One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Kecemasan Ayu



Amira di bawa ke apartemen milik Ayu, di sana Amira di tidurkan di kamar kedua. Ayu membelai wajah Amira dengan sedikit kasar, dia mengingat wajah Amira sangat mirip dengan ibunya saat masih remaja. Semakin kesal dan ingin segera melenyapkannya, Ayu duduk sambil menyalakan satu batang rokok. Kebiasaan saat remajanya masih saja ada hanya saja suaminya tidak pernah mengetahui sipat asli istri keduanya itu.


"Amira, tidak akan ada orang yang akan menemukanmu sampai apartemenku, ini di luar negeri bukan di Indonesia. Kau tahu, aku sangat membenci ibumu, dia selalu di nomor satu'kan apapun itu termasuk menikahi suamiku. Aku tidak rela kau hidup bahagia bersama ibumu," ujarnya menyunggingkan senyumannya sambil mengeluarkan asap rokok dari hidung dan mulutnya.


Tidak lama ponselnya berdering, suaminya yang bernama Hendra menghubungi-nya bahwa dirinya sudah ada di bandara untuk segera datang ke apartemen miliknya.


"Iya sayang." ~ Ayu.


"Aku akan segera sampai, kau ada di aparteman'kan?" ~ Hendra.


"Aahhhh, Iya. Akan aku persiapkan makanan kesukaanmu, aku sangat merindukanmu." ~ Ayu.


"Aku juga sangat merindukanmu, sudah dulu aku akan segera masuk ke dalam mobil. Sampai bertemu di sana." ~ Hendra.


Ayu segera mematikan rokoknya dan menyemprot ruangan kamar keduanya. Dia akan mengunci rapat-rapat dan meringkus Amira supaya tidak ketahuan bahwa anaknya ada di sana.


"Sialan, kenapa dia ke sini! Ini sangat aneh bisa-bisa rencanaku gagal total di buatnya. Hendra kenapa kau ke sini, aku sangat membenci situasi seperti ini. Memasak masakanmu menyediakan semua keperluannya ini sangat cape aku kerjakan," gerutu Ayu sambil menutup mulut Amira memakai lakban juga mengikat tangan juga kakinya.


Ayu segera bergegas memasak kesukaan suaminya walaupun dalam hati dia sangat membenci masak di dapur tapi untuk saat ini dia harus berkorban demi tujuannya tercapai.


Setengah jam telah berlalu, Ayu sudah menyiapkan semua hidangan enak untuk Hendra. Dia segera membersihkan diri karena cukup berkeringat di sekujur tubuhnya.


Bunyi bel apartemen, Ayu segera membukanya, Hendra telah tiba. Mereka pun berpelukan untuk melepaskan rasa rindu yang ada di antara mereka berdua.


"Sayang, kau lama sekali?" Tanya Ayu manja bergelayut di tangan suaminya.


"Tadi ban mobil bocor sehingga agak telat sedikit, aku mau istirahat sebentar," ujarnya sambil duduk di atas sofa menghilangkan rasa lelah di tubuhnya. Ayu merasa was-was dia terus melihat ke arah kamar kedua. Ayu takut suaminya membuka kamar itu dan rencananya pasti akan terbongkar.


Knop pintu ia pegang, begitu jedar-jedor hati dan pikiran Ayu. Hendra terus mencoba membukanya dan mencari kunci kamar.


"Sayangi kamar kita yang ini, kau lupa bahwa kamar itu belum ketemu kuncinya," ucap Ayu mencoba menghalangi.


****


Darren telah menemukan alamat apartemen yang Ayu tempati. Surya, Clara pun sudah tidak sabar dengan keadaan Amira, mereka takut terjadi hal yang tidak-tidak mengenai Amira. Mengingat ayu akan membunuhnya.


"Apartemen ini lumayan jauh dari lokasi kita, sebisa mungkin kita tidak boleh membiarkan Amira terluka sedikit pun oleh perempuan jahat itu. Kalau terjadi luka pada tubuh istriku, tidak akan aku segan-segan mematahkan lehernya," geram Darren mencoba menahan semua amarahnya.


"Sabar, Kak. Semoga saja Tante Ayu tidak berbuat nekad pada Amira. Sungguh sangat di sayangkan kalau tahu kelakuan istrinya, Om Hendra pasti sangat murka padanya," ujar Clara mencoba menenangkan Kakaknya.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.