
Amira tampak diam, ia benar-benar bingung untuk membalas pesan singkat yang di kirim oleh Ayu kepadanya. Darren datang bersama Surya, ia melihat wajah istrinya tampak memikirkan sesuatu.
"Sayang, kenapa kamu melamun?" Tanya Darren duduk di sebelah samping Amira dan memegang tangannya dengan lembut, lalu menci*mnya.
"Tidak, aku hanya heran, apa kau menghubungi Mamah Ayu bahwa aku ada di sini untuk berobat?" Tanya balik Amira besar. Ia tidak mau sampai ayahnya tahu bahwa dirinya sakit keras dan malah membuat panik orangtuanya.
Andai Amira tahu bahwa Ayu itu adalah bibi-nya sendiri yang merebut semua harta juga suami Ibunya. Ayu gelap mata, demi harta juga cinta butanya sampai rela merebut kebahagiaan keluarga-nya sendiri.
Berawal dari Ibu Amira seorang wanita yang baik, pintar juga sopan. Membuat anggota keluarga sangat sayang kepadanya, berbalik pada Ayu, wanita yang mudah marah selalu di kucilkan akibat sipatnya yang tidak baik. Setelah tahu Ibu Amira menikah dengan pengusaha kaya raya, di pikirannya terbesit ingin mengambil semua yang di miliki Ibu Amira. Ayu berhasil merebut suaminya juga mengusir Ibu Amira dari keluarga besar, dia memfitnah bahwa Amira bukanlah anak dari suaminya. Sampai saat ini keluarga besarnya belum tahu hal itu, kecuali suaminya setelah Darren bertemu dengannya dan melakukan tes DNA. Terbukti bahwa anaknya yang dulu usir dengan istrinya adalah anak kandungnya sendiri.
Hidup berdua di kampung orang, membuat Ibu Amira bertambah kuat, hingga sampai akhir hayat Ibunya, Amira belum di beritahu masalalu kelam. Ibu Amira ingin hidup tenang tanpa di ganggu oleh siapapun. Walaupun hidup mereka pas-pasan tapi bagi Ibu Amira adalah kenikmatan yang Tuhan beri.
"Maksud kamu, Mamah Ayu tahu kamu ada di sini? Aku tidak pernah memberitahu hal ini kepada Ayahmu," ujar Darren menatap lekat wajah istrinya.
"Aku tidak mau, Ayah khawatir tentang keadaanku. Bahkan dia belum bisa menerima Ibu sudah meninggal tanpa mereka bertemu kembali," ucap lirih Amira.
"Jangan biarkan Tante ayu datang ke sini," ujar Surya membuat Amira heran.
"Kenapa tidak boleh? Dia ada di sini lebih baik aku jujur saja bahwa aku sakit kepada Ayah," sahut Amira. Surya juga Darren hanya bisa diam, mereka takut terjadi salah paham. Akhirnya mereka berpikir bagaimana caranya Amira tidak mengundang Ayu ke rumah sakit untuk menjenguknya. Tentu saja itu hanya akal-akalan Ayu untuk bertemu dan menjalankan misinya.
****
Adrian tampak gesar setelah Amira mempertanyakan siapa pria yang menolong mereka. Sangat mustahil kalau Adrian tidak mengaku soal pria yang menolongnya.
"Tapi aku tadi melihat dia ada di rumah sakit ini juga. Tentunya dia pasti mengikuti kita sampai sini, aku memanggilnya setelah dia melihatku dia segera pergi," ujar Aida tampak bingung dan penasaran.
"Jangan terlalu di pikirkan, sebaiknya kita istirahat saja, beberapa hari lagi ke pergi menjenguk Mamah ke luar negeri," sahutnya mengusap wajahnya dengan lembut.
"Apa kamu baik-baik saja dengan tangan terluka begini?" Tanya Aida melihat ke arah lukanya.
Adrian terkekeh melihat wajah khawatir istrinya. Adrian tidak mau Aida tahu sesuatu, karena akan membuat semuanya kacau, dia akan lebih hati-hati lagi supaya apa yang di rencananya tidak berantakan.
"Maafkan aku sayang, ini demi kebaikanmu," batin Adrian sambil menatap penuh arti.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.