
Amira duduk di sofa sambil menunggu Darren keluar kamar Aida. Terlihat Darren sudah keluar dan berjalan ke arahnya, Amira tersenyum Darren pun ikut duduk di samping Istrinya.
"Bagaimana sekarang kondisi Putri kita?" Tanya Amira.
"Semoga saja Adrian bisa menjaganya, umurku semakin tua," ucap Darren menatap kepada Istrinya.
"Walaupun kau sudah tua tapi, wajahmu masih sangat tampan dan awet muda," seru Amira mencubit pipi kanan suaminya.
"Kau ini bisa saja, terima kasih sudah sampai tahap ini kamu masih menemaniku," ujar Darren memeluk erat istrinya menci*um hangat keninganya.
Amira merasa pusing juga mual, ia menutup mulut dan segera berlari ke kamar mandi. Darren sedikit heran kenapa istrinya mendadak lari, ia pun segera mengikutinya untuk memastikan Amira baik-baik saja. Tidak ada suara di dalam kamar mandi, hanya gemericik air dari kran, Darren melangkah lebih maju ke dalam kamar mandi dan betapa kagetnya dia melihat Amira tergeletak pingsan dengan darah dari hidungnya.
"Sayang."
Darren segera menggendongnya keluar dan segera pergi meninggalkan apartemen. Adrian yang melihat syok darah bercucuran di lantai, entah apa yang terjadi pada mereka. Ia segera ke kamar untuk memberitahukan kepada Aida. Tapi, langkahnya terhenti, sebelum dia tahu kondisi calon mertuanya Adrian tidak akan menceritakan semuanya kepada Aida. Mengingat kondisi Aida masih sangat lemah.
"Kau kenapa terlihat panik?" Tanya Aida. Begitu melihat Adrian masuk ke dalam kamar.
"Tidak, aku tadi melihat kecoa, oh iya. Om sama Tante sudah pulang, mereka mendadak pulang karena ada tamu datang ku rumahnya," sahut Adrian mencari alasan.
"Tidak masalah, apa aku bisa meminta tolong padamu?" Tanya Aida dengan ragu dia harus menyuruh calon suaminya.
"Apa sayang," seru Adrian duduk di sebelah Aida.
"Aku ingin pip*s," bisik Aida pelan menahan rasa malu. Adrian terkekeh dan segera mendekatkan wajahnya pada Aida.
"Wajahmu lucu dan menggemaskan," ucap Adrian membuat Aida salting setengah mati. Pipinya merah merona menahan rasa malu.
Aida hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Adrian tertawa dan segera mengangkat tubuh Aida untuk mengantarnya ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Aida segera menutup pintunya secara tergesa. Ia sangat malu meminta Adrian untuk membantunya berjalan tapi Adrian malah menggendongnya. Dirinya belum bisa berjalan dengan tegap karena badannya masih terasa lemas. Aida menggerutuki dirinya di kamar mandi karena sangat malu.
Aida terus memandang lekat calon suaminya, dia berharap cintanya tidak salah dan Adrian bisa menjaganya dengan baik. Mengingat Masalalu mereka bermasalah karena dendam kesalahpahaman. Tapi kebencian di antara mereka mulai memudar seiring berjalannya waktu.
"Kau terus memandangiku, percayalah aku sangat tampan, kau beruntung mempunyai calon suami sepertiku," seru Adrian menggoda Aida.
"Kau sangat pede sekali," timpal Aida terkekeh.
Perlahan tubuhnya dia baringkan di tempat tidur, Adrian mengusap lembut kepalanya dan juga menci*m keningnya dengan sangat lembut. Tiba-tiba pintu apartemen ada yang mengetuk, Adrian berdiri untuk segera membuka pintu.
"Tunggulah di sini," ucap Adrian lembut. Aida hanya bisa mengangguk dan tersenyum kepadanya.
Langkahnya sedikit berlari, dia khawatir Darren datang dan mengabarkan kondisi Amira. Langsung kedepan, perlahan pintu terbuka dan ...
Bugh ...
Pukulan dari seseorang mengenai wajah Adrian sehingga tubuhnya tersungkur ke lantai.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.