
Kerlap-kerlip lampu pesta menandakan malam ini sangat ramai di penuhi para alumni. Suara musik berdengung di telinga Aida juga Adrian, malam yang sangat indah. Aida merasa sangat senang seketika beban pikirannya hilang begitu saja. Teman yang dulu sering mojokin Aida sekarang mereka terpesona melihat Aida begitu cantik, mereka pun segera menyapa Aida juga Adrian, terlihat Siska sedang memperhatikan Adrian dengan pandangan yang sangat penuh hasrat. Dia menghampirinya langsung Siska tidak memikirkan Aida yang sekarang ada di sampingnya.
"Hon, kau sudah lupakan aku," bisik Siska. Aida hanya bisa memutar bola matanya malas melihat Siska si genit tidak tahu diri.
"Adrian, aku pergi ke kamar mandi dulu," pamit Aida karena ia merasa muak melihat Siska mendekati Adrian. Dirinya tidak berhak marah atau pun menjambak rambut atas sikap Siska. Baginya ia tidak mau mencari keributan Aida akan menikmati pestanya untuk menghilangkan beban pikiran-nya dan bukan untuk menambah beban masalah baru.
"Heeh wanita murahan, kalau kamu mau pergi, sana pergi tidak perlu kamu ijin pada Adrianku," seru Siska bergelayut manja di tangan Adrian.
Adrian merasa risih ia menghempaskan tangan-nya dari genggaman Siska
"Dengar yah, aku ke sini hanya untuk menghadiri pesta ini, bukan untuk berdebat sama kamu. Oh iya, silahkan kalian habiskan malam ini berdua aku tidak keberatan," ujar Aida berlalu pergi.
Adrian tercengang mendengar perkataan Aida. Baginya ia harus terus menyakinkan cintanya untuk Aida malam ini. Tapi dia harus segera mengurus Siska agar dia tidak mengganggunya lagi. Adrian segera menyeret Siska ke tempat sepi.
Aida sudah selesai membenarkan gaunnya di kamar mandi. Tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh seseorang ke ruangan yang tidak akan ada orang lain melewatinya.
"Siapa kamu," pekik Aida.
"Aku Tama," sahut Tama di telinga Aida.
Aida terkejut, dia mencoba melepaskan genggaman tangannya. Lampu ruangan itu mati, jadi cuma ada sedikit cahaya yang masuk ke dalam. Tama segera memeluk erat Aida, kesempatan untuk memeluk Aida sudah tercapai. Dia berhasil menemukan Aida setelah ia melihat Aida masuk ke dalam kamar mandi sendirian.
"Aida aku sangat kangen kamu," seru Tama.
"Kak, ini tidak benar. Kau sudah punya Anis, aku tidak mau menghancurkan persahabatan'ku dengan Anis hanya gara-gara kita," ucap lirih Aida.
"Kak," belum juga melanjutkan ucapannya Tama sudah menyambar Aida dengan cium*nanya. Aida memberontak tapi tidak bisa, Tama terus menci*minya juga memeluknya sangat erat. Dan akhirnya Aida terbuai oleh cumb*n yang di berikan Tama kepadanya.
Beberapa menit kemudian, nafas mereka terengah pipi Aida mendadak merah merona. Tama sangat senang malam ini dia berhasil memiliki Aida.
"Aku mencintaimu, aku mohon kau jangan pergi dari hidupku," ucap Tama memandang kelat wajah Aida.
"Kak, ini salah! Banyak hati yang akan kita lukai. Kakak sudah punya Anis, dia sangat baik aku yakin kalian bisa saling mencintai," seru Aida melepaskan genggaman tangan Tama dan berlalu pergi.
Tama hanya bisa melihat kepergian Aida dari matanya. Ia menuju tembok, malam ini dia bisa mendapatkan ci*man Aida tapi ini belum cukup bagi Tama dia ingin lebih dari ini. Tama pun menyeringai memikirkan sesuatu, setelah itu Tama pergi.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
VOTE
LIKE
KOMEN
HADIAH
RANTING 5.