
Pagi sekali Aida sudah bangun mengingat ia harus menggantikan Amira untuk menyiapkan sarapan pagi. Ia segera bangun membenarkan selimbut tebal yang masih menggulung di tubuhnya, Aida segera membangunkan Adrian untuk subuh berjamaah.
"Sayang bangun, ini sudah jam lima pagi," ucapnya sambil menggoyangkan tubuhn suaminya.
"Hmmm ...sebentar lagi, aku masih ngantuk, lima menit lagi yah," pintanya sambil memejamkan matanya.
"Baiklah, aku akan membersihkan tubuhku dulu, aku akan siapkan air hangat untukmu," sahutnya. Setelah itu Aida membenarkan kembali rambutnya, ia kucir kuda. Tiba-tiba tangannya di tarik oleh Adrian, tubuh Aida terjatuh ke dalam dekapan suaminya.
"Ishh, ini sudah pagi," gerutu Aida. Tapi tidak di hiraukan oleh Adrian, ia terus memeluk erat istrinya kedalam dekapannya.
"Aku mau kau kiss dulu,"pinta Adrian.
Mau tidak mau, Aida menc*um kedua pipi suaminya. Tapi bukan itu yang di minta Adrian, ia meminta cium"an mesra dari keduanya, ia segera melahap habis bibir ranum istrinya. Dan terjadilah sarapan pagi dengan cium*an yang mereka lakukan. Setelah lima menit berlalu, Aida segera beranjak untuk pergi ke kamar mandi.
Adrian terkekeh, ia segera mengambil ponsel, untuk menghubungi semua pelayan yang sudah siap siaga di pulau B.
Dua jam telah berlalu, Darren sudah duduk menyantap roti juga susu yang telah di sediakan anaknya Aida begitu juga Adrian.
Darren terasa teriris ia sangat kangen kepada istrinya. Setiap pagi Amira yang selalu menyiapkan keperluannya dan sekarang Amira ada di negara orang lagi berjuang.
"Aida, kalian pergi jam berapa, Papah langsung berangkat. Sebelum itu Papah akan pergi ke rumah Clara terlebih dahulu," ucapnya sambil mengambil roti yang ia olesi selai coklat.
"Jam sepulu kita berangkat, Papah hati-hati di jalan, kalau sudah sampai kasih tahu Aida," serunya. Aida duduk sambil mengambil susunya, Adrian hanya bisa tersenyum, ia terus melihat ke arah istrinya yang begitu cantik.
"Kalian habiskan sarapannya, Papah berangkat dulu, koper Papah sudah pak Tarjo ambil ke bagasi. Kalian bersenang-senanglah berbulan madu ya tidak perlu memikirkan hal yang lain," ucapnya.
Aida juga Adrian segera bangkit untuk mengantarkan Darren ke pintu utama. Pelukan hangat untuk Papahnya Aida berikan, ia memeluknya begitu erat.
"Semoga cobaan ini segera selesai dan kita bisa berkumpul bersama," ucap Aida meneteskan Aida mata.
"Iya sayang, Papah harap juga begitu, kalian bisa ke sana setelah Mamah bisa kalian jenguk," serunya ia mencium pipi juga kening Aida.
Darren pun brangkat masuk ke dalam mobil, ia menerima notif pesan dari Dokter Wiliam. Terlihat jelas wanita paruh baya memakai kacamata hitam untuk menutupi wajahnya agar tidak terlihat jelas.
"Rekaman cctv ini begitu jelas, dia sangat pintar menutupi wajahnya agar tidak ketahuan. Siapa wanita paruh baya ini, apa dia seseorang yang akan mencelakai istriku. Ini tidak akan aku biarkan, sebelum dia berbuat jauh aku akan segera menemukan wanita ini. Siapa saja yang ingin menghancurkan hidup istriku berarti dia adalah musuh terbesarku. Terima kasih Wiliam, rumah sakitmu sangat bagus sehingga tidak bisa ada orang memaksa menerobos masuk sembarangan. Lihat saja apa yang akan aku lakukan di sana setelah tahu wanita itu mengincar istriku," ujar Darren sambil terus melihat rekaman Vidio cctv dari Dokter Wiliam.
Di luar negri.
Amira sudah di tangani oleh Dokter Marcel, dari semalam Amira mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Mereka sudah memeriksa dan memberikan yang terbaik, walaupun terlihat lemah Amira berusaha membuat para suster tidak terlalu khawatir tentangnya.
Selang oksigen terpasang di kedua lubang hidungnya juga infusan di tangan kanan. Amira terbaring lemah, ia terus mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit walaupun belum terlihat jelas.
"Suster, apa suamiku menghubungiku?" Tanya Amira.
"Ada Nyonya, tadi saat Anda tertidur pulas," sahutnya sambil memberikan ponsel milik Amira.
"Terima kasih Sus," ucap Amira yang di angguki oleh suster.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR
LIKE
VOTE
KOMEN
HADIAH
RANTING 5