
Darren menerima tlp dari Amira, sejak dari tadi Darren menghubungi Amira tapi tidak kunjung tersambung. Adrian duduk di sebelah mertuanya, ia hanya bisa mendengarkan percakapannya. Sambil menegug teh manis buatan istrinya Adrian melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul satu malam. Padahal besok siang ia harus akan pergi ke pulau yang ada di kota B.
Rencana untuk berlibur keluar negeri batal, Aida meminta ke luar kota saja jadi mereka memutuskan untuk ke kota B. Terlihat Darren seperti cemas setelah menerima tlp dari istrinya.
"Siapa orang itu sayang, rumah sakit Wiliam memang ketat, dia tahu keluarga kita. Untung saja mereka tidak percaya siapa yang mengunjungimu. Pokoknya tidak ada orang lain selain keluarga kita sayang, kau harus di jaga ketat di sana." ~ Darren.
"Kau tidak perlu mencemaskan aku di sini, perawat yang menjagaku sangat baik juga pengertian. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu, walaupun kita bertemu masih sangat lama. Sebaiknya kau istirahat saja aku akan meminum obat supaya bisa beristirahat." ~ Amira.
"Hmm .... oke I love you sayang, semoga cepat sembuh." ~ Darren.
"I love you to." ~ Amira.
Sambungan tlp itu pun mati, Darren tampak gesar, ia menghembuskan nafasnya berat. Adrian tampak penasaran apa yang terjadi di sana.
"Ada apa Pah? Apa Mamah baik-baik saja?" Tanya Adrian menatap intens.
"Begini, untuk masalah ini Aida tidak perlu tahu, ada seseorang yang ingin bertemu istriku di sana. Padahal kita tidak pernah bicara kepada orang lain, hanya kita yang tahu. Tapi siapa orang itu," ucap Darren menatap ke arah depan dengan penuh kecemasan.
Berangkat ke sana besok pagi membuat Darren mantap untuk bisa melindungi Amira. Darren akan mendatangi rumah sakit walaupun belum bisa bertemu istrinya, tapi seenggaknya dia tahu siapa orang yang kemarin ingin bertemu istrinya dan mengaku sebagai keluarganya.
"Sebaiknya kita tidur, mengingat besok kita akan pergi," titah Darren. Adrian pun pamit untuk pergi ke kamarnya. Tidak lama Darren juga beranjak menuju kamar.
Adrian membuka kamar, ia melihat koper sudah berjejer dua dekat meja rias. Ia tersenyum, istrinya sudah mempersiapkan semuanya untuk besok brangkat, terlihat Aida sudah memakai selimbut mata terpejam. Adrian pun segera menutup pintu dan berjalan ke arah tempat tidur.
"Aku tahu kau belum tidur," bisik Adrian membuat Aida tersenyum tapi enggan untuk membuka mata.
"Hmm .... sayang sekali, padahal aku akan memberimu kejutan," seru Adrian memeluk hangat tubuh istrinya dari arah belakang.
"Ha... ha... ha... aku mau tidur ini sudah malam ngantuk banget," sahut Adrian mengerjai Aida.
"Kau jail sekali, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu," seru Aida.
Tidak lama, Aida menggelitik perut suaminya, mereka pun bercanda ria sampai akhirnya tertidur pulas. Jam menunjukkan pukul dua dini hari, Adrian mencium kepala istrinya dan segera memeluknya.
"Mimpi indah sayang," ucapnya sambil memejamkan mata.
****
Darren belum bisa memejamkan matanya, ia masih memikirkan siapa orang itu. Ada rasa takut istrinya di celakai orang, Darren akan segera menghubungi Dokter Wiliam untuk meminta rekaman cctv yang ada di rumah sakitnya.
"Orang itu pasti punya niat terselubung, kalaupun keluarga siapa dia. Clara, Surya ahhh tidak mungkin, mereka belum tahu mengenai hal ini. Besok aku akan pergi ke rumah Surya sebelum brangkat, dia sangat lihai, dia juga orang kepercayaanku," ujar Darren dia pun beranjak ke tempat tidur, matanya ia pejamkan mengingat jam sudah pukul setengah tiga pagi.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.