One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Kedatangan Aida



Aida berjalan gontay ke arah mobil sambil memegang kotak cin-cin yang di berikan Tama untuknya. Adrian hanya bisa duduk diam sambil memperhatikan Istrinya kembali ke dalam mobil. Aida membuka pintu mobil dan segera masuk, lalu menutup pintunya kembali.


"Sayang apa yang dia katakan?" Tanya Adrian penasaran.


"Dia hanya memberikan cin-cin padaku saja," ucap Aida memperlihatkan cin-cinya. Adrian mengambil kotak itu dan segera membukanya.


"Cin-cin yang sangat bagus, pakailah di jari manismu," titah Adrian.


"Kau tidak cemburu?" Tanyanya.


"Untuk apa cemburu, kamu istriku hanya memakai cin-cin saja, tidak akan membuatku cemburu. Tama juga sudah menyadari semuanya, mudah-mudahan dia di berikan orang yang tepat untuk masa depannya," seru Adrian memakai'kan cin-cin di tangan yang satunya lagi. Aida hanya bisa tersenyum suaminya sangat perhatian padanya, padahal Adia takut Adrian marah tapi dia lebih dewasa tidak seperti yang dirinya pikirkan.


"Terima kasih, semoga saja dia bisa balikan sama Anis," ucap Aida.


"Memangnya mereka putus?" Tanya lagi Adrian.


"Hmmm ... mereka putus, Kak Tama juga mau pergi ke luar negri mungkin untuk menghibur hatinya," ucapnya. Adrian hanya mengangguk setelah itu ia melajukan mobilnya membawa Aida ke rumah kedua orangtuanya.


Mereka berinisiatip untuk menginap selama tiga hari di rumah Darren. Mengingat Amira akan pergi jauh ke luar negri, meninggalkan mereka.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di depan rumah orangtuanya. Aida segera membuka pintu mobil dan langsung berlari menuju pintu utama.


Amira berada di dalam kamar terkejut mendengar teriakan Aida yang terus memanggil namanya dari lantai bawah. Aida sengaja memberikan kejutan kedatangannya untuk kedua orangtuanya. Adrian membawa koper di bantu oleh sang asisten rumah mereka.


"Sayang," pekik Amira.


"Mah, kejutan," seru Aida menaiki anak tangga. Mereka pun berpelukan satu sama lain, Darren keluar kamar melihat anak juga Istrinya sedang melepas rasa kangen membuatnya sangat bahagia.


"Kenapa tidak memberitahu dulu kalau kalian mau datang!" Ucapnya sambil terus memeluk.


"Kalau aku sama Adrian memberitahu Mamah artinya bukan kejutan dong Mah," seru Aida.


Darren datang begitu juga Adrian, mereka menuruni anak tangga untuk berbincang di ruang tengah. Tidak lupa juga suguhan makanan sudah di siapkan oleh asistennya.


"Mah, apakah di luar negerinya akan lama?" Tanya Aida cemberut merasa tidak rela harus di tinggal pergi.


Adrian Darren pergi ke taman belakang, mereka berbincang seperti halnya pria. Darren berdiam diri, sebenarnya ia tidak sanggup ditinggal pergi istrinya. Ia ingin merawat sampai istrinya sembuh, tapi dengan situasi seperti ini dirinya juga tidak bisa mencegahnya.


"Pah, bagaimana kondisi Mamah saat ini?" Tanya Adrian duduk sambil menatap. Darren menghembuskan nafasnya pelan sebelum ia berbicara.


"Untuk saat ini kondisinya lemah kau lihat sekali dia sangat pucat. Papah tahu, dia ingin terlihat tegar di setiap semua orang tapi aku tahu dia sangat rapuh. Dengan perawatan di luar sana Papah yakin dia akan sembuh seperti penyakit yang dulu dia alami.


"Percayalah, mamah pasti kuat, Aida sangat cemas memikirkan Mamahnya. Setelah sembuh Aida pasti senang bisa berkumpul kembali," seru Adrian.


"Itu yang kita inginkan, terima kasih sudah menerima dan menjaga putriku," ucap Darren menepuk pundak mantunya. Mereka pun melanjutkan untuk menegug kopi hitam andalan mereka.


****


Di tempat lain.


Ayu sudah mengetahui Amira sakit, Mamih Sonya hanya bisa tertawa senang mengetahui semuanya. Kesempatan untuk menghancurkannya lebih gampang dari yang mereka duga, Amira akan pergi ke luar negeri itu artinya mereka juga akan menyusul ke sana.


"Ini lebih gampang dari yang kita kira, aku akan urus Amira terlebih dahulu ketimbang Aida seru Ayu.


"Hmm .... tidak akan ada orang mencegah kita, aku sudah tidak sabar dia mati menyusul ibunya. Aku baru tahu bahwa ibu Amira mati di Jakarta, syukurlah aku sangat senang," ucap sinis Ayu.


"Manusia seperti mereka memang harus kita lenyapkan dari muka bumi ini haa haa haa." Mereka tertawa senang.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.