
Di dalam mobil.
Amira sudah berangkat bersama Darren ke rumah sakit untuk menengok Lusiana. Aida hanya bisa diam sambil gigit jari, ia pun segera turun karena sudah sampai di sekolah tujuannya.
"Terima kasih Pak," ucap Amira tersenyum dan menutup segera pintu mobil. Pria itu masih memperhatikan Aida setelah itu ia pun pergi berlalu.
"Ida," pekik Anis. Namun, tidak di gubris oleh Aida, ia tetap berjalan lurus sampai membentur pintu gerbang.
"Aduh."
Anis hanya bisa tertawa terbahak melihat sahabatnya kejedot pagar besi sekolah, Aida hanya mengusap-usap keningnya.
"Karma tuh, aku sahutin, kamu nyelonong saja," ujar Anis sambil menyiku lengan Aida.
"Aduh maaf banget, sumpah aku gak denger lho," seru Aida melipat kedua tangannya. Anis hanya terkekeh dan segera memberikan secarik kertas yang sudah di lipat rapih berwarna pink muda.
"Ini untukmu," ujar Anis memberikan surat. Aida hanya bisa bengong melihat surat berwarna pink muda itu.
"Dari siapa?" Tanya Aida sedikit penasaran sambil membulak-balikan kertas berbentuk hati.
"Buka saja nanti di kelas," sahut Anis tersenyum. Adrian yang menatap Aida menerima secarik kertas berbentuk hati itu segera mengepal geram. Entah rasa cemburu atau rasa benci yang ada di benak Adrian saat ini.
Mereka pun segera masuk kelas sebelum bel berbunyi. Aida hanya memikirkan nasib setelah dia bertunangan dengan Adrian, ia segera membuat perjanjian paska tunangan agar tidak bisa di tindas oleh Adrian.
Di dalam kelas.
"Itu pasti surat cinta, hari gini masih kirim surat! Emang Kak Tama gak ngasih nomor ponsel kamu?" Tanya Anis. Sebelum Aida menjawab, guru kelas sudah berada di ambang pintu.
Bel Istirahat.
"Sayang, aku harap kamu tidak lupa kesepakatan kita," bisi Siska pada Adrian.
"Oke baiklah, aku pun ingin segera mencicipi tubuh indahmu," sahut Adrian mengec*p bib*r seksi Siska. Lagi-lagi mereka asyik berc*mbu ria dan di pergoki oleh Aida.
"Apa kalian tidak punya tahu malu," pekik Aida di ambang pintu sambil memeluk dad* kedua tangannya. Senyuman sinis tanda ejekan terukir dari raut wajah Aida. Siska segera merapihkan pakaian seragamnya dan segera menghampiri Aida.
"Jangan pernah berteriak untukku!" Kecam Siska menujuk ke arah wajah Aida. Adrian hanya bersandar di tembok din-ding sambil melihat santai ke arah dua wanita yang tengah bertengkar.
"Hallo, namaku Aida, aku calon tunangan Pria breng*k yang kamu cumb*i," ujar Aida mengulurkan tangannya. Namun di tepis oleh Siska dan menatap marah ke arah Adrian. Ia pun segera meninggalkan kamar mandi, Aida merasa puas karena telah menggagalkan aksi mereka.
"Aku ingatkan kamu, jangan pernah anggap aku calon tunanganmu di sekolah, atau kau akan merasakan akibatnya," geram Adrian menghampiri Aida yang tengah mencerna ucapannya. Sebelum Adrian keluar, Aida sudah berteriak menatap sinis.
"Apakah kamu lupa! Atau kau hanya pura-pura hilang ingatan," sahut Aida santai berjalan ke arah Adrian.
"Apa maksudmu?" Tanya Adrian membalikan tubuhnya ke arah belakang menatap kesal.
"Kamu yang meminta aku untuk menjadi tunanganmu, kau juga yang minta untuk tinggal di rumahku," Aida tersenyum puas dan segera meninggalkan Adrian yang tengah berdiri karena lupa akan hal itu.
"Sial!" ujar Adrian mem*kul tembok.
Aida pun segera menghampiri Tama yang tengah menunggunya di taman sesuai isi surat yang ia berikan kepadanya.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5