
"Kau sudah gila! Dengar Adrian, aku bukan wanita murahan yang mudah kamu rayu dan kamu tipu. Mulai malam ini kita akhiri sandiwara murahanmu itu," desis Aida berlalu pergi meninggalkan Adrian yang sedang menatap tajam ke arahnya. Tidak terima dirinya di perlakukan rendah oleh seorang wanita, baru kali ini Adrian di injak-injak harga dirinya.
Aida menaiki tangga menuju kamar, baginya ia sudah cukup puas mengambil tindakan ini pada Adrian. Aida ngin sekali bilang kepada orangtuanya bahwa Adrian tidak sebaik yang mereka pikir. Tiba-tiba saja pergelangan tangan Aida di tarik oleh Adrian sehingga mereka beradu pandang kembali. Mata indah itu masih tetap seperti dulu, tubuh Aida pun Adrian rangkul setelah itu ia segera membawanya ke dalam kamar.
"Lepaskan aku Adrian, kau memang Pria brengs*k!" Pekik Aida. Namun, tidak di hiraukan oleh Adrian.
"Diam, atau kau akan kehilangan kesucianmu malam ini. Aku tahu Aida, kau juga sering bermain Pria di luar sana," ujar Adrian tanpa rasa bersalah telah menuduhnya yang bukan-bukan.
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi kanan Adrian, mata Aida merah menahan air mata yang akan jatuh mengalir.
"Dengar! Kau boleh hina aku semampu yang kamu mau, tapi ingat! Buang semua pikiran kotormu. Aku bukan wanita yang kamu tuduhkan Adrian, kau boleh membandingkan aku dengan Nancy tapi aku tidak seperti yang kamu tuduhkan," seru Aida marah.
Adrian hanya terkekeh mendengar semua ceramah yang di lontarkan Aida kepadanya. Selama ini Adrian memang menunggu Aida untuk dia nikahi, tapi di balik itu ada niat busuknya untuk menghancurkan Aida.
"Dengar! Om Darren tidak akan membiarkan kamu menolak pernikahan kita. Aku mau kau melayaniku malam ini, atau tidak! Lihat apa yang akan aku lakukan padamu jika kamu berani menolaknya," bisik Adrian di telinga Aida. Ucapan itu penuh gairah, Aida tidak bisa berkata-kata lagi. Sebisa mungkin dirinya ingin lepas dari cengkraman maut yang menyesatkannya.
"Jika kamu berani padaku, aku akan melakukan bunuh diri," ancam Aida.
Tidak lama, Adrian menyeringai dan tidak menghiraukan Aida sedikit pun. Ancamannya tidak akan pernah mempan untuknya.
"Wajah cantikmu, sungguh sayang bila aku tidak mencicipi setiap helai rambut juga setiap inci kulit putih mulusmu ini," goda Adrian membelai rambut, pipi Aida. Tubuh mereka semakin mendekat, dirinya memberontak tapi apa daya, tenaga Adrian lebih kuat darinya.
"Brengs*k kau, aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Kau Pria tidakb tahu diri, dasar gila," seru Aida menendang kepemilikan Adrian. Setelah itu ia memberanikan dirinya untuk mendorong Adrian ke luar dari kamar pintunya pun segera Aida tutup dan menguncinya.
"Sial," pekik Adrian mengacak rambutnya setelah itu ia pergi meninggalkan kamar Aida sambil menahan rasa sakit di bagian intinya.
Aida mencoba mengatur nafasnya, hatinya menggebu. Tidak dapat di pungkiri entah dari mana keberanian untuk mengusir Adrian dari hadapannya begitu kuat. Aida duduk sambil menahan emosinya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat nama Tama di layar ponsel miliknya. Hatinya berbunga, cinta pertama, juga pandangan pertamanya sudah kembali. Tapi ada yang mengganjal, Aida mengingat Anis sahabatnya bagaimana mungkin Aida menggoda dan merayu Tama. Ia pun mengurungkan niat untuk mengangkat sambungan tlp-nya.
Beberapa hari lalu, Aida bertemu dengan Tama di sosial media setelah beberapa tahun mereka tidak bertemu. Mereka pun akhirnya bertukar nomor ponsel, sejak saat itu Aida masih berharap pada Tama. Tapi kepulangannya ke Indonesia Aida belum memberitahukan hal itu padanya. Namun,Tama sudah tahu dari kedua orang suruhannya bahwa Aida sudah tiba di indonesia.
"Andai orangtua kak Tama tidak membenciku, aku bisa bebas bertemu dengannya," ucap lirih Aida.
Adrian.
Aida.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.