One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Ancaman



Ayu mendekati Amira yang sedang menangis, meratapi nasibnya di masalalu sungguh di luar dugaan. Amira teringat nasib ibunya yang telah tiada di dunia ini lagi. Sungguh menyesal Amira tidak mencari tahu kebenaran yang selama ini ibunya sembunyikan.


Ayu mendekati Amira, dia menjambak rambutnya dan mengusapkan pisau itu ke wajah cantik Amira.


"Kau sangat cantik, persis ibumu di masalalu tapi sayang aku tidak menyukai wajah ibumu juga kamu Amira," bisik Ayu mejambak kuat rambutnya.


"Tidak, tolong lepaskan Tante, sungguh Amira kesakitan," pintanya tapi tidak di hiraukan oleh Ayu. Dia menampar Amira sampai terluka pelipis bibirnya. Amira sudah memohon agar tidak menyakitinya lagi tapi Ayu membabi buta dia tidak puas kalau untuk menamparnya saja.


"Dengarkan Amira, kau masuk ke dalam hidup saya berarti kau menanam racun untuk hidupmu sendiri. Tidak ada yang akan menolongmu kecuali kau sendiri, aku sangat muak melihat wajahmu," desis tajam Ayu.


"Tante, tolong lepaskan aku," isak tangis Amira.


Ikatan tangan juga kaki Amira, Ayu lepaskan. Tapi setelah di lepas Amira dia tendang sehingga jatuh ke bawah lantai. Dia menjambak rambut juga mencengkram wajah Amira dengan sangat kasar, misi untuk membunuh Amira sudah di titik'nya. Kesempatan ini tidak akan di buang olehnya. Di saat ia akan menusuk Amira dengan sembilan pisau di tangannya yang lumayan cukup tajam. Dering ponsel berbunyi dari saku celananya, Amira menghembuskan nafasnya panjang karena kalau tidak ada yang menghubungi Ayu, entah bagaiman nasibnya.


"Hmm."


"Bos, Aida dan Adrian sudah mengetahui misi kita, mereka akan segera ke apartemen untuk membocorkan rahasiamu kepada Hendra." Pria suruhan.


"Apa! Siapa yang memberitahu semuanya kepada mereka?" ~ Ayu.


"Ini ulah Sonya, dia sudah berada di dalam penjara dan tidak akan bisa keluar lagi. Dia memberitahukan akan hal itu karena rencananya gagal dia juga akan menggagalkan rencanamu." Pria suruhan.


"Brengs*k, dia tidak tahu siapa aku, sialan dasar jal*ng menusukku dari belakang. Cegah dua orang sialan itu supaya mereka tidak bisa datang ke sini. Kalau bisa habisi mereka semua." ~ Ayu.


Sambungan tlp putus, Ayu melirik ke arah Amira yang masih duduk di pojokan karena belum bisa berdiri. Wajahnya kusut, kepala sakit juga pipinya merah akibat Ayu menyiksanya.


"Anak tiri juga menantumu sudah berani mau menghancurkan rencanaku. Mereka harus mati karena telah berani mencampuri urusanku," pekiknya menatap tajam kepada Amira.


"Apa maksudmu, Aida sama Adrian? Tolong jangan lukai mereka, sekali lagi kau boleh marah dan benci padaku tapi kau jangan sakiti mereka berdua," pinta Amira menangkupkan kedua tangannya supaya Ayu berubah pikiran.


"Amira, kau harusnya mati bersama penyakitmu itu. Di dunia itu kau tidak pantas, aku membencimu anak sialan," ujarnya semakin mendekat.


Tubuh Amira bergetar hebat, dia berusaha untuk berdiri agar bisa melawan Ayu. Tangannya mencengkram kuat gorden apartemen supaya ada tenaga untuk berdiri tegap. Ayu tersenyum sinis, dia semakin menakutkan, Amira menangis berdoa supaya hidupnya selamat dari maut yang ada di depannya.


Bugh ...


Amira berhasil berdiri dan mencoba menendang perut Ayu sehingga tubuhnya terkapar ke lantai.


"Kau berani sekali," geram Ayu. Dia berdiri sambil memegang kuat pisaunya, ia berjalan mendekati Amira.


Dan ....


Sleepp


Tusukan pisau itu mengenai perut, darah segar mengalir dari perutnya.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5