
"Sayang, Aida sudah mendapatkan pendonornya, kamu segeralah pulang aku menunggumu di sini," seru Amira memberitahu bahwa Aida sudah membaik dari masa kritis. Sambungan tlp pun terputus setelah itu Darren segera masuk mobil. Sudah lima rumah sakit yang di kunjungi Darren untuk mancari pendonor. Namun, hasil nihil tiga jam sudah mereka akhirnya mendapatkan pendonor untuk Aida.
Sekarang Aida sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap. Amira merasa lega, cemas yang ada di hatinya sekarang sudah hilang. Kini tinggal menunggu Aida sium*n, Adrian'lah yang sudah mendonorkan darahnya untuk Aida. Tidak menunggu waktu lama setelah tahu darah apa yang mereka butuhkan. Adrian segera menemui Dokter untuk mengambil darahnya.
Selang infus juga selang oksigen menempel sempurna di tubuh Aida. Amira masih duduk menunggu kesadaran anaknya, Ken sudah keruangan di mana Lusi sedang berbaring. Mengetahui Ken menyelamatkan Aida, ada rasa cemburu di benak Lusi. Adrian kini sudah di tangani Dokter dan di rawat untuk pemulihan tubuhnya.
"Sayang cepat sembuh, Mamah di sini khawatir padamu," ucap Amira mengecup tangan Putrinya.
Darren datang setelah mengetahui Putrinya sudah baik-baik saja. Dia merasa tenang, melihat orang yang dia sayangi terbaring lemah membuat hatinya teriris. Sudah cukup penderitaan anaknya, dari kecil Aida tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Darren harap ini adalah akhir dari kisahnya anak menderita.
"Bagaimana keadaan anak kita," ujar Darren memeluk Amira dari belakang.
"Kita tunggu dia siuman, Adrian yang sudah mendonorkan darahnya untuk Aida. Kita berjasa untuknya," seru Amira menteteskan air matanya.
"Kita punya hutang budi padanya, karena dia nyawa anak kita terselamatkan. Aku akan mendatanginya, kau tunggulah di sini, jaga kesehatan istirahatlah dulu dan tidurlah ini sudah malam," ujar Darren mengecup kening Istrinya dan berlalu pergi.
Darren sudah menghubungi polisi untuk kasus penabrakan pada Putrinya. Sekarang para polisi masih memburu para pelaku untuk mereka tangkap.
Darren sampai di mana Adrian di rawat untuk pemulihan suhu tubuhnya. Siska sudah ada di sana mengetahui Adrian ada di rumah sakit ia segera ke rumah sakit. Darren mendehem setelah apa yang dia lihat. Siska sedang menyuapi Adrian membuat mereka canggung.
"Om," ucap Adrian kikuk dan khawatir Darren akan memarahinya setelah melihat Siska ada di sana.
"Bolehkah Om bicara padamu," ucap Darren tersenyum. Siska mengerti dia pun pergi meninggalkan ruangan. Darren duduk di sebelah Adrian, ia menghembuskan nafasnya pelan sebelum berbicara, setelah itu ia menatap Adrian.
"Om jangan salah paham, wanita itu temanku namanya Siska," ujar Adrian.
"Oke baiklah, tidak masalah. Tapi ingat kau sebentar lagi akan tunangan dengan Aida, Om harap kamu harus menjaga jarak dengan wanita lain," ucap Darren menatap Adrian.
"Om hanya bisa mengucapkan terima kasih padamu. Aida sekarang sudah selamat dari maut yang menimpanya, kalau tidak ada kamu yang mendonorkan darahmu, Om tidak tahu harus bagaimana lagi," ucap Darren.
"Itu sudah kewajiban ku Om sebagai calon suaminya," sahut Adrian mantap.
"Jaga kesehatanmu, Om harus menemui Aida ke ruangannya," ujar Darren dan berlalu pergi meninggalkan Adrian.
"Ini mungkin senjata ke dua untuk mengepung mereka. Aida kecelakaan membawa berkah untuk menjalankan misi'ku hahahah. Aida kamu berhutang besar padaku," batin Adrian tersenyum kecut.
Siska masuk setelah melihat Darren pergi meninggalkannya. Ia membawa raut wajah kusut setelah mengetahui bahwa Aida'lah yang Adrian tolong untuk menyelamatkan hidupnya.
"Kenapa kamu tega membohongiku, bahwa kalian akan bertunangan," isak tangis Siska. Belum sempat Adrian bicara Siska sudah pergi meninggalkannya.
"Dasar wanita cengeng, urusan dengan Siska itu masalah gampang untukku. Sekarang aku fokus pada Aida hahhah," seru Adrian tertawa jahat.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5