
Mamih Sonya mengetahui Tama pergi ke bar yang kini sedang bersama Aida. Ia mendapat info dari anak buahnya. Mamih Sonya langsung emosi dan segera pergi untuk memberi pelajaran agar Aida tidak mendekati anaknya lagi. Sudah sekian lama Mamih Sonya lega tanpa adanya Aida di Indonesia dan sekarang Aida sudah pulang membuat hatinya resah.
"Tama, sudah berapa puluh kali Mamih memohon agar kamu melupakan wanita jal*ng ini. Sekarang kau lihat, apa ini kelakuan seorang wanita baik-baik, dia pergi ke sini hanya untuk mabuk dan mengajakmu bercumb*," pekik Mamih Sonya menatap tajam.
"Mih, stop! Jangan hina Aida seperti itu," sahut Tama membela. Tanpa menunggu lama, Mamih Sonya menyuruh anak buahnya membawa Tama pulang untuk meninggalkan Aida sendirian, Mamih Sonya segera memisahkan mereka berdua.
Plak.
"Dasar wanita jal*ng, saya peringatkan kamu yah jangan pernah menemui anakku lagi, bila suatu saat aku melihatmu bersama anakku lagi akan saya beri pelajaran padamu mengerti!" Bentak Mamih Sonya mencengkram wajah Aida dan menghempaskan-nya. Aida meringkuk di sofa, ia tertawa dan berusaha untuk bangkit.
"Nyonya, aku mencintai anakmu, I love you Kak Tama hahahah," seru Aida membuat Mamih Sonya tambah marah. Layangan tangan untuk Aida berhasil Adrian tahan dan segera menghempaskan-nya.
"Jangan pernah menyakiti wanita yang aku cintai," geram Adrian menatap tajam dengan nada bicaranya yang sangat dingin.
"Adrian, Mamih tidak mengerti kenapa kamu membela wanita jal*ng ini," pekik Mamih Sonya tidak percaya.
"Jangan pernah menghinanya lagi Tante, sekarang keluar'lah sebelum saya tambah marah," titah Adrian. Mamih Sonya pun berlalu pergi meninggalkan bar itu membawa rasa marah di benaknya.
Aida masih lemas di atas lantai sambil tertawa kecil setelah itu dia pingsan. Adrian segera menggendong Aida pergi keluar bar. Dirinya terus menatap wajah cantik Aida, jantungnya tidak bisa berhenti berdetak kencang.
"Kenapa selalu begini di saat aku menatap wajahnya," ucap Adrian tidak mengerti.
Beberapa menit sudah berlalu, mereka sampai di depan rumah mewah yang menjulang tinggi di hiasi pagar besi mewah. Ya, Adrian membawa Aida ke rumahnya. Satpam di sana segera membuka pintu gerbang, Adrian tersenyum ramah setelah itu, ia mematikan mesin mobil untuk segera membawa Aida ke dalam kamar miliknya.
Adrian langsung membuka pintu rumah di sambut hangat oleh para pelayannya. Dirinya menaiki anak tangga menuju kamar untuk membaringkan tubuh Aida. Perlahan Adrian membuka pintu, setelah itu Aida tertawa kecil, dia menahan rasa mual yang ada di dalam perutnya.
"Lepaskan aku," ucap Aida yang ingin muntah sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Kau mabuk berat," ujar Adrian kembali.
Aida tidak kuat rasa mualnya semakin bergejolak sehingga ia memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya di hadapan Adrian, tubuhnya terkurai lemah akibat mabuk berat.
"Kenapa kamu malah merepotkan aku Aida," ujar Adrian menggendong Aida yang sudah lemah. Ia segera membaringkan Aida di temoat tidur secara perlahan setelah itu Adrian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan kotoran bekas muntahan di bajunya.
Selang beberapa menit Adrian sudah kembali dari dalam kamar mandinya. Ia menghampiri Aida duduk di sebelahnya sambil mengusap lembut wajah yang sangat cantik.
"Kenapa benci ini mendadak hilang, dendamku belum terbalaskan untuk keluargamu," gumam Adrian
Aida mengerjap-rejapkan matanya, terlihat Adrian duduk di sebelahnya ia segera bangkit sambil memijit kepalanya yang masih terasa pusing.
"Aku haus," ucap Aida menyenderkan kepalanya ke divan tempat tidur.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Adrian pelan.
Adrian pun menatap lekat wajahnya, Aida memalingkan wajahnya ke arah lain. Wajah cantik itu ia tarik supaya lebih dekat dengannya, perlahan mereka saling menatap satu sama lain. Jantung keduanya membuncah tidak bisa mereka kondisikan, tidak lama, wajah Adrian mendekati dirinya ia mulai ******* bibir seksi Aida dengan begitu rakus. Setelah itu, mereka melepaskan pungutannya, Aida menatap penuh misteri pada Adrian tidak lama ia menamparnya.
Plak.
"Kenapa kau menamparku," kaget Adrian sambil memegang pipi yang terkena tamparan.
"Aku begitu menjijikan," seru Aida segera bangkit dari tempat tidur. Namun, tangannya di genggam erat oleh Adrian.
Aida merasa dirinya sangat buruk dan juga jijik, bisa-bisanya ia mabuk di depan Tama. Walaupun dirinya mabuk tapi Aida masih ingat bagaimana Mamih Sonya menghina dirinya.
"Aku terlahir dari wanita malam, kau tahu aku sudah berusaha lebih baik supaya orang-orang tidak menghinaku lagi. Tapi semua itu percuma, aku sudah di cap kotor, murahan juga perusak hubungan mereka. Kau juga boleh mengatakan aku wanita malam atau apalah itu, tapi aku masih punya hati yang terkadang bisa rapuh," isak tangis Aida.
Adrian menundukan wajahnya ia ingat sekali bertapa malunya Aida di pandang hina saat mereka satu sekolah dengannya, semua orang tahu bahwa Aida terlahir dari pelakor juga anak wanita malam. Kesedihannya sering Aida sembunyikan tapi lagi-lagi Adrian selalu memergoki Aida yang sedang menangis di perpustakaan.
"Ak-u minta maaf," ucap Adrian menundukkan wajahnya.
"Kenapa kamu meminta maaf, aku memang orang yang nakal seperti ibuku Nancy. Lihatlah ini Adrian, bekas sayatan ini masih aku ingat waktu ibuku memukul dan hampir saja membunuhku gara-gara aku ingin memanggil dia dengan sebutan Ibu. Itu saja yang aku pinta darinya, aku hampir kehilangan nyawaku kalau tidak ada yang menolongku mungkin aku sudah mati. Inilah kenapa Ibuku tidak mau aku memanggil namanya dengan panggilan ibu dari mulutku. Aku tahu sekarang karena dia wanita malam, dia tidak ingin semua orang tahu bahwa aku terlahir dari wanita jal*ng seperti yang kalian lontarkan padaku. Sekarang dia sudah tidak ada di dunia ini, aku membencinya tapi aku juga merindukan dia juga sangat menyayanginya," isak tangis Aida kembali di keheningan malam.
"Aida, lihat aku! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu tapi tolong maukah kamu memaafkan aku," pinta Adrian.
"Aku tidak mau di kasihan, terima kasih sudah membuatku terlihat baik malam ini aku akan pulang. Tolong jangan tahan aku untuk keluar dari rumahmu," pinta Aida dan segera berlari keluar meninggalkan Adrian yang masih duduk termenung.
Aida pun keluar gerbang rumah Adrian, air hujan mengguyur seluruh tubuhnya. Jiwanya benar-benar terguncang, Aida menangis sejadi-jadinya meluapkan amarahnya.
"Tuhan ajarkan aku lupa atas semua yang telah terjadi," isak tangis Aida pecah di jalan raya.
Cekit.
Suara ban mobil berhenti tepat di hadapan Aida, sorot lampu mobil itu terus menyorotinya. Dua orang pria segera membawa Aida dengan cara membiusnya. Aida terkurai pingsan mereka pun segera membawanya pergi.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.