
Di dalam kamar Darren melihat Amira duduk diam. Terlihat wajah cantiknya murung dan meneteskan air mata, Darren tahu apa yang di pikirkan istrinya saat ini.
"Sayang," bisik Darren mendengus ke leher jenjang milik Amira.
"Apa," sahut Amira mengusap air matanya.
"Aku tahu, kau sedang memikirkan masa lalu kita. Dengarkan aku sayang! Lihatlah dan tatap aku yang ada di depanmu. Aku menerima'mu apa adanya, aku mencintaimu, jangan pernah berkecil hati. Suatu saat kau akan merasakan hamil muda lagi, aku tidak mau orang yang sangat aku cintai menangis begini," jelas Darren memeluk hangat Istrinya .
Delapan tahun sudah Amira menantikan buah hati mereka ada lagi di rahimnya. Tapi apa! Sampai saat ini Amira belum di karuniai seorang anak lagi, dirinya merasa gagal sebagai seorang wanita yang sempurna untuk suaminya
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku belum bisa memberikan keturunan untukmu. Untuk masa depan kita, apa kamu masih mau bertahan denganku? Maafkan aku, belum bisa membahagiakan keluarga kita. Sudah beberapa kali aku mencoba terapi ini dan itu hasilnya nihil, aku takut kamu meninggalkan aku sendirian. Aku sudah tidak punya siapa-siaoa lagi di dunia ini," isak tangis Amira di dalam pelukan suaminya.
"Jangan bicara seperti itu, ingat aku akan selalu ada untukmu. Tidak ada yang kamu cemaskan aku menerimamu dengan segala kekuranganmu. Aku tidak mau melihat Istriku menangis begini lagi, ingat kita punya Aida anak kita sudah besar. Kau sudah menjadi orangtua yang baik untuk anak kita, bila Tuhan sudah berkehendak suatu saat nanti kau akan hamil kembali," terang Darren mengusap air mata yang mengalir deras dari pelupuk mata Istrinya.
Mereka pun berpelukan satu sama lain. Sungguh dirinya beruntung telah mendapatkan seorang suami yang sangat amat pengerian padanya, walaupun dulu suaminya pernah kasar dan tidak menganggapnya sebagai istrinya. Tapi sekarang berbalik, cintanya sudah sangat besar untuk Amira. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua lagi kecuali ajal yang akan memisahkannya.
"Malam ini kita lembur kau sudah siap," seru Darren segera ******* bibir seksi Istrinya. Malam ini akan menjadi malam panjang untuk mereka berdua. Bela*an tangan suaminya menelusuri setiap inci tubuh indahnya. Keringat mulai membasahi tubuh mereka, permainan panas berpacu indah di keheningan malam. Erangan itu mulai kembali bersuara dari bibir manisnya, sensasi malam ini berbeda dari biasanya. Kedua saling menikmati setiap sentuhan juga hujaman yang mereka buat. Keduanya terkurai lemah di atas tempat tidur setelah pelepasan untuk kedua kalinya.
"Aku sangat lelah," ucap Amira. Mereka berdua pun tertidur dengan tubuh di tutupi selimbut tebal. Amira terlihat sangat kelelahan, Darren membuka selimut itu dan mengecup sambil mengelus perut rata Istrinya berharap mereka di karuniai janin yang tumbuh sehat di rahimnya lagi.
***
Pagi telah tiba, seperti biasa Amira sudah bangun duluan dan segera menyiapkan sarapan untuk anak juga suaminya. Hari ini Aida berniat ingin bertemu Anis sahabatnya di restoran dekat kampus yang akan Aida tempati.
"Sayang kenapa kamu buru-buru sekali," pekik Amira melihat Aida menuruni anak tangga sambil berlari.
"Aida mau sarapan roti bakar, uumhh wanginya. Terima kasih Mah, sudah menyiapkan sarapan untuk Aida," seru Aida.
"Mah, apaan tuh kok di leher ada merah-merah sih," dengan polosnya Aida pura-pura tidak tahu. Amira lupa bahwa semalam mereka sudah bermain dan tidak menutup bekas hisapan suaminya.
"Ahhh, ini di sengatan tawon," jawab Amira asal.
Aida hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Tidak lama Darren datang menghampiri mereka berdua yang sedang bercanda ria di meja makan. Amira sudah siap menyiapakan roti bakar juga susu coklat kesukaan suaminya.
"Waahh ini nih, tawonnya sudah datang," seru Aida sambil menutup mulutnya keceplosan.
"Tawon, mana tawonnya? Di rumah kita ada tawon?" Tanya Darren melihat ke ke sekeliling ruangan.
"Tawon kasur Pah," pekik Aida kembali sambil menahan tawa. Amira hanya bisa tersenyum kikuk. Darren semakin tidak mengerti apa yang di ucapkan Putrinya.
Tidak lama ponsel Aida kembali berdering, Anis menghubungi Aida untuk memberitahukan tempat yang cocok yang akan mereka kunjungi. Aida tidak tahu Anis membawa Tama ke restoran yang mereka tuju, entah bagaimana mana reaksi keduanya setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.