
Satu hari telah berlalu, semenjak kabar kematian Tama, Aida mulai menerima semuanya walaupun dirinya menolak bahwa kabar itu palsu. Adrian terus meyakinkan bahwa Tama memang sudah tidak ada lagi di dunia ini supaya Aida tidak terlalu memikirkannya lagi dan menerima dengan lapang dad*.
Hari ini Aida dan Adrian sudah siap memakai baju serba hitam untuk datang ke rumah Mamih Sonya. Walaupun semua tidak yakin Aida apakah di terima sebagai tamu oleh Mamih Sonya atau sebaliknya. Aida hanya bisa diam mengenakan kacamata cukup besar berwarna hitam untuk menutupi matanya yang sembab. Adrian terus menenangkan istrinya dengan cara memegang tangannya, sampailah mereka di rumah Tama. Rumah megah berwarna kuning keemasan itu membuat Aida cukup ragu untuk turun dari mobil.
"Mamih Sonya pasti menerimamu, lagian Tama meninggal bukan salah siapa-siapa," bujuk Adrian meyakinkan istrinya agar tidak perlu takut bertemu dengan Mamih Sonya.
Aida menghembuskan nafasnya berat sebelum dirinya membuka pintu mobil. Seseorang sedang memperhatikan gerak-gerik Aida juga Adrian memakai topi hitam, kaca mata hitam dan jaket hitam. Dirinya berada dalam mobil, matanya tidak pernah lengah memperhatikan rumah megah yang ada di depannya.
"Ayo sayang kita masuk," ajak Adrian menggandeng tangan istrinya. Mereka pun berjalan mengikuti tamu yang turut hadir. Banyak karangan bunga bertulisan turut berduka cita. Adrian hanya bisa tersenyum dan segera masuk, masih terdengar suara tangisan Mamih Sonya di telinga Aida. Meraung tanpa ada seorang pun yang menemaninya, suaminya entah kemana perginya. Sejak keluar penjara Mamih Sonya tidak pernah bertemu lagi dengannya.
Aida memberanikan diri untuk mendekati dan memberikan ucapan bela sungkawa kepada Mamih Sonya.
"Turut berduka cita Bu," ucap Aida di hadapan Mamih Sonya dan meraih tangannya untuk meminta salam.
Tapi yang di dapat bukannya balasan terima kasih akan tetapi hinaan, caci maki yang keluar dari mulut jahanamnya. Ini tidak seperti yang Adrian juga Aida bayangkan, dirinya di permalukan di hadapan semua tamu yang datang.
"Dasar wanita jal*ng, lihatlah kalian. Wanita ini yang sudah menghancurkan hati anakku, dia yang telah menyebabkan anakku meninggal. Pergi dari rumah suciku, wanita kotor sepertimu tidak pantas berada di sini," marah Mamih Sonya sambil menatap tajam ke arah Aida.
Adrian segera memeluk istrinya yang saat ini duduk diam mencakup bibirnya. Ia bergetar hebat, air mata mengalir begitu saja, ingin rasanya Aida melawan tuduhan yang tidak sesuai ucapannya. Tapi dia memikirkan Tama, Aida tidak mau melawan orangtua sahabatnya yang kini sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Ma-afkan saya Bu, sungguh ini bukan salahku," bela Aida.
"Cukup, Tante. Kau tidak perlu menuduh istriku yang bukan-bukan. Kalau Tante membenci orangtua istriku silahkan tapi kau harus ingat. Dia sudah meninggal juga kau yang menyebabkan orangtua Aida meninggal dunia. Dan sekarang kau seenaknya menuduh istriku yang bukan-bukan. Saya peringatkan yah Tante, sebaiknya kau bertaubat cukup sampai di sini tuduhan murahanmu itu," pekik Adrian membela Aida sambil memeluknya.
Tidak di sangka, Mamih Sonya pun berdiri dan segera berjalan ke arah lain. Dia mengambil pistol dari laci lemari yang tidak jauh dari kerumuman tamu. Semua orang berhamburan keluar karena takut melihat Mamih Sonya mengeluarkan senjata api yang akan mencelakai Aida.
"Diamlah, saya tidak akan segan-segan membunuh wanita sialan ini di hadapanmu," ancam Mamih Sonya.
"Menyingkirlah Adrian," pekiknya.
Dan senjata api itu Mamih Sonya pun segera menekannya. Terjadilah suara yang sangat mengerikan dari dalam rumah megah itu. Semua orang menjerit, satpam pun mencoba melerai Mamih Sonya tapi semua sia-sia saja.
"Ini untuk kamu yang telah berani memikat hati anakku. Semua sudah berakhir aku akan membunuhmu sekarang juga," ucap tajam Mamih Sonya menodongkan senjata dan berjalan ke arah Adrian yang berusaha melindungi Amira.
Dor ... Dor ...
Darah mengalir dari balik tubuh Adrian, semua orang semakin menjerit dan ada pula yang segera menghubungi polisi keadaan ini sangat genting.
"TIDAK."
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
VOTE
HADIAH
RANTING 5.
KOMEN