
Darren baru saja datang, ia melihat Istrinya duduk di dampingi Ken yang kini ada sebelahnya. Hatinya tidak karuan setelah mengetahui anaknya Aida kecelakaan. Tidak dapat di bayangkan bagaimana saat ini kondisi Aida di dalam ruangan. Bertaruh nyawa seorang diri, Amira berharap Putrinya selamat dari maut yang menimpanya. Dokter datang setelah Darren sampai, ia melangkah dan segera menutup pintu ruang IGD.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Amira segera bangkit menghampiri sang Dokter.
"Kalian berdoa untuk keselamatan pasien kami, saat ini kita lagi membutuhkan darah O+. Di antara kalian ada yang sama, pasien kritis mohon untuk segera mencarinya, kebetulan di rumah sakit lagi kosong tapi kita akan berusaha mencari ke rumah sakit lain," ucap Sang Dokter.
Darren, Amira terkurai lemas mendengar apa yang di ucapkan Dokter. Hari ini mereka harus mencari golongan darah O+, Amira menangis sejadi-jadinya.
"Golongan darahnya sama persis sama Nancy, Tuhan bagaimana ini," ucap Darren mengusap wajahnya kasar. Ken juga tidak bisa mendonorkan darahnya karena berbeda dan juga golongan itu susah di cari.
"Bagaimana ini bisa terjadi, golongan darahku juga tidak cocok sama Aida. Aku akan mencari pendon*rnya," seru Amira mengusap air matanya di pelukan Darren.
"Tidak, kau sedang hamil, aku akan mencari kesemua rumah sakit dan juga ke semua teman-temanku," ujar Darren menenangkan Amira.
Di rumah.
Adrian baru saja sampai setelah dia mengantar Siska ke rumahnya. Terlihat semua pelayan di rumahnya panik, Adrian yang melihat mereka merasa kepo ia pun menegur salah satu pelayan yang ada di sana.
"Ada apa ini?" Tanya Adrian membuyarkan mereka yang sedang kebingungan.
"Nona Aida kecelakaan Tuan, sekarang dia ada di rumah sakit. Kondisinya kritis dan membutuhkan pend*nor darah, kalau tidak ada yang mendon*r hari ini entahlah bagaimana nasib Nona Aida," sahut salah satu pelayan.
Adrian tercengang, setelah di beritahu di mana Aida di rawat ia segera pergi meninggalkan rumah dan segera menaiki mobil. Ia mengusap wajahnya kasar tidak di sangka kecelakaan yang di terjadi di depan restoran ternyata benar Aida orangnya.
"Kenapa aku begitu khawatir padanya, semoga dia baik-baik saja," ucap Adrian melaju kencang mengarah ke rumah sakit tujuan.
Di rumah Tama.
"Pih, bajumu kenapa penuh noda darah?" Tanya Mamih Sonya.
"Tadi ada yang kecelakaan anak sekolah di depan restoran. Kebetulan Papih ada pertemuan dengan klien di sana, di saat Papih mau pulang anak sekolah itu tertabrak dan segeralah Papih menolongnya bersama seorang pemuda, kami membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat, Papih mau ganti baju dulu," ujar Papih Wisnu pergi berlalu.
Di rumah sakit.
Darren sudah pergi untuk mencari pendonor darah yang sama dengan Aida. Adrian datang ia melihat Amira masih menangis termasuk Ken, ia berjalan gontay menghampiri Amira yang masih meraung.
"Tante, bagaimana kondisi Aida?" Ucap lirih Adrian. Amira melirik ke arah Adrian yang kini sedang berdiri di dekatnya.
"Kondisinya kritis, suamiku lagi mencari pendon*r untuknya. Kalau dia tidak mendapatkan darah yang sama Tante tidak tahu bagaimana kedepannya," sahut Amira.
"Nyonya tenang saja, kita berdoa semoga Tuan mendapatkan pend*nor untuk Aida," ujar Ken menenangkannya.
"Golongan apa yang di butuhkan Aida?" Tanya Adrian.
"Darah O+, tapi di rumah sakit ini darahnya lagi kosong sekarang suamiku lagi mencari golongan darah itu," sahut Amira.
"Darah O+," gumam Adrian melihat ke arah pintu IGD.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5