
Pesta sudah selesai, Hendra mencari Rachel tapi tidak ada di mana-mana. Menghubungi ponselnya pun tidak di angkat oleh anaknya perempuannya itu.
"Rachel di mana kamu Nak," batin Hendra berlalu pergi meninggalkan pesta. Pikirnya mungkin sudah pulang ke rumahnya tanpa memberitahukan dirinya.
Wiliam terus memperhatikan Anis yang sedang berjalan menuju parkiran. Ia hanya bisa menatapnya dari kejauhan, tapi terlihat Anis kebingungan. Wiliam menyeringai dan segera menghampirinya.
"Kau di sini juga," ujar William mendekati Anis.
Anis terkejut karena tiba-tiba saja Wiliam datang dari arah belakang. Ia menghembuskan nafasnya pelan karena kaget.
"Dok, aku ke sini karena di undang oleh temanku Aida," sahutnya sambil kembali menghubungi seseorang. Anis berdecak kesal ban mobilnya mendadak kempas tidak seperti biasanya padahal sebelum pesta di mulai mobilnya baik-baik saja.
"Ban mobilku kempes, mungkin aku harus cari driver online saja," ucapnya sambil cemberut.
"Kau pergilah denganku, aku antar kau sampai rumah," sarannya.
"Hmm ... boleh, maaf yah merepotkan'mu lagi," sahutnya sambil tersenyum manis.
Deg.
Senyuman itu persis seperti mantan istrinya di saat mereka masih bersama. Entah mengapa Wiliam berharap Anis adalah jodohnya.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, Anis duduk dengan membawa hati berdebar-debar membuat wajahnya merah merona.
Tiba-tiba saja, Wiliam mendekatkan dirinya hingga wajah mereka beradu pandang. Keduanya saling menatap tidak lama Wiliam tersadar dan segera memakaikan salt belt untuk Anis.
"Pakai pengaman, kau ini geer sekali," ungkapnya membuat Anis memalingkan wajahnya.
"Terima kasih," ucap Anis menahan malu. Wiliam hanya tersenyum tipis melihat gelagatan Anis.
Sampai perjalanan mereka tidak membuka suara satu sama lain. Hingga akhirnya Wiliam memberanikan diri untuk bertanya sesuatu pada Anis.
"Kau yang sering mengirim aku makanan ke rumah sakit bukan," ujarnya sambil terus fokus mengemudikan mobil.
"Ti-dak, kau salah paham," sahutnya cepat. Anis lupa dulu Wiliam mengembalikan rantang pink miliknya.
"Jangan suka menangkal kebenaran, diam-diam kau menyukaiku kan?" Goda Wiliam membuat Anis semakin tidak berkutik.
"Jangan geer dulu Dok, aku hanya," ucapannya tidak di lanjutkan.
"Hanya apa?" Desak Wiliam.
****
Aida sudah selesai menyediakan baju tidur untuk suaminya yang sedang membersihkan dirinya.
Adrian keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk kecil melilit di bagian pinggangnya. Rambut basah mengalir dari rambutnya membuat kesan seksi pria itu terpancar. Aida menghampiri Adrian membawa handuk untuk mengeringkan rambut basahnya.
"Kau belum tidur?" Tanya Adrian duduk di tepi tempat tidur. Aida segera menggulingkan handuk ke kepala suaminya.
"Aku baru saja membuatkan teh hangat untukmu, biar tidak masuk angin," sahutnya. Setelah selesai mengeringkan rambut suaminya. Tangan Aida Adrian genggam, ia segera menci*m bibir ranum istrinya. Pungutan itu terputus, Adrian menatap penuh cinta, Aida tampak lebih cantik malam ini.
"Apa kau tidak akan meninggalkanku?" Tanya Adrian.
"Kau ini, aku tidak akan meninggalkanmu, aku mau menyimpan handuk ini ke kamar mandi," ujarnya melangkah pergi.
Entah mengapa, Adrian sangat takut terjadi sesuatu kepada Aida. Mengingat dia menerima notif pesan dari nomor baru bahwa Aida akan meninggalkannya dalam waktu dekat ini.
Adrian sudah menyuruh temannya untuk melacak nomor ponsel orang tidak di kenal.
"Siapa orang itu, berani sekali dia mengancamku," geram Adrian.
*****
Permainan Rachel masih berlanjut, dia menger*ng begitu nikmat surga dunia yang dia rasakan. Dino berhasil mendapatkan tubuh indah Rachel secara gratis.
Tubuh keduanya di basahi keringat panas, berbagai pose sudah mereka pakai. Kini Rachel sedang asyik menikmati sentuhan yang di berikan oleh Dino.
"Kau sangat menyukai ini?" Bisik Dino sambil menghujam Rachel dengan sangat penuh cinta. Rachel mengangguk tidak bisa menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Dino.
"Aku akan menikahimu," ucapnya lagi, tapi Rachel tidak begitu mendengarkan ucapan Dino dia menikmatinya dengan sangat indah. Bahkan ponselnya berbunyi pun tidak dia hiraukan.
****
Adrian menerima notif pesan dari temannya untuk melacak nomor baru yang telah berani menerornya. Orang itu menyebut nama Rachel membuat Adrian mengepal geram.
"Dasar wanita tidak tahu diri," geram Adrian menghembuskan nafasnya emosi.
Dia tidak akan membiarkan rencana Rachel berhasil. Aida akan di kawal dua bodyguard mulai besok untuk menjaganya.