One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Siapa pria itu?



Mamih Sonya tercengang yang dia tembak bukanlah Aida melainkan Adrian. Dia melihat pria bertopi juga jaket hitam, dia menodongkan senjata ke arah Mamih Sonya. Adrian segera berbalik badan dan segera pergi dari lokasi kejadian bersama pria misterius membawa Aida.


Aida hanya bisa diam tidak bisa berkata-kata lagi karena ia tidak tahu siapa pria misterius itu. Tangan Adrian terluka akibat tembakan yang terjadi, darah segar itu mengalir deras dari tangan kanannya. Aida tersadar suaminya terluka.


Di saat dirinya mau masuk ke dalam mobil, orang itu sudah menghilang entah kemana. Aida tidak terlalu memikirkan hal itu, ia segera membawa suaminya ke rumah sakit karena banyak mengeluarkan darah dari tangannya.


"Sayang, bertahan kita akan segera tiba di rumah sakit," ucap Aida menenangkan Adrian yang menahan sakit di bagian tangannya.


Sementara di rumah Tama, polisi datang dan segera menangkap Mamih Sonya. Dia berteriak dan mengaku tidak bersalah, polisi pun sangat sulit untuk membujuk Mamih Sonya.


"Dengar, anakku belum mati, yang tadi menyelamatkan anak sialan itu Tama ya anakku Tama," seru Mamih Sonya.


"Maaf Nyonya, Anda saya tahan dulu untuk di mintai keterangan. Karena Anda telah membuat kerusuhan dengan membawa senjata api," ujar Pak polisi.


"Baik, saya akan mengikuti saran kalian, tapi ingat saya tidak bersalah. Karena senjata api ini hanya untuk melindungi aku dari wanita jahat itu," ucapnya sambil menyodorkan tangannya untuk di borgol.


"Tama anakku, aku yakin itu kamu sayang," batin Mamih Sonya.


Di rumah sakit luar negeri.


Amira merasa tidak enak hati, ia terus memikirkan kedua anaknya Adrian juga Aida. Hatinya gelisah tidak menentu, dia segera menghubungi Aida tapi ponselnya tidak di angkat.


"Sayang, apa Aida dan Adrian baik-baik saja di sana. Perasaanku tidak enak?" Tanya Amira memegang tangan suaminya.


"Mereka lagi ke rumah temannya, karena kabar duka menyelimuti keluarga Tama. Jadi hari ini mungkin mereka sibuk di rumah duka," ucap Darren.


Amira pun menepis hal yang tidak ia inginkan, berharap Aida di lindungi dari segala marbahaya.


Di rumah sakit Jakarta.


"Siapa pria itu, bagaimana orang itu bisa menyelamatkan kami dari amukan Mamah Sonya," batin Aida duduk tidak tenang menunggu Adrian di dalam ruangan bersama Dokter Wiliam.


"Luka'mu cukup parah, saya harap kau tidak boleh banyak mengerakan dulu tangan'mu" ujar Dokter Wiliam.


"Untung tidak mengenai istriku, kalau misal peluru ini menempel di tubuhnya. Aku tidak akan memaafkan wanita paruh baya itu," seru Adrian.


"Kau sangat mencintai istrimu, jaga dia saya harap kalian bisa menyelesaikan urusan ini. Dan siapa orang yang tega melukai wanita secantik dan sebaik Aida?" Tanya Dokter Wiliam merasa kepo.


"Itu hanya salah paham, kita akan menyelesaikan kasus ini. Tapi mungkin dia lebih banyak uang dan bisa bebas dari hukum," ujar Adrian.


Dokter Wiliam pun telah selesai menangani luka pada Adrian. Dia pun duduk dan mencatat resep obat, Adrian juga tidak bisa pulang karena banyak darah yang keluar sehingga dia perlu istirahat di rumah sakit sambil kondisi tubuhnya vit kembali.


Aida pun melirik ke arah sumber suara yang terjadi benda jatuh di dekatnya. Dia melihat pria yang menyelamatkannya ada di rumah sakit yang sama menabrak suster yang membawa brangkar obat.


"Orang, itu. Hei tunggu," pekik Aida tapi pria itu sudah berlari jauh menyadari Aida melihat dirinya.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.