One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Tanda merah



Adrian pergi dari apartemen membawa luka hati juga yang cukup dalam. Melihat Aida yang begitu kusut membuat hatinya sangat teriris, ia akan pergi menemui Amira juga Darren. Hatinya sudah mantap untuk menikahi Aida, dendamnya begitu saja terhapus oleh rasa cinta yang amat dalam untuk Aida. Sudah cukup dirinya akan melindungi Aida dari orang yang berniat jahat. Dua anak buah Adrian sedang menyelidiki kasus obat perangsang yang di campurkan oleh pelayan.


Mobilnya terhenti setelah ia berada di gerbang rumah Darren. Dengan membawa hati yang sudah klop, Adrian akan memastikan bahwa cintanya untuk Aida sangat besar. Dia juga akan membuktikan kepada Aida bahwa dirinya sudah benar-benar berubah.


***


Di apartemen.


Wajah kusut Aida keluar dari kamar mandi, ia melihat sekilas tanda merah itu penuh di setiap leher jenjangnya. Begitu sedih Amira, apa yang di katakan Mamih Sonya padanya memang benar, dia bukan wanita baik-baik. Air mata menetes di pelupuk matanya, Aida mengusap kasar. Rasa sakit di tubuhnya membuat Aida lelah dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Bel apartemen berbunyi, Aida segera bangkit dan mengambil switer dalam lemari untuk menutupi bercak di sekujur tubuhnya.


Perlahan ia melangkah dengan pelan, pintu apartemen dia buka dan terdapat Mamih Sonya. Belum juga di suruh masuk dia sudah melabrak masuk tanpa sopan santun.


"Ada apa Tante?" Tanya Aida serak.


"Owwh, sudah aku kira. Kamu bukan wanita suci, stop mendekati anakku Tama lagi wanita jal*ng. Sudah aku peringatkan kamu agar menjauhinya. Tapi apa yang kamu lakukan hah, beraninya kamu berdansa dengan anakku, wanita jal*ng seperti kamu tidak berhak mendapatkan kebahagiaan," terang Mamih Sonya mendelik tajam.


"Yang Tante katakan itu benar, aku wanita murahan juga tidak bisa menjaga kehoramatanku. Ini pasti ulahmu Tante menaburkan obat di dalam minumanku bahwa Tante ingin sekali aku terlihat buruk di depan orang lain. Sudah cukup puas bahwa aku memang tidak perawan dan suci lagi. Anda hebat sudah berani menjebakku dalam rencanamu sendiri," tunjuk Aida.


"Syukurlah kalau kamus sudah tahu, jadi mulai detik ini kau jangan pernah menampakkan lagi wajahmu di hadapan anakku," ancam Mamih Sonya dan berlalu pergi.


Aida merasa kesal karena ini ulah Mamih Sonya, ia segera melempar vas bunga dan terkena punggungnya.


Bugh..


"Aww."


Mamih Sonya segera membalikan tubuhnya melihat ke arah Aida yang kini berdiri di hadapannya.


"Luka itu tidak lebih parah lukaku Tante, kau sudah merusak masa depanku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu Tante," ancam Aida. Mamih Sonya sangat geram, ia ingin sekali melangkah maju untuk mencakar wajah Aida. Tiba-tina di depan pintu sudah ada Amira menahan amarahnya pada Mamih Sonya. Ia segera mendekatinya, orangtua mana yang tega melihat penderitaan anaknya yang tidak pernah dia lakukan.


"Owh, jadi Anda Nyonya yang sudah berani merusak masa depan Putriku!" kecam Amira mendelik.


"Yang merusak kehidupan Putrimu Pria yang ada di sebelahmu. Juga aku tidak punya urusan denganmu menyingkirlah," tepis Mamih Sonya.


"Dengarkan aku baik-baik, kesalahan di masalalu orangtua Putriku jangan kau bawa-bawa ke masa depan. Sudah jelas kau yang merusak nama bersih Putriku juga kamu Nyonya yang sudah menjebak Aida agar dia meminum obat perangsang yang bisa merusak anakku. Sekali lagi bukan Putriku yang tidak baik tapi Anda yang tidak baik. Satu lagi, wanita mana yang tega merusak wanita lain hanya demi dendam masalalu dan menyeret orang yang tidak bersalah. Pergilah atau kau akan menyesal," kesal Amira menahan amarahnya. Aida hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang telah di katakan Mamih Sonya.


"Kau boleh menuduhku, tapi jangan menghina orangtuaku. Ibuku bukan pelakor! Saya tegaskan, jika memang Anda manusia normal mungkin Anda tidak akan pernah menghina sesama manusia lagi," kecam Amira sambil mendorong tubuh Mamih Sonya ke luar dan segera menutup pintu.


"Sayang, sudah jangan menangis, Mamah di sini untukmu," ucap Amira lembut memeluk Aida.


Dua jam telah berlalu.


Di rumah Mamih Sonya sangat kesal atas apa yang di ucapkan Amira padanya membuat dirinya marah. Pintu rumah berbunyi, Mamih Sonya segera melangkah untuk membukakan pintu rumahnya. Anis datang membawa luka di hatinya, tekadnya sudah bulat Anis sudah ambil keputusan.


"Sayang, silahkan duduk," manis Mamih Sonya.


"Tante, maafkan Anis, mungkin selama delapan tahun trakhir ini, aku belum bisa merubah rasa cinta Kak Tama untukku. Aku hanya mau mengembalikan cin-cin ini untuk Kak Tama," ujar Anis memberikan cin-cin tunangannya bersama Tama.


Mamih Sonya sangat terkejut, dia tidak bisa percaya Anis mundur. Dan mengembalikan cin-cin dari anaknya, Mamih Sonya tercengang.


"Saya pamit pulang dulu Tante," pamit Anis.


"Ta-pi."


Anis sudah berlalu meninggalkan cintanya, ia menangis sejadi-jadinya atas apa yang telah terjadi sama Tama setelah kejadian pesta dansa semalam.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.