ada di ruangan tersebut.
Di rumah Aida.
Telah tiba Adrian juga Aida, mereka terlihat sangat lelah sehingga langsung ke dalam kamar. Aida menerima tlp dari Anis, ia segera mengangkatnya.
"Hallo?" ~ Aida.
"Aida, kau sudah tahu? Tama kecelakaan di dalam pesawat saat dia mau ke sini?" ~ Anis.
"Hahh, Tidak. Apa kau salah info! Dia ada di luar negeri Nis." ~ Aida.
"Tidak, dia mau pulang ke sini, dia juga memberitahuku bahwa dia mau pergi menggunakan pesawat yang saat ini kecelakaan." ~ Anis.
Tama, cinta monyetnya yang masih membekas dalam ingatan Aida. Ia sudah menganggap Tama sebagai Kakaknya, dan menerima takdir mereka.
"Kak, Tama. Ahh tidak ini mungkin salah," ucap Aida bergetar dan jatuh ke atas lantai.
Adrian segera membalikan badan setelah ia menyimpan jaketnya di gantungan baju. Melihat Aida jatuh lunglai segera Adrian berlari.
"Sayang, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang bisa membuatmu menangis?" Tanya Adrian. Tapi hanya tangisan yang Aida keluarkan. Mulutnya mencakup bergetar, tidak dapat di bayangkan, pertemuannya di taman minggu lalu adalah terakhirnya Aida melihat wajah Tama.
"Kak, Tama. Tidak dia masih hidup!" Pekik Aida memeluk Adrian.
"Sayang, apa yang kamu katakan, Tama masih ada dia di luar negeri," ucap Adrian. Ia pun segera menggendong istrinya ke tempat tidur dan segera memberikannya air putih.
Adrian tampak berpikir, Aida masih menangis dalam dekapannya. Dirinya pun segera mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan singkat kepada seseorang.
"Kau tenanglah dulu, kita lihat apakah Tama termasuk korban pesawat itu," ucap Adrian menenangkan istrinya.
"Semoga saja sayang, dia sudah aku anggap sebagai Kakakku. Kasian Anis dia juga menangis," sahut Aida. Adrian segera menghapus air matanya dengan sangat lembut.
"Tidurlah, kau masih sangat lelah, besok kita kerumah Tama," usul Adrian yang di angguki Aida.
Di tempat lain.
Anis menangis mengingat kepergian Tama yang membuat hatinya sakit. Kini Anis berada di restoran yang pernah dia kunjungi sebelumnya. Ia terus terisak tangis sambil terus menghubungi nomor ponsel Tama tapi, tidak kunjung aktif.
"Kak, Tama. Aku tidak tahu kau masih hidup atau tidak. Tapi semoga ada keajaiban," isak tangis Anis. Seseorang memberikan sapu tangan berwarna coklat, tercium sangat wangi di hidungnya. Anis mencoba mengambil sapu tangan itu tanpa menoleh ke arah seseorang yang telah memberikannya.
"Kau tidak mau berterima kasih padaku," ucap seorang pria dan segera duduk di depan Anis.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.