
Makan siang telah berlalu. Seperti biasa, Anis mengemudikan mobilnya sendiri tanpa Tama, tapi untuk hari ini, Anis ingin Tama mengantarkan dirinya ke rumah. Mengingat Tatapan Tama pada Aida berbeda, Anis tidak ingin Tama berpaling darinya walaupun mereka tidak pernah ngedate berdua. Anis selalu sabar menghadapi Tama yang selalu berbohong kepada kedua orangtuanya. Setiap kali mereka di suruh makan siang atau makan malam berdua Tama tidak mau, bahkan sampe Anis menangis di kamarnya. Sipat Tama yang dingin membuat Anis sedih, ia tahu bahwa cinta tidak bisa di paksa begitu juga Tama belum bisa mencintai Anis yang di jodohkan oleh orangtua mereka. Maka Anis harus sabar dengan perasaannya sampai Tama jatuh cinta padanya.
"Kak, aku ingin kamu mengantarku ke rumah, Mamah tadi kirim pesan suruh menyicipi kue bolu buatannya," ujar Anis berbohong. Tapi untuk alasan kue bole memang benar Mamahnya sedang membuatnya. Sehingga Tama tidak bisa menolak keinginan orangtua Anis.
"Tapi."
"Kak, sekali saja, kasian Mamah," bujuk Anis melipatkan kedua tangannya. Tama pun tersenyum dan terpaksa menuruti keinginan Anis.
"Aku duluan yah, selamat tinggal sampai jumpa besok di party," seru Aida melambaikan tangannya sambil tersenyum dan berlalu pergi.
Adrian yang melihat mereka dari mobil miliknya tersenyum penuh kepuasan. Rencana Tama untuk mengikuti Aida gagal total, mungkin di lain waktu Tama akan mengajak berbicara berdua tanpa orang lain mengetahuinya.
Di perjalanan, dirinya masih memikirkan pertemuannya dengan Tama. Semakin tampan juga cool, Aida segera menepis pikirannya itu, ia tidak ingin menyakiti perasaan Anis sahabatnya sendiri dengan menghancurkan perasaannya.
"Aku tahu, Anis kamu sangat mencintai Kak Tama," ucap Aida merasa sangat kecewa.
Mobilnya sudah terparkir di depan mall besar yang ada di Jakarta. Ia keluar dari mobil menghembuskan nafasnya berat, Aida ingin menghilangkan rasa kecewa di hatinya dan akan mengubur dalam-dalam semua perasaan untuk Tama.
Di saat ia melangkah ke gedung besar tinggi itu, tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh seseorang dan membawanya ke parkiran mobil. Aida melihat Adrian yang menariknya dan segera menghempaskan tangannya.
"Kau."
"Dengar, kemana pun kamu pergi, aku akan terus mengawasimu," bisik Adrian. Tubuh Aida di senderkan di din-ding mobil, wajah Aida ia palingkan ke arah lain agar mereka tidak saling menatap. Tapi Adrian segera mengambil pandangan itu dengan cara menarik wajah Aida supaya mereka bertatapan.
"Besok malam kau harus berangkat denganku, kalau kamu menolak aku akan berbuat sesuatu untukmu," bisik Adrian kembali.
"Kau Pria menyebalkan, kamu tahu sendiri, aku tidak menyukaimu. Lebih baik hubungan kita akhiri saja, aku sudah muak sama kamu, ingat Adrian aku akan mencari pasangan hidupku yang benar-benar mencintaiku," seru Aida tersenyum kecut.
"Tidak! Kau harus menikah denganku Aida, kau lupa bahwa kau sudah berhutang Budi padaku," geram Adrian masih menatap lekat wanita yang ada di hadapannya.
"Aku tidak lupa Adrian, nanti akan aku cari golongan darah yang sama persis denganmu sehingga aku akan membalikan darahmu yang sudah kau berikan padaku," seru Aida tersenyum kecut lagi sambil melipatkan tangannya di dada.
Adrian mengepal geram, sejak Aida pulang dari luar negri semuanya berubah. Mulai dari tampilan juga prilakunya, Adrian tidak akan pernah lengah untuk hal ini, dia akan terus mengejar Aida sampai Adrian dapatkan.
"Lepaskan aku, jangan kau halangiku untuk masuk ke dalam," geram Aida.
"Masuk ke dalam mall, atau kau masuk ke dalam celana dalamku," goda Adrian mencolek dagunya.
"Dasar Pria mesum," pekik Aida menginjak kakinya dan berlalu pergi dari hadapan Adrian.
Aida langsung berlari memasuki Mall, Adrian merintih kesakitan akibat injakan kaki yang Aida berikan kepadanya begitu sakit.
Di dalam mall.
Aida terus ngedumel mengingat kejadian beberapa menit lalu bersama Adrian. Tidak di sangka terlihat Ken lagi duduk menunggu Lusi memilih baju, Aida tersenyum senang ia segera menghampirinya. Ken belum tau Aida sudah pulang dari luar negri maka dari itu, kesempatan Aida datang di hadapannya adalah sebuah kejutan untuk Ken.
"Om Ken," pekik Aida melambaikan tangannya. Ken segera melirik ke arah sumber suara ia langsung sumringah setelah melihat siapa yang menyapanya.
"Aida."
Lusiana yang melihat reaksi suaminya, di saat ia sedang memilih baju bergegas menghampirinya. Rasa cemburu Lusi masih ada untuk Aida walaupun sudah beberapa tahun lamanya.
"Kenapa anak itu muncul lagi di hadapan suamiku," kesal Lusi segera menghampiri mereka berdua.
"Om, apa kabar, kejutan Aida sudah pulang," seru Aida memeluk Ken. Baginya Ken sudah dia anggap sebagai Kakak laki-lakinya, tapi rasa cinta Lusi begitu besar pada Ken sehingga ia cemburu dengan keakraban mereka berdua. sudah Amira jelaskan pada Lusi bahwa Ken tidak punya perasaan pada Putri-nya. Namun tidak di hiraukan oleh Lusi.
"Hei, Aida dengan siapa kamu ke sini," ujar Lusi segera merebut suaminya yang sedang berpelukan dengan Aida.
"Tante," seru Aida memeluk Lusi juga.
"Dia bersamaku Tante," ujar Adrian dari arah belakang Aida. Ken tersenyum dengan adanya Adrian Lusi tidak akan cemburu lagi padanya.
"Syukurlah, untung saja kamu sudah punya pasangan kalau tidak, kau pasti menggoda suamiku Aida," kesal Lusi. Aida hanya bisa diam mencerna ucapan Lusi kepadanya.
"Kau ini apa-apaan sih Lus, ingat Aida itu sudah aku anggap adik sendiri. Kita sepakat tidak akan membahas hal yang tidak-tidak lagi," kesal Ken berlalu pergi meninggalkan Lusi.
"Sayang," pekik Lusi meninggalkan Aida juga Adrian.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.