One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Maafkan aku Tante



Aida mengerjap-rejapkan matanya ia merasa pusing di bagian kepalanya. Mamih Sonya masih duduk manis menunggu Aida sadar sambil memeluk dad*nya oleh kedua tangannya. Ia sudah sangat gatal ingin memaki Aida dengan mulut pedasnya.


"Rupanya kamu sudah sadar wanita jal*ng," seru Mamih Sonya sambil mendelik tajam. Ia melangkah menuju tempat tidur yang kini Aida tiduri. Aida tersadar dirinya tidak memakai bajunya, hanya ada Daleman saja juga dia hanya di lengkapi oleh selimut tebal.


"Apa yang telah terjadi, ke mana bajuku," pekik Aida panik.


"Diam! Kenapa kau ini berteriak seperti di hutan saja. Lihatlah dirimu kau sudah melewati masa indah dengan seorang Pria. Bahkan kedua orangtuamu sudah tahu mengenai semua ini," ujar Mamih Sonya merasa puas.


"Tidak! Kau sudah menipuku, aku tidak melakukan apapun. Aku mohon jangan pernah mengirimkan apapun kepada keluargaku," pinta Aida sambil terisak tangis.


"Sudah terlambat, kedua orangtuamu sudah melihatnya, beserta Tama anakku ketiga Adrian sudah aku kirim photo ini pada mereka hahaha," seru Mamih Sonya sambil memperlihatkan photo dirinya dengan seorang Pria tanpa busana. Hanya terhalang selimbut saja bagian depannya. Aida menangis melihatnya, hatinya remuk redam.


"Kau orangtua yang sangat jahat, tidak punya hati dan pikiran. Apa salahku padamu Nyonya," isak tangis Aida kembali sambil mengeratkan kedua tangannya merem*s selimbut tebal.


"Dengarkan saya wanita jal*ng, Nancy merebut suami saya sampai harta suami dikuras untuk berfoya-foya. Saya menderita atas apa yang telah dia lakukan kepada keluarga saya, dan sekarang kau harus menerima semua penderitaan yang dulu aku hadapi dasar anak jal*ng. Aku peringatkan kamu lagi, jangan pernah bertemu atau menggoda anakku Tama," geram Mamih Sonya mencekal kedua pipi Aida dengan sangat erat. Aida meringis kesakitan merasa tekanan dari tangan Mamih Sonya sangat kuat. Sehingga meninggakan bekas cengkramannya di pipi Aida.


Mamih Sonya pun segera menghempaskan-nya dengan sangat kasar. Wajah Aida sangat kusut pipinya merah akibat luka yang di berikan Mamih Sonya padanya. Tanpa ada belas kasihan Mamih Sonya ingin sekali mencelakai Aida lebih parah.


"Tolong maafkan Ibuku, tapi kau jangan perlakukan aku begini. Aku tidak mau orangtuaku salah paham mengenai photo itu, juga aku tidak tahu masalalu Ibuku, aku tida salah mohon maafkan Ibuku," pinta Aida berlutut di kaki Mamih Sonya.


Mamih Sonya hanya memutar bola matanya malas, ia pun mendorong tubuh Aida dengan kasar ke din-ding tembok.


"Permintaan maaf'mu saya tolak, saya ingin kau mati dari dunia ini," pekik Mamih Sonya memukul tubuh Aida yang sudah tidak berdaya.


Plakkk ... plak ...


Tamparan keras mendarat di kedua pipi Aida, Mamih Sonya menyiksanya tanpa ampun. sudut bibir Aida berdarah begitu juga hidungnya, Aida meminta maaf juga mohon ampun padanya tapi Mamih Sonya sudah tuli dia di butakan oleh amarah nafsunya. Meluapkan kekesalannya pada Nancy di masalalu pada Aida yang tidak tahu menahu hal itu.


Dirinya mencekal kuat rambut Aida sehingga Aida terus merintih kesakitan di bagian kepalanya meminta melepaskan jambakan yang di berikan Mamih Sonya. Lagi-lagi Mamih Sonya mendorong tubuh Aida sampe terjatuh ke lantai sambil berderai air mata.


"Saya tidak akan memaafkanmu, sekali pun kau bersujud di kakiku, saya menolaknya. Pergilah sejauh mungkin dan ingat jangan pernah bertemu lagi anakku Tama," tajam Mamih Sonya. Ia berlalu pergi dari kamar hotel itu meninggalkan Amira yang sudah tidak berdaya.


"Apa salahku, hidup ini tidak adil untukku, berada di dunia ini hanya penuh kebencian padaku dari orang lain, mereka hanya memberikan penderitaan saja. Kenapa mereka tidak memahamiku sekali saja mereka sadar ini bukan salahku," isak tangis Aida memeluk tubuhnya yang gemetar sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Pintu kamar hotel itu terbuka lebar, Aida kaget dan juga takut ia menangis sejadi-jadinya di pojok dekat balkon.


"Aida," pekik Adrian segera menghampirinya.


Aida masih menangis, Adrian pun segera memeluknya dengan sangat erat. Sambil menyelimuti tubuh Aida yang kini hanya memakai Daleman sambil meringkuk di pojokan. Luka lebab menunjukan bahwa Aida tidak sedang baik-baik saja.


"Pergi! Kau sudah lihat aku hanya wanita tidak bermoral. Tuduhan'mu padaku benar, aku hanya wanita yang selalu menjual harga diriku seperti Ibuku," isak tangis Aida pecah.


"Tolong jangan pernah berpikir seperti itu lagi, aku sadar bahwa aku telah menyakitimu. Kau terluka, aku akan obati lukamu," ucap Adrian terus memeluk tubuh rapuh Aida.


Adrian sangat khawatir dia tida mendengarkan apa kata Aida, walaupun Aida sudah mengusirnya dari hadapannya tapi Adrian tidak akan meninggalkan Aida yang kini butuh dirinya untuk selalu ada di sampingnya.


"Lihat aku, aku akan selalu ada untukmu kau percayalah padaku," ucap Adrian menatap penuh harap pada Aida sambil mencakup kedua tangannya di pipi Aida yang sudah basah oleh air mata.


Aida hanya bisa menangis dan menahan rasa sakit di hati juga tubuhnya. Entah bagaimana dia pulang, Darren pasti marah besar kepadanya.


"Menangis'lah," ucap Adrian kembali sambil memeluk hangat Aida dalam dekapannya. Aida menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Adrian.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.