
Dua Minggu sudah berlalu.
"Sayang, Aida besok sudah bisa pulang, apa kamu sudah membaik?" Tanya Darren.
"Lumayan, pokoknya kamu jangan memakai parfum dulu, aku tidak suka bau farpummu," ujar Amira. Darren hanya gemas melihat ibu hamil setiap hari memakai masker hanya gara-gara mabuk wewangian.
"Sudah lama kita tidak melakukan hubungan suami Istri. Aku kangen mendengar suara indahmu sayang," bisik Darren ke telinga Istrinya.
"Dasar mesum, sabarlah dulu, kalau misal rasa mual ini sudah berlalu aku akan melayani'mu lagi Aku mencintaimu," seru Amir membalikan tubuhnya supaya berhadapan dengan suaminya.
"Aku Suami sabar untuk hal ini, setelah nanti rasa mualmu reda aku akan menerkammu. Sungguh aku tersiksa saat ini," lirih Darren membuat Amira tertawa kecil.
"Kau ini tidak sabaran, setelah kehamilanku sudah besar. Aku ingin kamu yang ada untuk menemaniku di saat aku berjuang melahirkan," ucap Amira menatap sendu.
"Itu sudah pasti, kamu tenang saja, aku akan menemanimu sampai kapanpun," seru Darren memeluk kembali Istrinya.
Flashback.
"Kehamilanmu sangat rentan, awal mula kehamilan ini akan normal. Tapi tahukah kamu di usia nya menginjak 6 atau 7 bulan ada bahaya menimpamu. Sekarang kau harus memilih mengugurkan kandungan ini atau nyawamu taruhannya," ucap Dokter.
Serasa di sambar petir siang bolong setelah mengetahui apa yang akan terjadi saat usia kehamilannya. Amira mengandung tetapi ada penyakit ganas yang dia indap, kalau saat ini kandungan itu akan di gugurkan Amira akan selamat akan tetapi kalau tidak nyawa Amira taruhannya. Dokter sudah bersikeras untuk menggugurkan kandungannya, tapi Amira tidak mau menghilangkan nyawa bayinya sendiri rasanya itu tidak mungkin untuk di lakukan olehnya.
"Bayi ini tidak berdosa, aku tidak mau membunuhnya. Tolong Dok lakukan sesuatu untuk bayiku," isak tangis Amira. Dokter Mita hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Amira tidak mau mengambil tindakan.
"Aku harap kalian bisa baik-baik saja setelah tahu apa yang terjadi di kehamilan kamu," ucap Dokter Mita menghembuskan nafasnya besar.
Flashback off.
"Sayang kenapa kamu melamun?" Tanya Darren.
"Dia sudah berangkat ke sekolah, malam tadi dia baru pulang dari rumah sakit menemani Aida. Kita sarapan bareng, aku mau kamu yang menyuapiku," seru Darren.
"Aku ingin kamu selalu ada untukku, kau mau berjanji padaku?" Tanya Amira menatap sendu.
"Apa sayang, cepat katakan!" Ujar Darren.
"Bila nanti aku tidak ada lagi di dunia ini, apa kamu mau menjaga Aida untukku bersama Anak kita nanti," ucap Amira membuat Darren kaget apa yang telah dia dengar.
"Apa maksudmu, kau ini jangan bicara seperti itu, aku tidak suka. Kalian akan ada di hatiku selamannya kita akan melewati masa-masa indah kita bersama juga kita akan merawat kedua anak kita," seru Darren memeluk erat.
Amira hanya bisa meneteskan air matanya. Baginya untuk membicarakan masalah penyakit yang dia derita bukanlah saatnya. Ia kan menutup rapat masalah ini, Amira juga sedang berjuang untuk kesembuhan demi buah hati juga dirinya.
Tidak ada kecurigaan di dalam benak Darren, ia fokus pada kehamilan Istrinya Amira belum sanggup mengatakan semua rahasia ini padanya. Baginya mengatakan hal ini tidaklah mudah sesuai apa yang di pikirkannya, dia harus memberanikan diri memulai perkara yang tengah dia hadapi. Dua Minggu Amira baru sadar tengah mengalami penyakit yang di deritanya. Rasa mual itu efek dari obat yang dia minum, sering kali Amira merasakan sakit di bagian perutnya tapi lagi-lagi Amira hanya menyangkal bahwa itu efek kehamilannya saja.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.