One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Aida dan Tama



"Hei, Kak Tama," sapa Aida sambil duduk di sebelahnya. Tama tersenyum sambil celingukan kanan dan kiri ia takut ada bodyguradnya yang memata-matin dirinya.


"Terima kasih sudah datang kesini," ucap Tama menatap lekat wajah Aida. Ia segera menghadap Aida dan memegang tangannya.


"Ada apa Kak?" Tanya Aida menyelidik. Tanpa mereka sadari Adrian sedang menguping pembicaraan mereka berdua di balik pohon rindang.


"Maaf yah, semalam tlp-nya mati, mungkin mulai hari ini aku tidak akan memakai ponsel lagi," ucap lirih Tama.


"Kenapa?" Tanya Aida kembali.


"Piuhh, Mamihku melarang untuk..." sebelum melanjutkan Aida sudah mengerti dengan kediaman Tama.


"Aku mengerti kok Kak," ujar Aida tersenyum. Padahal dalam hatinya terasa teriris. Adrian hanya diam, ia terus mengawasi Aida yang tengah bercakap ria.


Bel berbunyi, mereka berpamit untuk berpisah karena lingkungan sekolah mereka berbeda. Aida pun berjalan santai menaiki anak tangga, tiba-tiba saja tangannya di genggam erat oleh Adrian. Aida segera menghempaskan dan berjalan tergesa.


"Baru mau tunangan sudah berani menggoda Pria lain," pekik Adrian. Aida segera membalikan badannya menatap kesal ke arah Adrian. Tidak banyak bicara ia pun segera lari menuju kelasnya.


"Si cunguk itu sering cari gara-gara, aku malas debat hari ini aku cape," lirih Aida duduk di bangku kelasnya. Anis hanya diam melihat tingkah laku sahabatnya itu, ia mengerti kenapa Tama mengirim surat kepadanya. Sebelum memberikan surat pada Anis, Tama sudah menjelaskan duduk perkaranya.


"Sialan, awas saja malam ini akan aku kasih dia pelajaran," geram Adrian dan segera pergi.


Di rumah sakit.


Lusi masih diam, Amira hanya duduk dan memberikan makanan untuknya. Ken sudah kembali bekerja karena ada rapat penting di kantor miliknya. Hanya Lusi dan Amira sekarang, Lusi enggan untuk berbicara karena memang semua musibah di sebebkan olehnya.


"Amira, aku minta maaf," ucap lirih Lusi menatap sendu.


"Tidak usah meminta maaf, Aida sebentar lagi akan tunangan bersama Adrian. Kamu harus percaya, Ken dan Putriku tidak ada hubungan apa-pun. Mungkin efek lagi hamil kamu sensitif, lain kali jangan ceroboh lagi," ujar Amira menasehati.


"Sekarang aku kehilangan bayiku Amira, bagaimana ini. Ken pasti marah padaku, sejak pagi dia tidak bicara sedikitpun padaku," ucap Lusi.


"Dia sibuk, mungkin untuk bicara padamu setelah hatinya tenang. Ken orang baik mana mungkin dia marah, mungkin belum rizkimu untuk mendapatkan seorang anak. Tapi Tuhan pasti menggantinya lagi," sahut Amira mengusap rambut sahabatnya.


Amira merasa pusing juga mual, ia segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua yang terasa mual di dalam perutnya. Tidak lama, ia segera duduk lagi di kursi dengan badan lemasnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Lusi khawatir melihat kondisi Amira yang pucat.


"Aku baik-baik saja Kok, mungkin ini hanya masuk angin saja," ucap Amira memijit keningnya.


Darren bersama Ken datang, Lusi tersenyum dan segera di peluk oleh Ken. Darren pun dan Amira pamit pulang, karena waktu sudah menunjukan pukul dua siang.


Tiba-tiba saja Amira merasa mual kembali, ia segera menuju kamar mandi, Darren sangat khawatir sehingga ia segera menyusul.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Darren. Amira merasa lemas dan jatuh pingsan. Tidak lama, Darren segera menggendongnya menuju ruang rawat untuk memeriksa kondisi Istrinya.


Ada rasa cemas di hatinya, melihat kondisi Amira yang sangat pucat juga lemas membuatnya khawatir. Dokter pun selesai memeriksanya dan tersenyum ke arah Darren.


"Setelah dia sadar, kita lakukan tespek. Aku yakin dia sedang hamil muda," seru Dokter.


Darren berbinar mendengar berita yang sangat menyenangkan ini. Ia segera menghambur peluk Istrinya dan mencium seluruh wajahnya.


"Kamu hamil sayang," seru Darren memegang tangan Amira.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.