
Sore telah tiba, Adrian menggandeng lengan istrinya menelusuri pantai yang sangat indah. Tidak ada orang di pulau itu sehingga mereka bebas melakukan apapun di sana.
"Senja di sore hari, seindah wajahmu. Mungkin aku akan membenci diriku sendiri karena telah membencimu sebelumnya. Entah bagaimana kalau aku tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi," ujar Adrian berdiam diri memegang kedua tangan istrinya menatap penuh cinta.
"Tuhan telah mentakdirkan cinta kita berdua, aku sangat bahagia di miliki pria sepertimu dan kau juga telah berubah dari sebelumnya. Mencintai masa depanmu dan bukan membenci masalalumu," ucap Aida penuh keyakinan.
Adrian pun langsung memeluk erat tubuh istrinya, mereka pun menikmati deburan ombak yang ada di depan mata mereka. Hari mulai gelap keduanya beranjak dari pantai, Aida di gendong oleh Adrian menuju villa rumah yang tidak jauh dari pantai. Sinar bulan menerangi pulau mereka berdua menandakan bahwa cinta mereka telah sempurna.
"Kita mandi bareng," bisik Adrian.
Aida mengangguk tanda setuju, mereka pun segera masuk dan menuju kamar mandi. Bathub sudah terisi air juga taburan bunga, wangi aroma terapi membuat siapapun akan rilek. Tapi untuk saat ini, mereka menikmati mandi dengan penuh cumbu rayu dari keduanya.
Adrian memberikan tanda merah di leher istrinya. Ia menciumi setiap inci tubuh istrinya yang kini tanpa menggunakan apapun. Aida mengeluarkan suara indah yang di sukai oleh suaminya. Mereka mulai melakukan hubungan suami istri, tanpa ada yang mengganggu sunyi sepi hanya deburan ombaklah saksi mereka berdua yang ada di pulau itu.
Berbagai gaya sudah mereka lakukan di bawah shower yang mengalir juga di dalam bathub. Dua jam telah berlalu, mereka akhirnya selesai melakukan ritme ke satu.
Malam telah berlalu, mereka kini menikmati malam yang sangat panjang dengan membakar ikan yang sudah di sediakan oleh para pelayan sebelumnya. Mereka pun membakarnya, api menyala menghangatkan tubuh mereka berdua.
"Apa kau suka, aku tidak akan melepaskanmu sedetik pun," bisik Adrian.
"Aku tidak akan puas, sebelum bertempur kita makan ikan bakar buatanmu dulu, biar aku yang menyuapimu," ucap Adrian mereka pun berjalan menuju meja yang sudah ada minuman juga makanan di atasnya.
"Siapa yang menyiapkan ini semua?" Tanya Aida duduk di pangkuan suaminya.
"Hmm ... sebelum mereka pergi dari pulau ini, aku menyuruhnya untuk menyiapkan segala sesuatu yang aku inginkan. Dan ada beberapa asisten yang aku panggil tadi untuk segera menyiapkannya, kalau tugas mereka selesai mereka akan pulang kembali," ucap Adrian sambil memeluk tubuh istrinya di pangkuannya.
Akhirnya makan malam berlangsung di pinggir pantai. Mereka saling menyuapi, ikan bakar yang sangat lezat membuat keduanya makan banyak.
****
Mamih Sonya lagi-lagi gagal untuk menghancurkan momen Aida juga Adrian. Ayu dan Mamih Sonya menjalankan misinya masing-masing untuk menghancurkan keduanya. Dendam masalalu yang belum pernah mereka perbuat harus mereka tanggung di masa kini. Untuk saat ini penjagaan Aida sangat ketat sehingga tidak akan ada yang bisa mencelakainya.
"Malam ini aku gagal untuk menyusul ke pulau mereka. Tapi untuk besok aku akan melakukannya lagi, tidak ada kata gagal dalam kamusku untuk menghancurkannya. Aida kau tidak boleh bahagia, anakku Tama kau buat dia hidup tertekan, gara-gara cinta yang kau berikan kepada anakku juga Ibumu yang telah merebut cintaku di masalalu, semua itu gara-gara kamu Aida. Aku yang harus membayarnya sampai aku puas melihatmu mati," geram Mamih Sonya menatap photo Aida yang ada tangannya.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR