
Darren sudah berada di dalam perjalanan, sebentar lagi mereka tiba di lokasi apartemen Ayu. Aida terus menghubungi Papah-nya akan tetapi tidak di angkat membuat Aida cemas di buatnya.
Di apartemen.
Amira tersadar dirinya ada di kamar orang tidak di kenal. Mulutnya di perban rapat juga kaki tangannya di ikat kencang, entah mengapa dirinya seperti ini. Terakhir dia ingat dirinya di bius oleh dua orang pria tidak di kenal, terdengar suara orang di luar pintu. Sayangnya Amira tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa berdo'a dan menangis. Semoga suaminya segera datang untuk menolong dirinya.
"Sayang, sebentar lagi ada pertemuan di restaurant untuk bertemu rekan bisnis. Supaya kita dapat keuntungan besar dari perusahaan miliknya untuk masa depan kita, aku tinggal sebentar tidak masalahkan?" Tanya Hendra.
Ayu sangat senang, rupanya Hendra datang mendadak ke sini untuk bertemu rekan bisnisnya. Ia merasa beruntung sekali karena rencananya akan terus berlanjut dan berhasil sesuai rencana yang telah dia susun.
Hendra berpamitan untuk berangkat, senyuman Ayu mengembang di saat suaminya sudah pergi ke luar apartemen. Sebelum Hendra pergi, seperti biasa menci*m kening Ayu juga sebaliknya Ayu menci*m tangan Hendra.
"Pergilah sayang, aku tidak mau kau menghancurkan semua rencanaku. Sebelum dia pulang, aku harus segera melenyapkan anak sialan itu," seru Ayu menutup pintu apartemen dan segera berlari ke arah kamar di mana Amira di sekap di dalamnya.
Ayu segera mengeluarkan kunci kamar dari saku celana yang dia pakai. Knop pintu terbuka secara perlahan, Amira seketika juga melihat ke arah sumber suara. Dirinya syok siapa yang datang dari balik pintu itu, wajah Ayu tersenyum menyungging. Amira tercengang tidak percaya atas apa yang dia lihat, penculik-nya bukanlah orang luar bahkan Amira mengenalnya.
Ayu berjalan ke arahnya lalu duduk menghampiri Amira yang terus menangis dan memintanya untuk melepaskan ikatan tali tambang yang memlilit kaki juga tangannya.
"Amira sayang, kau pasti syok melihatku di sini, kau belum tahu siapa aku sebenarnya," ujar Ayu sambil tertawa kecil membelai wajah Amira yang sudah pasrah dan tidak tahu masalah apa yang menghadapi dirinya.
Sreett ....
Lakban dari mulut Amira di buka sangat kencang membuat Amira merasakan sakit yang amat. Air mata terus menetes berharap ada keajaiban orang yang akan menolongnya saat ini, ia tidak tahu harus bagaimana, Ayu terlihat menakutkan baginya.
"Mah."
"Apa maksudnya?" Tanya Amira bergetar.
"Rupanya Ibu'mu belum menceritakan masalalu. Sangat di sayangkan, tapi tidak masalah itu berarti kau sangat bodoh Amira. Kau tahu! Saya keponakan Ibu'mu Amira yang merebut suaminya dari kehidupan yang sangat bahagia di masalalu Ibu'mu," ucapannya menusuk relung hati Amira.
Ibunya tidak pernah bercerita tentang kisah yang sebenarnya. Bibirnya mencangkup tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menjawab ucapan Tante Ayu.
"Dengarkan aku baik-baik, di masalalu tidak ada yang percaya padaku. Mereka sibuk memperhatikan Ibu'mu yang sialan itu, rencananku berhasil membuat tes DNA palsumu. Semua orang percaya bahwa kau bukanlah darah daging dari Hendra yaitu Ayahmu sendiri. Ibu'mu di usir dan di coret dari harta warisan keluarga semua jatuh ketanganku termasuk Ayahmu jatuh kepelukanku. Memang aku adalah keponakannya, tapi kedua orangtua Ibumu tidak punya anak selain Ibumu. Setelah tahu orangtuamu itu hamil anak orang, dia di usir oleh keluarga'nya sendiri tidak ada yang mencemaskan dirinya. Kau dan Ibu'mu hidup miskin, di kampung orang, Amira kau tahu! Orangtua Ibumu mengangkat saya sebagai anaknya karena telah membongkar siapa Ibu'mu yang sebenarnya. Akhirnya Ibu'mu susah mati hahhaha," terang Ayu sambil tertawa bahagia.
Amira merasa sesak setelah tahu apa yang terjadi di masalalu Ibunya. Ternyata pelakor dalam rumah tangga orantuanya adalah keponakannya sendiri. Amira menangis menahan sesak juga terlintas di pikirannya saat-saat dirinya menderita di kampung. Sampai-sampai Ibu-nya sakit hanya karena memikirkan kenyataan pahit, dia memendam kesakitannya sehingga menjadi penyakit dalam tubuhnya sampai akhirnya meninggal dunia.
Air mata terus berjatuhan, Ayu belum cukup puas untuk memberi pelajaran kepada Amira. Dia berjalan ke arah meja yang di sana sudah ada pisau tajam.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.