One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Belasungkawa



Aida panik, Adrian terkena sayatan di tangannya akibat ulah anak buah Ayu. Aida pun segera menghubungi Papah-nya tapi tidak di angkat.


"Kita duduk saja dulu, mungkin Papah sibuk, kau terluka, darahmu cukup banyak!" Ujar Aida sambil mengolesi obat luka pada lengan suaminya.


Untung saja lukanya tidak terlalu serius hanya menangkis dan terkena goresan kecil tapi darahnya cukup banyak. Adrian menatap wajah istrinya, begitu beruntung dirinya mendapatkan wanita yang sangat dia cintai.


Dendam yang dulu pernah ada di hati Adrian luluh oleh cinta yang tumbuh begitu saja di hati mereka berdua.


"Terima kasih, lukanya cuma sedikit kita bisa melanjutkan lagi perjalanan kita. Tapi, kenapa anak buah Tante, Ayu tiba-tiba saja kabur saat menghadang kita berdua, apa Tante Ayu berubah pikiran?" Ucap Adrian bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Mungkin, entahlah kita sebaiknya cepat pulang hari sudah mulai gelap," ujar Aida. Mereka segera bergegas kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka ke apartemen.


Aida menerima sambungan tlp dari Darren, ia segera mengangkatnya karena takut terjadi sesuatu pada Amira.


"Hallo." ~ Aida.


"Sayang, maaf Papah tidak mengangkat tlp darimu, banyak hal yang terjadi hari ini. Apa kamu dan Adrian baik-baik saja?" ~ Darren.


"Aida baik-baik saja kok Pah, hanya saja Adrian terluka sedikit saat tadi berkelahi dengan dua orang pria suruh Tante Ayu." ~ Aida.


"Syukurlah kalau begitu, Aida sebaiknya kalian datang ke rumah sakit saja. Nanti Papah serlok alamat kalian." ~ Darren.


"Baik, Pah." ~ Aida.


Aida menghembuskan nafasnya secara perlahan, dia segera membuka pesan singkat dari Papahnya. Serlok yang di berikan Darren tidak terlalu jauh, sehingga mereka akan segera tiba di rumah sakit.


"Siapa yang sakit? Bukannya Mamah sudah pulang hari ini?" Tanya Adrian.


"Entahlah, kita harus cepat takut terjadi sesuatu pada Mamah," sahut Aida cemas.


Setelah beberapa menit mereka sampai di lokasi. Darren menjemput mereka di area parkir karena rumah sakitnya cukup besar sehingga takut mereka bingung mencarinya.


"Syukurlah kalian cepat sampai, Tante Ayu meninggal dunia," ujar Darren tanpa basa-basi.


"Tidak, apa yang Papah katakan ini hanya kebohongan?" Tanya Aida serius. Mereka cukup tercengang karena yang Darren katakan itu membuat mereka syok. Baru saja tadi siang Ayu mengancam mereka berdua, dan kabar ini sangat membuat keduanya tidak percaya.


"Innalilahi wa inailahiroji'un," ucap barengan Adrian juga Aida sambil menatap satu sama lain.


Mereka pun sampai di tempat tujuan yaitu ruang jenazah. Jasad Ayu sudah di bersihkan dan di kafani, Hendra tidak berkutik setelah peti mati berwarna putih ada di hadapannya. Ia menangis memeluk peti mati itu, walaupun Ayu menipunya di masalalu, tapi dia sangat mencintainya. Entah bagaimana anak-anaknya setelah melihat orangtuanya pulang dengan peti mati.


Terasa sesak di dalam hatinya mengingat kejadian yang tidak pernah Hendra bayangkan. Amira menghampiri Ayahnya untuk selalu menyemangati'nya.


"Ayah yang kuat, ini sudah suratan takdir Mamah Ayu. Kuatkan dan ikhlaskan, semuanya pasti akan baik-baik saja, maafkan Amira tidak bisa menyelamatkan Mamah Ayu," ucap Amira memeluk Ayahnya.


"Ini bukan salahmu sayang, untung saja media sudah meliput kasus ini sehingga tidak akan ada kesalahpahaman untuk anak Ayah," ujarnya sendu.


"Syukurlah, Ayah sebaiknya istirahat dulu, semua data dan surat-surat kematian Mamah Ayu sudah di urus oleh Darren juga Surya," ucap Amira.


Aida ikut menangis juga Clara, begitu haru di ruangan rumah sakit itu. Hendra akan segera pulang ke Indonesia, Amira juga akan ikut Ayahnya untuk menemaninya. Mungkin untuk beberapa hari Amira akan tinggal di Indonesia dan balik lagi ke luar negeri.


Aida tidak bisa ikut mereka baru saja tiba, mungkin akan berlibur sebelum Amira datang lagi ke sini.


Aida merasakan pusing, dan mual cukup membuatnya tidak bisa menahan rasa yang tiba-tiba saja ingin muntah.


"Sayang kau kenapa?" Tanya Adrian melihat ke arah istrinya yang terlihat pucat.


"Aku mual, mungkin efek masuk angin karena kita belum makan," ujarnya. Adrian segera mengantar Aida mencari kamar mandi.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.