
Rachel segera di tangani oleh pihak polisi karena telah berani menyerang rumah orang dengan membawa senjata api. Untung saja asisten rumah tangga mereka berhasil menghubungi pihak kepolisian sehingga bisa membuat Rachel di tangkap.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada anakmu," batin Rachel.
Rachel telah mengorek informasi mengenai keluarga Amira. Ternyata dia mengenal Adrian, salah satu mantannya tahun lalu sebelum Adrian menikah dan masih bermusuhan dengan Aida. Rachel berinisiatip untuk menghancurkan rumah tangga Adrian dengan Aida.
Darren datang bersama Surya melihat keadaan rumah mereka sudah tenang, mereka berdua segera mencari sosok istri-istrinya.
"Sayang, kau tidak kenapa-napa'kan?" Tanya Darren pada Amira yang ada di kamar bersama Clara.
"Tidak, untung saja polisi tepat waktu untuk menangani Rachel yang mengamuk," sahutnya.
Clara pun segera pamit pulang karena Ibu Farrah masuk rumah sakit akibat jatuh di kamar mandi.
"Kak, Clara pamit dulu. Amira cepat sembuh sayang," ucap Clara memeluk hangat Amira.
Mereka pun pergi dan langsung ke rumah sakit.
Di tempat lain.
Dokter Wiliam termenung karena sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Anis. Dia hanya bisa duduk diam di sebuah restoran yang pernah Anis datangi.
Anis datang membawa hatinya yang sangat hancur karena Tama masih belum membuka hatinya untuknya, walaupun Anis mengatakan bahwa dirinya masih mencintai Tama. Rupanya Tama masih belum menerima Anis di dalam hatinya.
Ia mengedarkan pandangannya ke sisi pojok restoran. Dokter Wiliam duduk diam di temani makanan di atas meja. Anis pun segera menghampirinya untuk sekedar menyapanya.
"Pak Dokter," seru Anis tersenyum di hadapannya.
Dokter Wili tercengang kedatangan Anis membuat hidupnya lebih berwarna. Dengan reflek Dokter Wiliam memeluk hangat Anis.
Anis tercengang dengan apa yang di terimanya dari Dokter Wiliam.
"Dok."
Wiliam tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Anis hanya bisa tersenyum kikuk karena tiba-tiba saja dirinya di peluk oleh Wiliam pria tampan.
"Maaf," ucapnya sambil tersenyum malu.
"Hmmm ... kau sangat menyebalkan, aku takut karena kau Duda," ujar Anis tanpa di saring membuat Wiliam terdiam.
"Memangnya kenapa kalau aku Duda?" Tanya Wiliam pura-pura tidak mengerti.
"Sudahlah lupakan, Dokter di sini ngapain?" Tanya Anis menyelidik.
"Hmm ... boleh asal kau teraktir aku bolehkan?" pinta Anis kembali membuat Dokter Wiliam hatinya berbunga.
Di luar Negeri.
Aida ingin sekali di peluk hangat oleh Adrian, sejak hamil keinginan Aida untuk bercint* dengan Adrian semakin meningkat.
"Sayang, aku pengen?" Pinta Aida tanpa malu dia sudah duluan menyosor Adrian yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.
"Tapi mainnya pelan-pelan saja yah, kasian bayi ada dalam perutmu masih kecil," ujar Adrian yang segera di angguki oleh Aida.
Mereka pun pergi ke dalam kamar untuk lembur. Adrian menggendong istrinya masuk ke dalam kamar, Aida menci*m lembut bibir suaminya. Ini yang di harapan Adrian, Aida mulai agresif. Mungkin efek hamil dan hormonnya meningkat Adrian sangat menyukai permainan yang di berikan istrinya.
Aida membuka kancing kameja suaminya, dia menelusuri tubuh kekar itu dengan hasrat yang menggebu di hatinya. Aida menelusuri setiap inci tubuh indah itu dengan memberikan sensasi yang luar biasa.
Adrian segera membalikan tubuh istrinya dia membuka perlahan pakaian yang di kenakan Aida. Ia mencium gunung kembar itu dan segera melum*tnya.
Aida terengah merasakan sentuhan dan ci*man suaminya sangat nikmat di rasakannya.
Permainan yang di inginkan Aida, dia ingin lebih lama entah mengapa Aida suka sekali pemanasan yang di berikan suaminya.
Adrian menci*m habis bib*r juga tubuh istrinya, erangan itu begitu indah di dengar oleh Adrian. Aida sangat menikmati setiap sentuhan gang di berikan Adrian.
"Kau siap?" Tanya Adrian menatap wajah cantik istrinya yang sedang merasakan kenikmatan surga dunia. Aida mengangguk tanda sudah siap.
Dia segera menancapkan kepemilikannya ke gua yang sangat indah begitu rindang. Mereka mulai bermain, tubuh mereka di basahi keringat panas. Aida sangat menikmatinya dengan sangat baik, walaupun hujaman yang di berikan oleh Adrian sangat hati-hati. Tapi Aida sangat menyukainya.
Dia mengerang begitu indah malam yang sangat indah ini di temani hujan yang gemericik di malam hari. Aida mencengkram kuat sprei oleh tangannya dan beralih ke kepala suaminya. Rambut suaminya dia cengkram menahan rasa nikmat yang menggelora di jiwanya.
"Aahhh, aku sangat menyukainya," bisik Aida.
"Aku akan selalu memuaskanmu sayang," balas Adrian di telinga istrinya dengan nafas terengah.
Mereka bermain sepuas mereka pada akhirnya pelepasan ke satu mereka telah sampai puncaknya. Tubuh keduanya lunglai tidak berdaya, Aida tersenyum puas.
"Aku mencintaimu," bisik Adrian.
Aida menghadap ke arah suaminya, dia menci*m bib*nya sekilas dan segera memeluknya.
"Terima kasih, apa kau janji tidak akan meninggalkanku?" Tanya Aida.
"Kenapa kau bilang begitu, aku akan selalu ada untukmu, kau milikku dan aku milikmu," seru Adrian memeluk hangat Aida dalam dekapannya.